10 Jarak dan Ujian
Euforia B-FEST sudah berakhir. Sampah-sampah bekas festival sudah dibersihkan, panggung sudah dibongkar, dan realita pahit kembali menghantam siswa kelas 12 STM Bhirawa.
Musim Ujian.
Bagi Galang Mahendra, ini adalah neraka dunia. Bukan karena dia bodoh—otaknya lumayan encer sebenarnya—tapi karena tuntutan Bapaknya.
"Nilai rata-rata minimal 8,5. Lulus masuk PTN Teknik Industri. Dan mulai magang di kantor pusat setiap Sabtu," titah Pak Mahendra dingin di meja makan. "Kalau meleset, motor, mobil, dan segala fasilitas Papa tarik. Kamu jadi kuli panggul aja di pasar."
Ancaman itu nyata. Galang tahu bapaknya nggak pernah main-main.
Akibatnya, Galang menghilang.
Sudah dua minggu ini, Pajero hitam tidak terlihat di gerbang sekolah pagi-pagi. Galang berangkat subuh diantar sopir pribadi (karena dia harus baca buku di jalan), pulang sore langsung diculik ke tempat bimbel premium sampai jam 9 malam, lalu lanjut ngerjain tugas perusahaan sampai tengah malam.
Ilan... lost contact.
Di bengkel sekolah, suasana terasa sepi dan hampa. Padahal suara mesin gerinda dan ketukan palu masih sama berisiknya, tapi bagi Ilan, dunia terasa hening.
"Lan, kunci pas 14 mana?" tanya Bowo.
"Hah? Oh... ini," Ilan menyerahkan kunci dengan gerakan lambat, matanya kosong menatap pintu bengkel, berharap ada sosok tinggi tegap yang masuk sambil teriak "Woy, ada yang kangen gue gak?".
Tapi pintu itu tetap tertutup.
Efek kesedihan Ilan berdampak fatal pada ekosistem sekitarnya.
Biasanya, bengkel itu cerah. Tapi akhir-akhir ini, entah kenapa awan mendung kecil seolah selalu menggantung tepat di atas kepala Ilan (secara harfiah).
Tanaman lidah mertua di pot pojok bengkel layu, daunnya menunduk lesu.
Kucing-kucing liar yang biasanya lincah main kejar-kejaran, sekarang cuma tiduran lemas di lantai sambil menghela napas panjang (Meooong... hufft...). Bahkan kecoa pun enggan lewat.
"Lan, lo sakit?" tanya Jojo yang mampir ke kelas 11 pas istirahat. Jojo juga kelihatan stres mau ujian, tapi nggak separah Galang.
"Enggak, Bang. Cuma... ngantuk," bohong Ilan. Dia mengelus kepala kucing di pangkuannya yang juga ikutan badmood. "Bang Galang... gimana kabarnya? Chat gue cuma dibales stiker jempol doang."
Jojo menghela napas prihatin. "Bos Galang lagi dikurung, Lan. HP-nya disita Bapaknya pas jam belajar. Dia cuma boleh pegang HP pas boker. Makanya balesnya singkat."
Ilan mengangguk pelan. "Oh... gitu. Yaudah, bilangin semangat ya, Bang."
Ilan berusaha tersenyum, tapi senyumnya nggak nyampe ke mata. Di luar jendela, bunga sepatu yang sedang mekar tiba-tiba kelopaknya rontok satu per satu saat Ilan menatapnya.
Pluk. Pluk. Pluk.
Semesta ikut patah hati.
***
Minggu ketiga tanpa Galang.
Ilan sedang duduk sendirian di halte depan sekolah menunggu angkot. Hujan gerimis turun rintik-rintik, menambah suasana melankolis.
Dia kangen. Banget.
Dia kangen suara berisik Galang. Kangen bau parfum mahalnya. Kangen omelan Galang kalau Ilan lupa makan. Kangen rasa aman saat Galang ada di sampingnya. Ilan baru sadar, selama beberapa bulan ini, Galang sudah jadi bagian rutinitasnya. Galang itu kayak oli mesin; tanpa dia, hidup Ilan seret, berkarat, dan panas.
"Meong..."
Seekor anak kucing basah kuyup menggigil di bawah bangku halte. Ilan mengangkatnya, menaruhnya di dalam jaket varsity milik Galang yang masih dia pakai (jaket ini belum dicuci biar wanginya nggak ilang—iya, Ilan se-bucin itu).
"Sabar ya, Pus. Angkotnya lama," bisik Ilan.
Tiba-tiba, sebuah motor matic kurir paket berhenti di depan halte. Si kurir celingukan.
"Mas! Atas nama Bumi Ilalang?"
Ilan kaget. "Saya, Mas."
"Paket, Mas. Instant delivery."
Ilan menerima bungkusan kertas coklat itu. Tidak ada nama pengirimnya. Tapi begitu dia buka, isinya:
Sebotol susu coklat dingin kesukaan Ilan.
Dua kaleng makanan kucing basah (Wet food) premium.
Secarik kertas sticky note kuning dengan tulisan tangan ceker ayam yang sangat Ilan kenal.
Isi suratnya:
> "Jangan cemberut. Nanti manisnya ilang. Kucing lo kasih makan yang mahal, jangan kasih tulang ikan asin mulu. Tunggu gue. 3 hari lagi gue bebas. - G"
Ilan membaca surat singkat itu berulang-ulang. Senyum perlahan merekah di bibirnya. Awan mendung di atas kepalanya perlahan bubar. Hujan gerimis berhenti seketika, digantikan sinar matahari sore yang hangat menerobos awan.
Anak kucing di dalam jaketnya tiba-tiba berhenti menggigil dan mulai purring (mendengkur) keras.
"Dia nggak lupa, Pus," bisik Ilan pada kucing itu, matanya berkaca-kaca bahagia. "Dia masih inget kita."
Ternyata, Galang yang lagi dipenjara bimbel pun masih sempet-sempetnya mikirin Ilan lewat jasa kurir.
***
Hari terakhir Ujian Nasional. Jam 14.00.
Bel panjang berbunyi. Tanda kebebasan bagi kelas 12. Sorak sorai meledak di seluruh penjuru sekolah. Seragam dicoret-coret (tradisi yang dilarang tapi tetep jalan). Konvoi motor disiapkan.
Tapi Galang tidak ikut konvoi.
Begitu keluar dari ruang ujian, Galang langsung lari. Lari sekencang-kencangnya menuju satu tempat. Bukan ke warung, bukan ke markas, tapi ke Bengkel.
Napasnya memburu, dasinya sudah miring, kancing seragamnya lepas satu. Dia nggak peduli. Dia butuh ‘oksigen’-nya. Dia butuh Ilan.
Galang mendobrak pintu bengkel. BRAK!
Di dalam, Ilan sedang mengikir besi. Kaget, kikirnya jatuh.
Mereka bertatapan.
Galang terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah lelah, rambut acak-acakan. Ilan juga terlihat lebih kurus.
"Bang Galang..."
Tanpa babibu, Galang berjalan cepat, menerjang Ilan, dan langsung memeluknya erat-erat. Erat banget sampai Ilan susah napas. Galang membenamkan wajahnya di ceruk leher Ilan, menghirup aroma oli dan sabun bayi yang jadi ciri khas cowok itu.
"Sumpah," gumam Galang di leher Ilan, suaranya teredam. "Gue mau gila. Gue lebih rela disuruh tawuran lawan satu batalyon daripada harus ngerjain soal Matematika tanpa liat muka lo seminggu."
Ilan terpaku sejenak, lalu perlahan tangannya naik, membalas pelukan Galang. Mengusap punggung lebar yang terasa tegang itu.
"Udah selesai, Bang?" tanya Ilan lembut.
"Udah. Selesai. Gue bebas," Galang mengangkat wajahnya, menatap Ilan. Jarak mereka nol senti. "Baterai gue abis, Lan. Lowbat parah. Lo harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana?"
"Diem. Jangan gerak. Biarin gue gini dulu lima menit."
Galang menyandarkan keningnya lagi di bahu Ilan. Seluruh berat badannya ia tumpukan ke Ilan.
Saat itulah keajaiban terjadi lagi.
Di lantai bengkel yang kotor, di sekitar kaki mereka berdua, tiba-tiba tumbuh rumput hijau kecil-kecil dan bunga liar berwarna putih yang mekar seketika (Time-lapse style).
Energi kebahagiaan Ilan karena Galang kembali begitu besar, sampai-sampai lantai semen pun dipaksa berbunga oleh alam semesta.
Teman-teman sekelas Ilan yang melihat itu cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Bubarrr, bubarrr," usir Bowo ke anak-anak lain. "Dunia milik berdua, kita cuma ngontrak. Awas keinjek bunganya."
"Lan," panggil Galang lagi, masih merem.
"Ya?"
"Lulus nanti gue mau ngomong serius. Di depan Bapak lo. Di depan Oyen. Di depan semua pasukan lo."
Jantung Ilan berdegup kencang. "Ngomong apa, Bang?"
Galang menyeringai tipis, masih dengan mata terpejam. "Ada deh. Yang jelas, siapin mental lo. Gue bakal lamar jadi 'Pawang Tetap' lo."
Wajah Ilan memerah sampai ke telinga. Bunga-bunga liar di kaki mereka makin banyak yang mekar, kali ini warnanya merah muda.
Galang tertawa kecil merasakan perubahan mood Ilan. "Tuh kan, bunganya jadi warna pink. Lo salting ya?"
"Diem ah, Bang!" Ilan memukul pelan punggung Galang, tapi tidak melepaskan pelukannya.
Hari itu, Galang sadar satu hal: Ujian sekolah memang susah, tapi ujian menahan rindu ke Ilan itu jauh lebih menyiksa. Dan sekarang, dia sudah kembali. Raja Sekolah sudah kembali ke sisi Ratunya (yang berwujud montir ganteng).