1.1 Gerbang Lemah Paranti
Suara deru mesin diesel mobil Elf yang dipaksakan menanjak memecah keheningan hutan jati yang meranggas di sisi kanan dan kiri jalan. Debu kemarau mengepul tebal setiap kali roda botak kendaraan itu menghantam lubang jalan makadam, membuat rombongan di dalamnya terguncang hebat untuk yang kesekian kalinya.
"Sumpah, tulang ekor gue rasanya mau copot," keluh Raka sambil meringis, satu tangannya berpegangan erat pada besi sandaran kursi depan. Kaos oblong yang ia kenakan sudah basah kuyup oleh keringat. Udara di dalam kabin mobil terasa pengap, perpaduan antara hawa panas dari mesin dan sirkulasi udara yang minim.
Dari bangku paling depan, di sebelah sopir, Bram menoleh ke belakang. Alisnya yang tebal berkerut, menatap Raka dengan sorot mata teguran yang tajam. Postur tubuh Bram yang besar dan tegap tampak mendominasi ruang sempit di bagian depan. Otot lengannya menonjol saat ia menahan tubuhnya agar tidak terpental akibat guncangan.
"Tahan sedikit lagi, Rak. Dari tadi lu ngeluh terus nggak bakal bikin jalanan ini tiba-tiba jadi aspal mulus," ucap Bram dengan suara berat dan tenang, khas seorang ketua yang tidak suka drama.
Raka hanya bisa mencibir pelan, tak berani membantah lebih jauh. Di bangku tengah, Satria menyodorkan botol air mineral yang sudah tinggal setengah kepada Raka.
"Minum dulu, biar tenggorokan lu nggak kering. Sesuai peta yang gue lihat semalam, harusnya kita lima belas menit lagi sampai di perbatasan desa," kata Satria.
Tidak seperti Raka yang tampak berantakan, Satria terlihat jauh lebih tenang menghadapi perjalanan yang menyiksa ini. Sebagai mahasiswa Pertanian, ia sudah terbiasa dengan medan berat. Fisiknya atletis, proporsional, dan meski keringat ikut membasahi leher serta dada bidangnya yang mengintip dari balik kemeja flanel yang kancing atasnya terbuka, ia sama sekali tidak terlihat kelelahan. Satria memiliki pembawaan yang meneduhkan, kontras dengan energi Bram yang cenderung meledak-ledak dan dominan.
Di barisan paling belakang, Dina sedang sibuk menjepit pulpen di bibirnya sambil memeriksa tumpukan proposal proker, tidak terlalu memperdulikan guncangan. Sementara Maya, mahasiswi Seni yang duduk di sebelahnya, menyandarkan dahi ke kaca jendela yang kotor. Matanya terus memperhatikan pepohonan jati yang perlahan mulai rapat dan berubah warna menjadi lebih hijau.
"Kalian sadar nggak sih?" gumam Maya, setengah berbicara pada dirinya sendiri. "Semakin kita masuk ke dalam lembah ini, udaranya makin aneh. Di luar sana kering banget, tapi kok rasanya di dalam sini hawanya makin... gerah?"
Bram mengusap tengkuknya dengan punggung tangan. Maya benar. Ada kelembaban yang tidak wajar menyusup masuk melalui celah jendela mobil yang terbuka sedikit. Hawa panasnya bukan sekadar panas terik matahari, melainkan hawa pengap yang membuat dada terasa penuh dan memancing keringat keluar lebih deras dari pori-pori.
Mobil tiba-tiba mengerem pelan, lalu berhenti sepenuhnya di sebuah jalan tanah yang agak lebar. Sopir menunjuk ke depan dengan dagunya.
"Sudah sampai, Mas. Elf saya cuma berani sampai sini. Ke dalam desa jalannya sempit, harus jalan kaki lewatin gerbang itu," kata pria paruh baya yang sedari tadi bungkam tersebut.
Bram mengangguk tegas, lalu mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar. "Oke, semuanya turun. Bawa barang masing-masing, kumpul di depan gerbang. Pastikan nggak ada dokumen proker yang ketinggalan."
Satu per satu mahasiswa KKN itu melompat turun. Begitu sol sepatu mereka menyentuh tanah, aroma tajam menyergap penciuman mereka. Udara di tempat ini terasa sangat berat, dipenuhi campuran aroma tanah basah, humus daun yang membusuk, dan samar-samar... wangi dupa cendana yang entah berasal dari mana.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gapura batu bata merah yang sudah berlumut tebal. Susunannya kuno, tanpa semen pelapis, mengingatkan pada arsitektur candi peninggalan kerajaan masa lalu. Di atas gapura melengkung itu, terdapat pahatan aksara Sunda kuno dan sebuah plakat kayu tua bertuliskan: Lemah Paranti.
"Aromanya kayak di keraton," bisik Maya sambil merapatkan jaketnya, meski suhu udara sebenarnya sangat gerah.
"Ayo, kumpulin barangnya di pinggir dulu," instruksi Bram. Ia mengangkat dua ransel besar sekaligus dengan mudah, otot bahu dan punggungnya yang lebar tercetak jelas di balik kaos yang melekat karena keringat. Satria segera mendekat, mengambil alih satu kardus logistik berukuran sedang dari tangan Dina tanpa banyak bicara.
Saat mereka sedang menata tumpukan barang bawaan, suara langkah kaki terdengar dari balik gerbang. Seseorang berjalan mendekat, menembus kabut tipis yang tiba-tiba turun di perbatasan jalan.
Sosok itu adalah seorang pria tua, usianya mungkin sudah kepala enam, namun tubuhnya masih tegak lurus bagai pohon jati. Ia mengenakan pakaian pangsi hitam khas Sunda, lengkap dengan iket kepala kain batik yang warnanya sudah memudar. Wajahnya dipenuhi keriput tajam, namun matanya luar biasa jernih.
"Sampurasun," sapa pria itu. Suaranya serak, berat, dan bergema pelan di udara yang sunyi.
"Rampes, Pak," jawab Bram dengan sigap. Ia melangkah maju, menjulurkan tangan kanan untuk bersalaman. "Saya Bramantyo, ketua rombongan KKN dari universitas. Kami yang sudah berkirim surat beberapa bulan lalu."
Pria tua itu menerima uluran tangan Bram. Bukannya langsung melepaskan, tangan keriputnya justru mencengkeram telapak tangan Bram cukup kuat. Mata tua itu menatap lurus ke wajah Bram, lalu turun mengamati dada, bahu, dan lengan Bram yang kekar dengan tatapan yang sangat teliti. Bukan tatapan memusuhi, melainkan tatapan menakar, seolah sedang memeriksa kualitas hewan kurban.
"Saya Abah Jarot, sesepuh di Lemah Paranti ini," ucapnya perlahan, senyum tipis akhirnya terbentuk di sudut bibirnya. "Sudah lama desa kami tidak kedatangan tamu pemuda dengan raga sekuat ini. Tanah di sini pasti akan senang menyambut tenaga kalian."
Bram sedikit mengernyit, merasa ada yang ganjil dengan kalimat dan cara Abah Jarot menatapnya, namun ia menepis perasaan itu demi kesopanan. Ia menarik tangannya secara halus.
Pandangan Abah Jarot kemudian beralih ke belakang Bram, tepat ke arah Satria yang sedang berdiri tegap mengamati interaksi tersebut. Mata sesepuh desa itu sedikit melebar, kilat kepuasan yang aneh terpancar dari iris matanya yang gelap. Ia menatap Satria dari ujung rambut hingga ujung kaki, memindai proporsi tubuhnya yang bersih, bahunya yang kokoh namun luwes, dan raut wajahnya yang memancarkan ketenangan.
"Dan ini..." Abah Jarot bergumam pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang tertiup angin, "sangat pas. Raga yang bagus untuk menyerap keringat bumi."
"Maaf, Abah bilang apa?" tanya Satria dengan nada sopan, alisnya terangkat sedikit karena tidak mendengar kalimat itu dengan jelas.
"Ah, bukan apa-apa, Kasep," Abah Jarot tertawa kecil, suara tawa yang entah mengapa membuat bulu kuduk Raka berdiri. "Abah cuma bilang, perjalanan kalian pasti melelahkan. Mari, Abah antar ke posko yang sudah warga siapkan. Sebentar lagi matahari tenggelam, pamali pendatang masih di luar gerbang kalau langit sudah merah."
Pria tua itu membalikkan badan, memberi isyarat agar mereka mengikuti langkahnya masuk melewati gapura batu bata. Bram menoleh ke arah teman-temannya, memberikan anggukan singkat sebagai komando.
Mereka mulai memanggul barang masing-masing, melangkah masuk ke dalam batas desa Lemah Paranti, tanpa menyadari bahwa udara lembap yang menyelimuti kulit mereka kini bukan sekadar cuaca, melainkan napas desa yang mulai terbangun dari tidur panjangnya.