Pustaka Sahawn

11 the Confession

Hari Kelulusan STM Bhirawa.

Biasanya, acara perpisahan diisi dengan tawuran antar angkatan sebagai tanda ‘serah terima jabatan’ kekuasaan. Tapi tahun ini beda. Tahun ini, Galang Mahendra—Ketua Angkatan yang ditakuti—mengeluarkan titah mutlak:

"Nggak ada tawuran. Kita bikin acara perpisahan yang beradab. Pakai jas. Pakai batik. Yang nekat bawa gir motor, gue coret dari Kartu Keluarga angkatan."

Alasannya simpel: Ilan suka yang damai.

Jadilah pagi ini lapangan STM Bhirawa terlihat seperti venue pernikahan massal. Tenda raksasa didirikan, kursi-kursi plastik disusun rapi (walau ada beberapa yang kakinya pincang), dan panggung megah berdiri di tengah.

Siswa-siswa yang biasanya dekil penuh oli, hari ini bertransformasi. Rambut diminyaki (klimis maksimal), pakai batik lengan panjang yang agak kegedean (minjem punya bapaknya), dan sepatu pantofel yang bikin kaki lecet.

Galang Mahendra berdiri di barisan depan. Dia mengenakan setelan jas hitam slim fit (pesanan khusus dari desainer langganan ibunya) tanpa dasi. Kancing kemeja putihnya dibuka dua di atas, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Damage-nya bukan main. Guru-guru cewek muda sampai kipas-kipas liat dia.

Tapi mata Galang tidak fokus ke panggung. Matanya menyisir area adik kelas.

Di pojok tenda, duduk bersama anak-anak TKR, ada Bumi Ilalang.

Ilan memakai kemeja batik warna biru laut yang pas di badannya. Dia terlihat... bersinar. Dan seperti biasa, dia tidak sendirian.

Di pangkuan Ilan, duduk seekor kucing liar sekolah yang hari ini—entah ide siapa—memakai dasi kupu-kupu kecil dari pita merah. Di bahu Ilan, hinggap dua ekor burung gereja yang seolah jadi aksesoris hidup.

"Gila, Bos," bisik Jojo yang duduk di sebelah Galang (pake batik motif parang rusak). "Pacar lo bersinar banget kayak lampu petromaks. Itu kucingnya kenapa pake dasi dah?"

"Ilan yang pasangin," jawab Galang bangga. "Katanya biar sopan sama Pak Kepala Sekolah."

Acara berlangsung membosankan. Sambutan Kepala Sekolah (2 jam), Sambutan Komite (1 jam), Sambutan Ketua OSIS (setengah jam). Matahari mulai terik. Banyak siswa yang mulai ngantuk dan colongan ngerokok di belakang tenda.

"Dan sekarang..." MC naik ke panggung. "Sambutan dari Perwakilan Siswa Kelas 12. Kepada Ananda Galang Mahendra, dipersilakan."

Tepuk tangan riuh terdengar (terutama dari geng-geng motor bawahan Galang).

Galang berdiri. Dia berjalan tegap menuju panggung. Aura kepemimpinannya menguar kuat. Dia mengambil mic dari stand, menatap ratusan siswa di depannya.

Hening. Semua menunggu pidato perpisahan yang berapi-api.

"Assalamualaikum," suara berat Galang menggema lewat speaker besar.

"Waalaikumsalam!" jawab serentak.

"Jujur aja," Galang memulai, satu tangan masuk saku celana. "Gue nggak nyiapin teks pidato. Gue sibuk bimbel."

Hadirin tertawa.

"Gue cuma mau bilang makasih buat guru-guru yang udah sabar ngadepin gue yang sering bolos. Makasih buat temen-temen yang udah solid. Kita lulus, Coy!"

Sorak sorai membahana. Topi-topi dilempar ke udara.

Harusnya Galang turun panggung sekarang. MC sudah siap mengambil alih. Tapi Galang tidak bergerak. Dia justru memberi kode tangan ke operator sound system di belakang. Musik berhenti.

Suasana mendadak hening lagi. Bingung.

"Tapi sebelum gue turun..." Galang menarik napas panjang. Matanya terkunci lurus ke arah pojok tenda, ke arah cowok berbatik biru. "Gue mau menyelesaikan satu urusan yang tertunda. Urusan yang lebih penting dari ijazah gue."

Jantung Ilan di kejauhan berdetak kencang. Perasaan gue nggak enak, batinnya. Kucing di pangkuannya mendongak, menatap Ilan seolah bilang: 'Siap-siap, Babuku. Badai datang.'

***

"Bumi Ilalang, kelas 11 TKR 2," panggil Galang lewat mic. Suaranya lantang, tegas, tanpa keraguan.

Satu sekolah menoleh ke arah Ilan. Tiga ratus kepala berputar serentak. Ilan mematung. Mukanya langsung merah padam kayak kepiting rebus. Dia ingin menghilang. Dia ingin ditelan bumi sekarang juga.

"Maju sini," perintah Galang. Bukan permintaan, tapi perintah Raja.

Ilan menggeleng kaku. Gak mau! Gila lo Bang!

"Maju, atau gue yang turun ke sana dan gendong lo ke panggung?" ancam Galang santai.

Siswa-siswa mulai bersorak. "MAJU! MAJU! MAJU!"

Bowo menyenggol lengan Ilan. "Udah Lan, maju aja. Daripada digendong, makin viral lo."

Dengan lutut gemetar, Ilan berdiri. Kucing berdasi di pangkuannya melompat turun, tapi ikut berjalan di samping kaki Ilan seolah jadi pengawal. Ilan berjalan membelah lautan manusia menuju panggung. Setiap langkah rasanya berat banget.

Sampai di depan panggung yang tinggi, Galang mengulurkan tangannya.

Ilan ragu sejenak, lalu menyambut uluran tangan itu. Galang menarik Ilan naik ke atas panggung dengan mudah.

Sekarang mereka berdua berdiri di pusat perhatian. Spotlight siang bolong.

Galang menatap Ilan yang menunduk dalam-dalam.

"Angkat kepala lo, Lan," bisik Galang, menjauhkan mic sebentar. "Lo bukan terdakwa. Lo Ratu-nya hari ini."

Ilan mendongak perlahan. Matanya berkaca-kaca karena panik. "Bang, ini malu-maluin..."

Galang tersenyum miring. Dia mendekatkan mic lagi ke mulutnya.

"Temen-temen semua," kata Galang ke audience. "Lo semua tau gue siapa. Gue Galang. Gue brengsek, gue tukang ribut, gue sombong. Tapi lo semua juga tau, beberapa bulan ini gue berubah."

"Ciyeeeeee!" sorakan massal terdengar.

"Gue berubah karena satu orang," Galang menunjuk Ilan di sebelahnya. "Cowok di sebelah gue ini. Yang mukanya merah kayak tomat busuk."

Ilan refleks mencubit pinggang Galang. Galang meringis tapi ketawa.

"Dia bukan cuma montir yang jago benerin motor gue. Dia montir yang benerin otak dan hati gue yang rusak," lanjut Galang, kali ini suaranya serius, dalem banget. "Dia yang ngajarin gue kalau kekuatan itu bukan soal siapa yang paling kenceng mukul, tapi siapa yang paling tulus peduli."

Galang berbalik badan sepenuhnya menghadap Ilan. Dia merogoh saku jasnya. Mengambil sebuah kotak kecil beludru hitam.

Satu sekolah nahan napas. Hah? Cincin? Melamar? Anak STM?

Galang membuka kotak itu. Isinya bukan cincin emas berlian.

Isinya adalah Baut Titanium Grade 5 (baut mesin pesawat yang super kuat dan mahal) yang sudah dipoles mengkilap, dijadikan liontin kalung rantai perak.

Ilan melongo. Baut?

"Bumi Ilalang," ucap Galang. "Gue nggak ngasih lo cincin emas, karena lo mekanik, cincin bakal ganggu kerja lo. Gue kasih lo Baut Titanium. Simbol kalau lo adalah komponen terpenting yang ngunci hidup gue biar nggak ambyar."

"Terima... terima... terima..." bisik audience mulai ribut.

"Lan," Galang menatap mata Ilan intens. "Lo mau nggak jadi pacar gue? Jadi partner gue, jadi pawang gue, jadi satu-satunya orang yang boleh marahin gue?"

Hening. Menunggu jawaban Ilan.

Ilan overwhelmed. Ini terlalu banyak. Terlalu drama. Terlalu Galang. Dia panik. Insting fight or flight-nya aktif. Dia memilih flight.

Ilan mundur selangkah. "Bang... a-aku..."

Ilan berbalik badan. Dia mau kabur turun panggung lewat tangga samping. Dia butuh oksigen!

Tapi...

Wusss... Wusss...

Tiba-tiba langit menjadi gelap. Bukan mendung.

Dari atap gedung sekolah, ratusan—mungkin ribuan—Burung Merpati Putih (peliharaan warga sekitar dan burung liar) terbang turun serentak. Mereka tidak menyerang. Mereka mendarat berjejer rapat di tangga panggung, di pagar panggung, dan di lantai panggung di depan Ilan.

Mereka memblokade jalan keluar Ilan.

Mereka berkur-kur riuh. Kurrr... kurrr... Seolah bilang: "Mau kemana, Bos? Balik sana! Terima!"

Ilan terpaku di ujung panggung. Jalannya ditutup tembok hidup dari merpati. Dia menoleh ke kanan, ada kucing-kucing sekolah yang juga berbaris menghadang. Dia menoleh ke kiri, ada... anjing satpam yang duduk santai sambil melet.

Semesta berkonspirasi. You shall not pass.

"Lan," panggil Galang dari belakang, menahan tawa melihat pemandangan itu. "Burung aja tau lo nggak boleh lari dari takdir."

Ilan berbalik menatap Galang lagi. Dia melihat seringai kemenangan di wajah Galang, tapi juga melihat harapan yang besar di mata itu.

Ilan menghela napas pasrah, lalu tersenyum. Senyum paling manis yang pernah dia berikan.

Dia berjalan kembali mendekati Galang. Merpati-merpati itu langsung terbang berputar di atas kepala mereka, menciptakan efek confetti hidup dan angin sejuk.

"Bang Galang emang gila," kata Ilan, suaranya masuk ke mic yang dipegang Galang. "Ngasih kalung baut di depan umum. Norak tau nggak?"

"Biarin. Yang penting lo suka," tantang Galang. "Jadi? Jawabannya?"

Ilan mengambil kalung baut itu dari tangan Galang.

"Baut ini..." Ilan mengangkatnya. "Pasangannya mur. Abang murnya ya?"

"Boleh. Gue murnya. Gue yang bakal nempel terus sama lo."

"Oke," Ilan mengangguk mantap. "Iya. Gue mau jadi pacar lo. Jadi pawang lo."

DUARRRR! (Bukan petasan, tapi suara teriakan histeris 1000 siswa STM Bhirawa + Guru + Pedagang Kantin).

"WOOOOOO! PJ! PJ! MAKAN-MAKAN!"

Galang tersenyum lebar, senyum paling bahagia seumur hidupnya. Dia memasangkan kalung baut itu ke leher Ilan. Pas.

"Sah!" teriak Galang ke audience.

Dan di tengah euforia itu, Galang menatap bibir Ilan.

"Lan..."

"Apa?"

"Boleh...?"

Ilan belum sempat jawab, Galang sudah menangkup wajah Ilan. Dia menunduk.

Tapi tentu saja, tidak ada ciuman mulus di cerita ini.

Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, seekor merpati putih yang terlalu excited salah mendarat. Dia hinggap di kepala Galang, sayapnya mengepak-ngepak heboh menutupi muka Galang.

PLAK! PLAK! (Sayap nampar muka).

"ANJIR BURUNG SIALAN!" Galang misuh-misuh, mundur sambil ngusir burung di kepalanya.

Ilan tertawa ngakak. Dia menarik kerah jas Galang, mengabaikan si burung, dan mendaratkan ciuman singkat tapi manis di pipi Galang (karena bibirnya ketutupan sayap).

Cup.

Galang mematung. Burungnya terbang pergi.

Ilan tersenyum jahil. "Itu DP-nya. Lunasnya nanti kalau udah nggak ada saksi mata bersayap."

Galang memegang pipinya, lalu berteriak ke mic sekuat tenaga.

"GUE CINTA BUMI ILALANG DAN SELURUH KEBUN BINATANGNYA!"

WUUUSSSHHHH!


Angin kencang berhembus, tapi bukan angin panas berdebu. Angin itu wangi. Wangi melati, mawar, sedap malam, dan vanila bercampur jadi satu.


Bumi bergetar pelan.


"Eh, gempa?!" teriak Pak Kepala Sekolah panik.


Bukan gempa tektonik. Itu adalah getaran kehidupan.


Dari retakan aspal lapangan upacara yang biasanya cuma ditumbuhi rumput liar kering, tiba-tiba menyeruak keluar ribuan tunas. Dalam hitungan detik—literally detik—tunas-tunas itu merambat naik, menutupi tiang bendera karatan, meliliti kaki-kaki kursi plastik, dan memanjat panggung utama.


POP! POP! POP!


Kuncup-kuncup bunga bermekaran serentak seperti kembang api.


Tiang gawang bola yang besinya sudah keropos mendadak berubah jadi gerbang bunga Bougenville ungu dan merah muda. Pagar kawat berduri di sekeliling sekolah tertutup rapat oleh Morning Glory biru cerah. Atap seng bengkel yang panas kini dilapisi permadani lumut hijau dan bunga Daisy putih.


STM Bhirawa yang tadinya gersang, abu-abu, dan suram, dalam sekejap mata berubah menjadi Botanical Garden kelas dunia.


"ANJIR! MATA GUE!" teriak Jojo sambil nutupin matanya pake tangan. "SILAU! TERLALU INDAH! PERIH WOY!"


Belum selesai kagetnya, langit di atas mereka berubah warna.


Ribuan... tidak, jutaan kupu-kupu dari segala penjuru Jakarta (mungkin impor dari Bogor juga) datang berbondong-bondong membentuk formasi spiral raksasa di atas panggung. Warnanya menyakitkan mata saking cantiknya: Biru metalik, hijau neon, oranye menyala, kuning emas. Sayap mereka memantulkan sinar matahari, bikin efek glitter alami tumpah ke seluruh sekolah.


Diiringi dengungan ribuan capung jarum yang terbang rendah di antara siswa-siswa, dan—ini yang paling gila—burung-burung liar (kutilang, perkutut, gereja, sampai burung beo lepas) bertengger di kabel listrik dan dahan pohon, lalu berkicau serentak.


Mereka bernyanyi. Beneran bernyanyi dengan nada harmonis, seolah lagi ngiringin lagu soundtrack Disney.


Cuit cuit... kukuruyuk... ciet ciet... (Nadanya kayak lagu A Whole New World tapi versi rimba).


Siswa-siswa STM yang tampangnya sangar-sangar itu histeris. Bukan takut, tapi overwhelmed sama keindahan yang nggak masuk akal ini.


"Woy! Ini kupu-kupu nempel di jidat gue! Cantik banget tolong!" jerit seorang preman kelas 12 sambil nangis terharu.


"Gila! Lapangan basket jadi kebun bunga matahari! Gue mau foto, cepetan!"


"Mata gue nggak kuat! Terlalu estetik buat STM kita!" seru Bowo, kacamatanya sampe burem kena serbuk sari bunga.


Di tengah panggung, di pusat badai keindahan itu, Galang melongo. Mulutnya terbuka lebar menatap sekeliling. Dia melihat tiang mic di depannya sudah dililit bunga mawar merah tanpa duri.


Dia menoleh ke Ilan.


Ilan tertawa lepas. Tawanya renyah, berpadu dengan nyanyian burung. Beberapa kupu-kupu biru hinggap di rambut dan bahu Ilan, membuat cowok itu terlihat seperti Elf Prince yang nyasar ke Jakarta Selatan.


"Ini..." Galang tergagap, menunjuk kekacauan indah di sekitarnya. "Ini ulah lo?"


Ilan menggeleng, matanya berbinar menatap hamparan bunga. "Bukan, Bang. Ini hadiah. Ibu Pertiwi kayaknya seneng banget Abang akhirnya jujur."


Galang mengusap wajahnya, lalu tertawa pasrah.


"Oke. Gue nyerah," kata Galang sambil merentangkan tangan, membiarkan seekor burung kenari hinggap di jarinya. "Gue terima nasib. Hidup gue mulai sekarang bakal jadi musikal fantasi."


Ilan tersenyum, lalu meraih tangan Galang yang dihinggapi burung itu.


"Selamat datang di duniaku, Bang Galang."


Dan di tengah hujan kelopak bunga, parade kupu-kupu yang menyilaukan mata, dan sorak-sorai siswa yang kepedihan saking indahnya pemandangan, Galang dan Ilan berdiri bergandengan tangan.


Raja Sekolah dan Sang Penjinak Alam. Pasangan paling absurd tapi paling legendaris dalam sejarah STM Bhirawa.