Pustaka Sahawn

1.3 Gerbang Lemah Paranti

    Langit di atas Lemah Paranti berubah warna dari jingga pekat menjadi ungu kelam dengan sangat cepat. Seiring dengan pukulan kentongan dari arah balai desa yang perlahan mereda, keheningan yang janggal mulai menyelimuti pemukiman. Pintu-pintu dan jendela rumah warga yang tadinya terbuka, kini tertutup rapat. Tidak ada suara televisi, tidak ada canda tawa anak-anak di halaman. Hanya suara serangga malam yang mulai bernyanyi, bersahutan dengan derit papan kayu posko setiap kali ada yang melangkah.

Di dalam ruang tengah posko, sebuah lampu pijar kuning yang menggantung di langit-langit berkedip pelan, memendarkan cahaya temaram.

Raka melempar ponselnya ke atas tikar pandan dengan wajah frustrasi. "Mati gaya gue. Sinyal beneran mentok di huruf E, itu pun kadang hilang timbul. Boro-boro mau unggah story, ngirim pesan teks aja pending setengah jam."

"Lu niat KKN apa mau liburan sambil pansos, sih?" sahut Dina sambil membongkar kardus logistik makanan. Ia mengeluarkan beberapa bungkus mi instan dan sarden. "Udah, daripada ngeluh, mending lu nyalain kompor di dapur. Air sumurnya tadi udah ditarik sama Satria, tinggal direbus buat kita seduh mi."

Raka mendengus kesal, namun tetap bangkit dan berjalan gontai menuju dapur belakang.

Sementara itu, di kamar utama, udara terasa jauh lebih pengap dibandingkan ruang depan. Bram berdiri di dekat jendela yang sudah ditutup rapat, menatap pantulan dirinya di kaca yang berdebu. Kaus hitamnya sudah sepenuhnya basah oleh keringat, menempel ketat mencetak otot dada dan perutnya yang keras. Hawa panas di desa ini benar-benar tidak masuk akal. Bukan sekadar panas sisa terik matahari, melainkan hawa gerah yang merambat naik dari permukaan tanah, seolah bumi di bawah kaki mereka sedang menghembuskan napas yang berat.

Pintu kamar berderit terbuka, menampilkan Satria yang baru saja selesai memindahkan sisa barang. Pemuda itu sudah melepas kemeja flanelnya, menyisakan kaus tanpa lengan berwarna abu-abu yang memperlihatkan lekuk otot lengan dan bahunya yang kokoh. Napas Satria terdengar sedikit memburu, peluh mengilap di leher dan tulang selangkanya.

"Barang udah rapi semua di depan, Bos," kata Satria sambil mengusap tengkuknya yang basah. Ia berjalan mendekati ranjang kayu jati kuno yang berada di tengah ruangan, lalu menekan kasurnya dengan satu tangan. "Empuk juga. Lu yakin kita berdua yang nempatin kamar segede ini? Nggak mending buat Dina sama Maya aja?"

Bram menggeleng tegas. Ia memutar tubuhnya, bersandar pada ambang jendela. Tatapannya tertuju pada postur Satria yang tegap di bawah cahaya lampu yang remang-remang. "Gue yang mutusin. Lu lihat sendiri kan tadi tatapan warga ke arah kita? Terutama ke lu. Ada yang nggak beres sama desa ini. Biar anak perempuan tidur di kamar sebelah yang kuncinya lebih rapat. Kita di sini, lebih gampang kalau ada apa-apa."

Satria mengernyitkan alis, namun tak membantah. Ia memang merasakan hal yang sama. Ada intensitas aneh dari cara sesepuh desa dan pria-pria tua tadi memandangnya, seperti pandangan yang menilai kapasitas fisik. Namun, sebagai pria yang terbiasa berpikir praktis, Satria menepisnya sebagai sekadar rasa penasaran warga desa terhadap pendatang.

"Terserah lu aja," balas Satria santai. Ia duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba, ia meremas bagian bawah kausnya, menarik kerahnya ke depan untuk mengipasi dada. "Sumpah, ini suhu udaranya emang gila atau badan gue yang lagi meriang, ya? Dari tadi mandi keringat terus padahal cuma mindahin beberapa kardus. Panasnya tuh... gak wajar."

Bram menelan ludah. Ia memperhatikan leher Satria yang berurat halus, dada bidangnya yang naik turun karena kepanasan, dan entah mengapa, pandangan itu membuat suhu tubuh Bram sendiri semakin memanas. Ada gejolak aneh di perut bawahnya, sebuah aliran energi yang mendadak bangkit tanpa aba-aba. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tarikan nafasnya menjadi lebih berat.

Ini tidak logis. Bram memejamkan mata sejenak, mengutuk pikirannya sendiri. Ia adalah ketua, pria yang selalu memegang kendali penuh atas dirinya. Kenapa hanya melihat teman satu poskonya berkeringat bisa memancing respons fisik seperti ini?

"Gue... gue mau cari angin bentar di luar," ucap Bram tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. Tanpa menunggu jawaban Satria, ia melangkah lebar keluar dari kamar, melewati Raka yang baru membawa panci berisi mi rebus, dan langsung membuka pintu depan posko.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Bram menghirup udara malam dalam-dalam. Namun, bukannya kesejukan yang ia dapat, udara di luar justru terasa semakin pekat.

Lemah Paranti benar-benar sudah mati. Tidak ada satu pun warga yang terlihat di jalan berbatu. Cahaya hanya berasal dari obor-obor kecil yang ditancapkan di depan beberapa rumah, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas tanah.

Bram berjalan menuruni tangga teras kayu, kakinya melangkah perlahan menuju halaman depan. Saat ia mendekati pagar kayu yang berbatasan langsung dengan jalan utama, penciumannya menangkap aroma yang sangat spesifik. Bau tanah basah—padahal musim kemarau sedang mengganas—bercampur dengan aroma menyengat dari minyak cendana dan keringat maskulin yang tajam. Aromanya begitu kuat, seolah ada sekelompok pria yang baru saja selesai bekerja keras di tengah sawah berdiri tepat di sebelahnya.

Tubuh Bram bereaksi tanpa bisa dicegah. Aliran darahnya menderas kencang, terpusat ke bagian bawah perutnya. Otot-otot di rahangnya menegang saat ia berusaha menguasai diri dari dorongan gairah yang sama sekali tidak memiliki alasan logis. Rasa panas itu merambat cepat, memompa energinya hingga telapak tangannya mengepal erat.

Ia mendongak, mencoba mengalihkan fokusnya, dan menatap lurus ke ujung jalan utama desa.

Di sana, di tengah pertigaan yang diterangi sinar bulan yang temaram, berdiri tugu desa yang terbuat dari batu hitam. Bangunan yang siang tadi terlihat seperti pondasi retak biasa, kini tampak berbeda. Di samping tugu tersebut, berdiri sebuah siluet.

Bram menyipitkan mata, nafasnya tertahan di tenggorokan.

Siluet itu adalah seorang pria, namun dengan ukuran yang jauh melampaui manusia normal. Raksasa. Bahunya luar biasa lebar, dadanya telanjang, dengan otot-otot besar yang tampak berkilat memantulkan cahaya bulan. Raga itu berdiri tegak, memancarkan dominasi mutlak yang membuat udara di sekitarnya terasa bergetar.

Meskipun wajahnya tertutup bayangan gelap, Bram bisa merasakan sepasang mata dari sosok itu sedang menatap lurus ke arahnya. Menembus dadanya. Mengevaluasi dirinya. Sosok raksasa itu kemudian perlahan mengangkat satu tangannya yang kekar, menunjuk tepat ke arah dada Bram, lalu mengarahkan telunjuknya ke tanah. Sebuah gestur yang menuntut mutlak, sebuah panggilan dari masa lalu yang mengikat janji dengan bumi.

Bulu kuduk Bram berdiri, namun ketakutan itu terkalahkan oleh rasa panas yang semakin mendidih di dalam nadinya. Ia melangkah satu tindak ke depan, seakan terhipnotis untuk mendekat.

Tiba-tiba, embusan angin yang membawa hawa gerah menyapu wajahnya, menerbangkan debu-debu kering dari jalanan. Bram secara refleks berkedip sambil menutupi wajahnya dengan lengan. Ketika ia kembali membuka mata dan menatap ke arah pertigaan, siluet raksasa itu sudah lenyap. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya tugu batu hitam yang berdiri bisu di bawah cahaya bulan.

Bram berdiri terpaku cukup lama. Dada bidangnya naik turun dengan cepat, mencoba menetralkan degup jantungnya yang memburu. Tangannya yang masih mengepal perlahan mengendur, menyadari bahwa keringat dingin kini bercampur dengan peluh panas di pelipisnya.

Ia memutar tubuh, menatap kembali ke arah posko yang sunyi, membawa masuk sebuah kenyataan yang belum sepenuhnya ia pahami: Lemah Paranti bukan sekadar desa tertinggal yang butuh perbaikan saluran irigasi. Ada sesuatu yang jauh lebih purba, lebih lapar, dan lebih panas, yang sedang menunggu mereka di dalam tanah ini.