13 Epilog
Lima Tahun Kemudian.
Di sebuah kawasan elit di pinggiran Jakarta Selatan yang asri, terdapat sebuah bengkel yang viral di media sosial. Namanya: BUMI AUTOWORKS & GARDEN.
Ini bukan bengkel biasa. Dari luar, bangunannya terlihat seperti glass house (rumah kaca) raksasa yang dikelilingi tanaman rambat Lee Kwan Yew yang menjuntai indah. Tidak ada bau oli menyengat atau lantai hitam yang lengket.
Lantainya terbuat dari epoksi putih bersih. Dindingnya kaca tembus pandang yang memperlihatkan taman tropis di luar. Dan di setiap sudut bengkel, terdapat pot-pot tanaman besar yang terawat.
Suara yang terdengar bukan cuma deru mesin dyno test, tapi juga kicauan burung kenari dan cucak rowo yang hinggap bebas di rangka-rangka atap baja ringan.
Di tengah kesibukan para mekanik berseragam hijau sage yang rapi, berdiri sang pemilik sekaligus Kepala Mekanik: Bumi Ilalang.
Ilan, kini berusia 23 tahun, terlihat jauh lebih matang. Tubuhnya lebih berisi (efek gizi terjamin dari Galang), rambutnya dipotong rapi model comma hair, dan auranya... tenang menghanyutkan. Dia sedang memeriksa mesin Porsche 911 klasik warna kuning.
"Mas Ilan," panggil resepsionis bengkel (manusia, bukan hewan). "Ada kiriman lagi dari Ibu Sri Mahendra."
Ilan tersenyum, mengelap tangannya yang sedikit berminyak. "Apa lagi hari ini, Mbak?"
"Rantang, Mas. Tiga susun. Katanya Gudeg Jogja spesial, Mas Ilan harus makan anget-anget. Oh iya, sama titip pesen: 'Jangan kasih Galang kulit ayamnya, kolesterol dia tinggi.'"
Ilan tertawa renyah. "Siap. Makasih ya."
Hubungan Ilan dengan keluarga Mahendra bukan sekadar ‘diterima’. Ilan sudah diakuisisi jadi anak emas.
Awalnya memang berat. Pak Mahendra (Bapaknya Galang) sempat menentang keras. Tapi pertahanan beliau runtuh saat mobil kesayangannya—Mercedes Benz W108 tahun 1970—yang sudah mati suri 10 tahun, berhasil dihidupkan kembali oleh tangan dingin Ilan.
Momen kuncinya adalah saat Pak Mahendra melihat sendiri bagaimana mesin mobil tua itu ‘menurut’ sama Ilan, seolah punya nyawa. Ditambah lagi, Burung Beo kesayangan Pak Mahendra yang galak, cuma mau makan kalau disuapin Ilan. Sejak saat itu, Pak Mahendra bikin statuta keluarga baru: Ilan tidak boleh disakiti, atau saham Galang dicabut.
Sementara Bu Sri (Ibunya Galang)? Dia jatuh cinta karena Ilan rajin nemenin beliau belanja tanaman hias dan ngobrolin soal pupuk kompos. Galang? Cuma jadi supir angkut-angkut pot.
***
Pukul 17.00 WIB.
Sebuah mobil sedan listrik mewah, Tesla Model S warna hitam doff, masuk ke pelataran parkir bengkel tanpa suara.
Pintu terbuka. Turunlah Galang Mahendra, CEO muda Mahendra Group.
Penampilannya sekarang benar-benar definisi "Daddyable" (walau belum punya anak). Jas custom made dari Italia, rambut pomade licin, kacamata minus bingkai emas (iya, matanya rabun karena kebanyakan baca laporan). Wajahnya terlihat lelah dan tegas, sisa-sisa meeting alot seharian.
Tapi begitu dia melangkah masuk ke dalam bengkel Ilan, wajah tegang itu langsung luntur.
Galang melonggarkan dasinya. Dia berjalan melewati deretan mobil mewah yang sedang diservis, mengabaikan sapaan hormat para karyawan. Matanya cuma cari satu orang.
Dia menemukan Ilan sedang duduk di bangku taman belakang bengkel, sedang minum teh sore ditemani seekor Kucing Mainecoon raksasa (maskot bengkel, namanya Turbo).
"Sayang," panggil Galang, suaranya serak-serak basah.
Ilan menoleh. Senyumnya merekah. "Eh, Mas CEO udah pulang. Gimana meeting-nya? Lancar?"
Galang tidak menjawab. Dia langsung duduk di samping Ilan, menyandarkan kepalanya di bahu Ilan, dan memeluk pinggang pasangannya itu erat-erat. Kucing Mainecoon di sebelah Ilan mendesis pelan karena merasa lapaknya digusur, tapi Galang melotot balik. 'Ini bini gue, minggir lo.'
"Capek," keluh Galang manja. "Klien dari Jerman ribet banget. Maunya ini itu. Aku pengen resign aja, mau jadi asisten mekanik kamu boleh nggak?"
Ilan mengusap rambut Galang lembut. "Jangan dong. Kalau kamu resign, siapa yang mau beliin aku sparepart impor?"
"Matre," dengus Galang, tapi dia makin ndusel. "Tadi Mama nelpon aku."
"Oh ya? Ngomong apa?"
"Mama marah-marah. Katanya aku jarang bawa kamu ke rumah utama. Mama kangen main Scrabble sama kamu. Terus Papa juga nanyain, kapan kamu bisa benerin karburator Jaguar-nya. Aku ngerasa dianak-tirikan, Lan. Mereka nelpon aku cuma buat nanyain kamu."
Ilan terkekeh. "Itu namanya sayang, Lang. Besok minggu kita ke sana ya? Aku udah janji mau bawain bibit Anggrek Hitam buat Mama."
Galang mengangkat kepalanya, menatap wajah Ilan. Sinar matahari sore menimpa wajah Ilan, membuat kulitnya terlihat keemasan. Di sekitar mereka, beberapa kupu-kupu Monarch beterbangan santai.
"Kamu tau nggak?" kata Galang tiba-tiba.
"Apa?"
"Dulu aku mikir, nikah sama kamu itu tantangan. Harus siap rumah berantakan sama hewan, harus siap berbagi perhatian sama kucing. Tapi ternyata..."
Galang meraih tangan Ilan, mencium telapak tangannya yang kasar dan kapalan khas mekanik.
"...ternyata rumah kita jadi tempat paling tenang di dunia. Kamu bikin hidup aku yang bising ini jadi... silent mode yang damai."
Ilan tersenyum haru. "Dan kamu, Tuan Muda, bikin hidup aku yang aneh ini jadi kerasa normal. Kamu satu-satunya orang yang nggak pernah nganggep aku freak."
"Siapa yang berani bilang kamu freak? Sini hadepin aku. Aku beli mulutnya," canda Galang sombong.
"Dasar orang kaya," cibir Ilan, lalu mencondongkan wajahnya dan mencium bibir Galang sekilas.
Kali ini, tidak ada burung yang menabrak muka, tidak ada kambing yang ngunyah tas. Alam semesta merestui. Angin sore berhembus pelan, daun-daun berguguran romantis, dan si Turbo (kucing) akhirnya pasrah dan tidur di kaki Galang.
***
Malam harinya, mereka menutup bengkel.
Galang dan Ilan berjalan keluar bergandengan tangan menuju mobil. Langit Jakarta malam ini cerah, tumben-tumbenan banyak bintang (mungkin karena Ilan lagi happy).
"Oh iya, Lan," kata Galang saat menyalakan mesin mobil. "Hadiah ulang tahun pernikahan kita bulan depan... kamu mau apa?"
Ilan berpikir sejenak. "Hmm... apa ya? Alat bengkel udah lengkap. Tanaman udah penuh."
"Liburan? Ke Swiss? Atau ke Amazon? Sekalian kamu reuni sama temen-temen hutan kamu?" tawar Galang.
Ilan tertawa. "Boleh juga. Tapi jangan Amazon deh, nanti kamu digigit piranha. Ke Swiss aja, kita liat sapi-sapi di sana."
"Oke. Deal. Swiss."
Mobil listrik itu melaju membelah jalanan kota. Di kaca spion, terlihat bayangan bengkel Bumi Autoworks yang perlahan menjauh. Tempat di mana oli dan bunga bisa bersatu, tempat di mana mesin dan alam hidup berdampingan.
Sama seperti pemiliknya.
Galang Mahendra, Sang Raja Jalanan yang arogan, dan Bumi Ilalang, Sang Mekanik Penjinak Hewan. Dua kutub berbeda yang disatukan oleh takdir yang glitch, baut titanium, dan restu semesta.
Dan begitulah kisah mereka berlanjut. Tidak ada ‘Tamat’ yang sebenarnya, karena setiap hari bagi Galang adalah petualangan baru menjaga Disney Princess-nya agar tidak diculik tupai atau diadopsi oleh orang tuanya sendiri.
SELESAI