Pustaka Sahawn

12 Dating Era

STM Bhirawa, Pukul 06.45 WIB.

Suasana koridor utama sekolah terasa berbeda tahun ini. Dulu, kalau senior kelas 12 lewat, adik kelas minggir karena takut dipalak atau dijitak. Tapi sekarang, kalau Bumi Ilalang lewat, adik kelas minggir karena... takut kualat sama alam semesta.

Ilan berjalan santai menyusuri koridor menuju bengkel. Dia memakai seragam putih abu-abu yang rapi, lengan digulung sampai siku, ransel di satu bahu. Penampilannya makin mature, rambutnya sedikit lebih panjang dan diikat cepol asal (man bun) kalau lagi praktek, bikin leher jenjangnya terekspos.

"Pagi, Kak Ilan!" sapa segerombolan anak kelas 10 dengan badan membungkuk 90 derajat.

"Pagi," jawab Ilan ramah, tersenyum tipis.

Saat Ilan lewat, dua ekor Kucing Hitam besar yang berjalan di sisi kiri dan kanannya menatap tajam ke arah junior-junior itu. Mata kuning mereka seolah menscan: 'Ada yang niat jahat gak? Kalau ada, gue cakar.'

Di belakang Ilan, seekor Burung Kakatua Jambul Kuning (entah lepas dari mana) terbang rendah, sesekali hinggap di bahu siswa yang seragamnya berantakan sambil teriak: "Rapikan! Rapikan!"

Ilan bukan lagi murid pindahan yang aneh. Dia sekarang adalah legenda hidup. The Druid of Bhirawa.

Tidak ada yang berani mem-bully Ilan. Terakhir kali ada anak baru yang coba-coba nyenggol Ilan di kantin, besoknya motor anak itu jadi sarangnya semut rangrang dan helmnya jadi tempat bertelur ular sanca. Sejak saat itu, Ilan dianggap aset sekolah yang harus dijaga kelestariannya.

Ilan masuk ke Bengkel TKR. Bowo (yang sekarang jadi Ketua Bengkel menggantikan Galang—tapi cuma boneka, aslinya Ilan yang ngatur) menyambutnya.

"Lan, ada titipan," kata Bowo, menunjuk meja kerja Ilan yang bersih mengkilap.

Di atas meja, ada buket bunga mawar merah segar (yang durinya sudah dibuangin satu-satu) dan kotak bekal makanan premium susun tiga.

"Dari siapa?" tanya Ilan basa-basi, padahal dia tau.

"Ya siapa lagi kalau bukan 'Donatur Tetap' kita," jawab Bowo sambil nyomot gorengan. "Tadi kurir pribadinya yang nganter. Katanya Bos Galang nggak bisa mampir pagi ini, ada meeting sama klien Jepang."

Ilan membuka kotak bekal itu. Isinya lengkap: Nasi merah, dada ayam bakar (Galang lagi obsesi bikin Ilan berisi), sayur brokoli, dan potongan buah naga yang dibentuk hati.

Ilan tersenyum, pipinya merona tipis. Galang memang sibuk parah, tapi rutinintas pemberian upeti ini nggak pernah absen sehari pun.

"Dia lebay banget," gumam Ilan, tapi tangannya mengambil HP, mengetik pesan singkat.

> "Bekalnya udah sampe. Makasih, Tuan Muda. Semangat kerjanya. Jangan lupa senyum, biar klien Jepangnya nggak takut."

***


Di seberang kota, di lantai 25 Gedung Mahendra Tower.

Galang duduk di kursi direktur (yang masih kursi cadangan di ruangan Bapaknya), menatap layar laptop dengan wajah yang sekeruh air comberan. Dia memakai kemeja biru muda licin, dasi sutra, dan jam tangan Rolex. Tampilannya perfect eksekutif muda.

Tapi jiwanya merana.

"Pak Galang," panggil sekretarisnya, Mbak Rini, takut-takut. "Laporan keuangan triwulan sudah siap di-review."

"Nanti," jawab Galang ketus tanpa nengok. "Saya lagi nunggu balesan penting."

Ting!

HP di meja berbunyi. Wajah Galang yang tadinya sangar kayak mau makan orang, mendadak berubah cerah ceria berbunga-bunga dalam 0,1 detik.

Dia membaca pesan dari Ilan. Senyumnya melebar sampai matanya ilang.

"Mbak Rini!" panggil Galang antusias.

"I-iya Pak?"

"Saya ganteng nggak hari ini?"

Mbak Rini bingung. "Ganteng kok, Pak. Sangat... berwibawa."

"Oke. Klien Jepang itu jam berapa?"

"Jam 10, Pak."

"Sekarang jam 9. Masih keburu," Galang berdiri, menyambar kunci mobilnya. "Saya mau keluar sebentar. Inspeksi lapangan."

"Hah? Inspeksi kemana Pak? Pabrik Cikarang?"

"Bukan. Inspeksi Hati. Ke STM Bhirawa."

"Tapi Pak! Macet! Nanti telat meeting!"

"Tenang, saya pake voorijder (pengawalan) batin. Bilang Papa saya lagi ngecek aset masa depan."

Galang melenggang pergi, meninggalkan sekretarisnya yang pusing tujuh keliling. Galang kangen. Titik. Dia butuh asupan energi Ilan sebelum menghadapi orang-orang tua membosankan di ruang rapat.

***


Kembali ke STM Bhirawa. Jam istirahat.

Ilan sedang duduk di bawah pohon beringin di halaman belakang, tempat favorit barunya. Di sana sepi, adem, dan banyak hewan.

Dia sedang memberi makan seekor tupai (anaknya Alvin yang dulu) dengan kacang, ketika seorang siswa kelas 10—kita sebut saja Maba (Mahasiswa Baru versi STM)—mendekat dengan ragu-ragu.

Si Maba ini, namanya Dito, terkenal sebagai idola baru di angkatan bawah. Ganteng, kapten futsal, dan playboy. Dia penasaran sama senior ‘cantik’ yang jadi legenda sekolah.

"Ekhm... Kak Ilan?" panggil Dito sok cool.

Ilan mendongak. Tupai di tangannya langsung waspada, bulunya berdiri.

"Ya? Ada apa?" tanya Ilan sopan.

Dito duduk di sebelah Ilan (agak mepet). "Gue—eh, saya Dito, Kak. Kelas 10 Mesin 1. Cuma mau kenalan. Kak Ilan aslinya lebih bening ya daripada di foto IG."

Ilan geser duduknya dikit. "Oh, makasih. Kenapa? Mau nanya soal mesin?"

"Enggak," Dito nyengir genit. "Mau nanya, Kak Ilan malem minggu sibuk nggak? Saya baru dapet motor Ninja baru nih. Mau saya ajak test drive sekalian nongkrong?"

Ilan menghela napas dalam hati. Bocah baru netes.

"Sori, Dit. Gue sibuk," tolak Ilan halus.

"Yaelah Kak, sombong amat. Katanya senior paling ramah," Dito makin berani, tangannya mau nyentuh bahu Ilan. "Sekali aja. Nanti saya traktir..."

Belum sempat tangan Dito nyentuh kain seragam Ilan...

GRRRRRR...

Suara geraman rendah terdengar. Bukan dari hewan. Tapi dari arah gerbang belakang.

Dito menoleh. Ilan menoleh.

Di sana, berdiri Galang Mahendra. Masih lengkap dengan setelan kantornya yang rapi, kacamata hitam, tapi lengan kemejanya digulung sebatas siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol karena nahan emosi.

Di belakang Galang, entah kebetulan atau settingan alam, berdiri tiga ekor Angsa Putih (Soang) dengan leher tegak lurus, siap nyosor.

Galang berjalan mendekat. Aura Alpha Male-nya bikin Dito yang tadinya sok jagoan langsung menciut jadi butiran debu.

"Siapa lo?" tanya Galang dingin ke Dito.

Dito nelen ludah. "S-saya Dito, Bang. Alumni sini juga?"

Galang tertawa sinis. Dia berdiri menjulang di depan Dito.

"Gue bukan cuma alumni. Gue yang beli semen buat nambal tembok yang lo sandarin itu," kata Galang (hiperbola, tapi efektif).

Galang menatap tangan Dito yang tadi mau nyentuh Ilan.

"Tangan lo... mau gue patahin sekarang atau nunggu lulus?" tanya Galang datar.

"Bang Galang!" tegur Ilan, berdiri menengahi. "Jangan galak-galak sama adek kelas. Dia cuma ngajak ngobrol."

"Ngobrol kok mepet-mepet kayak angkot ngetem," dumel Galang. Dia menarik pinggang Ilan mendekat, posesif abis.

Galang menatap Dito lagi. "Denger ya, Bocah. Ini peringatan pertama dan terakhir. Ilan itu..."

Galang menunjuk Ilan dengan jempolnya.

"...Zona Terlarang. Restricted Area. Lo butuh security clearance level VVIP buat bisa ngajak dia jalan. Dan yang punya akses itu cuma gue."

Dito gemetar. Apalagi dia liat tiga angsa di belakang Galang mulai mendesis dan melebarkan sayap.

"I-iya Bang! Maaf Bang! Saya nggak tau!" Dito langsung lari terbirit-birit, dikejar sama satu angsa yang iseng nyosor pantatnya.

Setelah pengganggu pergi, Galang langsung merubah mode. Wajah sangarnya ilang, ganti jadi wajah manja.

Dia memeluk Ilan erat-erat, nggak peduli jas mahalnya kusut.

"Kangen..." rengek Galang di bahu Ilan. "Kerja itu capek, Lan. Bapak gue nyuruh revisi laporan mulu. Klien Jepang rewel. Gue butuh di-charge."

Ilan tertawa kecil, membalas pelukan itu dan mengusap punggung Galang. Bau parfum mahal Galang bercampur sama bau keringat tipis, bikin Ilan nyaman.

"Kan udah dibilang, sabar Tuan Muda. Namanya juga belajar mimpin perusahaan," kata Ilan lembut. "Lagian ngapain ke sini sih? Katanya ada meeting?"

"Bodo amat. Gue bilang ke Papa mau 'Inspeksi Aset Vital'. Ya lo aset vital gue," Galang melepaskan pelukan, menatap wajah Ilan, lalu mencium keningnya lama.

Murid-murid lain yang liat dari jauh cuma bisa gigit jari. Pemandangan CEO muda ganteng lagi bucin sama Druid sekolah itu emang tontonan paling mahal di Bhirawa.

"Nanti malem gue jemput," kata Galang setelah puas mandangin muka Ilan. "Kita dinner. Pake baju yang bagus. Gue mau pamerin pacar gue ke dunia."

"Makan di mana? Warteg?"

"Restoran bintang lima lah. Gue abis gajian pertama," sombong Galang.

"Oke, oke. Tapi jangan marah kalau nanti ada lalat yang ikut masuk restoran ya," goda Ilan.

"Tenang. Kalau ada lalat, gue sewa satu restoran biar lalatnya bebas terbang. Asal lo seneng."

Galang mengecup pipi Ilan sekilas (bikin satu angkatan histeris lagi), lalu lari balik ke mobilnya kayak anak kecil.

"Dadah Sayang! Belajar yang pinter! Jangan ladenin curut-curut futsal!"

Ilan menggelengkan kepala sambil tersenyum, melambaikan tangan. Di kakinya, tupai yang tadi balik lagi sambil bawa temen, seolah ikut ngomong: 'Laki lo emang agak gila, Bos. Tapi loyal.'