1.2 Gerbang Lemah Paranti
Jalan desa Lemah Paranti tidak dilapisi aspal, melainkan susunan batu kali yang tertanam rapi ke dalam tanah. Di kiri dan kanan jalan, rumah-rumah warga berdiri dengan jarak yang agak berjauhan, mayoritas berupa rumah panggung kayu jati dengan atap genteng tanah liat yang sudah menghitam karena lumut. Meski matahari mulai condong ke barat, suhu udara sama sekali tidak menurun. Hawa panas yang lembab terus menempel di kulit, membuat pakaian kelima mahasiswa KKN itu lengket oleh peluh.
Posko yang ditunjuk oleh Abah Jarot terletak di dekat pertigaan jalan utama desa. Bangunannya lebih besar dari rumah warga kebanyakan, dengan teras luas dan pilar-pilar kayu penyangga yang tebal. Halamannya ditumbuhi pohon mangga yang daunnya tampak layu, sementara di sudut pekarangan terdapat sebuah sumur tua berdinding bata merah.
"Kalian akan tinggal di sini selama empat puluh lima hari ke depan," ujar Abah Jarot seraya menunjuk ke arah rumah tersebut. "Ini bekas rumah kepala desa yang lama. Sudah dibersihkan oleh warga. Kalau butuh air, sumur di depan airnya tidak pernah kering, walau kemarau sedang panjang."
Bram meletakkan dua ransel besar yang dibawanya ke lantai teras kayu. Ia menarik napas panjang, lalu melepas kemeja luarannya karena merasa sangat gerah, menyisakan kaus oblong hitam yang melekat ketat di tubuhnya. Otot dada dan lengannya yang besar tercetak jelas setiap kali ia bergerak mengangkut barang.
Tanpa Bram sadari, dari balik jendela-jendela rumah di seberang jalan, sepasang mata hingga belasan pasang mata warga desa diam-diam memperhatikannya. Beberapa ibu-ibu yang sedang menganyam bakul di teras rumah mereka menghentikan pekerjaan sejenak. Tatapan mereka tidak tertuju pada tumpukan barang logistik, melainkan menelusuri leher Bram yang berkeringat, pundaknya yang lebar, hingga ke dadanya yang bidang. Ada kilat kekaguman yang ganjil di mata mereka, sebuah antisipasi yang tertahan.
"Sat, tolong angkut boks kabel sama peralatan ukur. Taruh di ruang depan aja biar nggak susah besok pas kita mulai cek irigasi," instruksi Bram sambil mengusap keringat di dahinya.
"Sip, Bos," balas Satria.
Pemuda itu melangkah mendekati tumpukan barang. Ia juga sudah menggulung lengan kemeja flanelnya hingga ke siku. Gerakan Satria sangat efisien dan bertenaga. Tubuhnya memang tidak sebesar Bram, namun ototnya kering dan proporsional khas seseorang yang sering bekerja fisik di lapangan terbuka. Kulitnya yang bersih mengilap oleh lapisan keringat tipis.
Saat Satria membungkuk untuk mengangkat boks berisi peralatan berat, kemejanya sedikit tersingkap, memperlihatkan perut bawahnya yang rata dan keras. Di sudut jalan, tiga orang pria paruh baya yang sedang duduk menghisap rokok klobot tak berkedip menatap Satria. Salah satu dari mereka bahkan menyikut temannya sambil menggumamkan sesuatu dalam bahasa Sunda berlogat sangat kental, matanya menyipit penuh penilaian terhadap keluwesan raga mahasiswa Pertanian tersebut.
Di sisi lain halaman, Raka sedang menggerutu sambil menyeret koper besar milik Dina. Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Baru saja ia hendak mengomel tentang beratnya bawaan anak perempuan, matanya menangkap sosok dua gadis muda berbalut kebaya sederhana dan kain samping sedang berjalan mendekat membawa nampan bambu berlapis daun pisang.
Mata Raka langsung berbinar. Lelahnya seolah menguap begitu saja. Ia segera membusungkan dada, merapikan rambutnya yang lepek, dan melangkah mencegat kedua gadis itu dengan senyum paling lebar yang bisa ia buat.
"Wah, Neng... sore-sore begini bawa nampan berat-berat. Sini, Aa Raka bantu. Tangan halus Neng berdua mana boleh kerja kasar begini," sapa Raka dengan gaya sok akrab, lengannya terulur hendak mengambil alih nampan tersebut.
Kedua gadis itu terhenti. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa kecil sambil menutupi mulut dengan punggung tangan. Bukannya menyerahkan nampan, mereka justru melangkah menyamping, menghindari Raka, dan berjalan lurus ke arah teras tempat Bram sedang memindahkan galon air mineral seorang diri dengan mudah.
"Punten, Kang," ucap salah satu gadis itu dengan suara lembut yang dibuat-buat, bulu matanya mengerjap menatap Bram dari bawah ke atas. "Ini ada sedikit jajanan pasar dan kopi dari warga untuk akang-akang dan teteh-teteh. Disimpan di mana ya, Kang?"
Bram menoleh, sedikit terkejut dengan sapaan yang terlalu manis itu. "Oh, iya. Makasih banyak. Taruh di bawah aja, Neng."
"Biar saya bawakan ke dalam, Kang. Akang pasti lelah," timpal gadis yang satunya lagi, suaranya terdengar sangat antusias sambil terus mencuri pandang ke arah otot lengan Bram yang menonjol.
Raka yang masih mematung di halaman hanya bisa melongo. Ia menoleh ke arah Satria yang kebetulan sedang lewat membawa boks kabel.
"Sat, lu lihat nggak barusan? Pesona anak kota gue kalah telak sama tukang kuli bangunan macam Bram," bisik Raka dengan nada dramatis.
Satria terkekeh pelan, menepuk bahu Raka cukup keras hingga pemuda itu sedikit terhuyung. "Makanya, kalau mau tebar pesona tuh sadar bentuk badan, Rak. Di sini kayaknya cewek-ceweknya lebih suka cowok yang bisa diajak macul sawah ketimbang diajak nongkrong di kafe."
"Sialan lu," umpat Raka kesal, kembali menyeret koper Dina dengan sisa-sisa tenaganya.
Sementara itu, di dalam posko, Dina dan Maya sibuk membuka jendela-jendela kayu yang berat agar udara segar bisa masuk. Debu beterbangan di sorot cahaya matahari sore yang berwarna jingga. Ruangan utama posko itu cukup luas, berlantaikan papan kayu yang berderit pelan setiap kali dipijak. Ada dua kamar tidur besar di sisi kiri, dan satu dapur luas di area belakang.
"Maya, lu cium bau ini nggak?" tanya Dina sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya. Ia berdiri di dekat pintu kamar utama yang agak gelap.
"Bau apa? Debu?" Maya balas bertanya sambil menyapu lantai menggunakan sapu yang ia temukan di sudut ruangan.
"Bukan. Baunya kayak... kemenyan campur melati, tapi tipis banget. Terus ada wangi kayu basah padahal kan di luar kering kerontang," gumam Dina penasaran. Ia melongok ke dalam kamar utama. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah ranjang kayu jati kuno berukuran sangat besar, lengkap dengan tiang-tiang ukiran di keempat sudutnya. Anehnya, ranjang itu tampak sangat bersih, kontras dengan lantai di sekitarnya yang berdebu.
Abah Jarot mendadak muncul di ambang pintu depan, bayangannya memanjang hingga ke tengah ruangan, mengejutkan Dina dan Maya. Pria tua itu tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya yang gelap.
"Kamar yang besar itu khusus untuk ketua rombongan kalian dan wakilnya," ucap Abah Jarot tenang. Suaranya bergema pelan di dinding kayu. "Yang lainnya bisa pakai kamar di sebelahnya atau gelar tikar di ruang tengah. Anggap saja rumah sendiri."
Bram yang baru masuk menyeka peluh di lehernya. "Terima kasih, Abah. Kami yang atur nanti. Maaf merepotkan warga desa."
"Sama sekali tidak merepotkan, Jang Bramantyo," balas Abah Jarot pelan. Matanya kembali menatap Bram dengan intensitas yang aneh, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kulit pemuda itu. "Desa ini justru sangat bersyukur kalian datang. Tanah kami sudah lama menunggu orang-orang seperti kalian."
Sebelum Bram sempat merespons kalimat ganjil tersebut, Abah Jarot sudah membalikkan badan dan melangkah keluar posko. Dari kejauhan, suara kentongan bambu dipukul bertalu-talu dari arah balai desa, memecah udara sore yang semakin pengap dan berat. Tanda bahwa waktu menjelang magrib telah tiba, memaksa warga desa masuk ke dalam rumah dan menutup pintu mereka rapat-rapat.