2.1 Proker dan Kopi Pahit
Sinar matahari pagi yang menembus celah papan kayu jendela posko tidak membawa kesejukan khas pedesaan, melainkan hawa pengap yang masih sama seperti malam sebelumnya. Di atas ranjang jati kuno yang besar itu, Bram terbangun dengan napas yang memburu. Matanya langsung terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang berdebu.
Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan kecepatan yang tidak wajar. Kaus hitam yang ia kenakan saat tidur sudah basah kuyup oleh keringat. Namun, yang paling mengganggu kewarasannya pagi ini adalah rasa penuh dan panas yang berpusat di perut bawahnya. Di balik celana pendeknya, kejantanannya menegang keras, berdenyut menyakitkan seolah menuntut pelepasan.
Bram mengusap wajahnya dengan kasar. Ingatan tentang sosok raksasa di pertigaan tugu semalam kembali berputar di kepalanya. Pria besar bertelanjang dada itu... jari telunjuknya yang menunjuk ke arah bumi... dan sensasi dominasi mutlak yang anehnya justru membakar gairah purba di dalam urat nadi Bram. Ia merasa energinya meluap-luap, terlalu penuh, seakan ada tenaga banteng yang meronta minta disalurkan dari dalam raganya.
Dengan erangan tertahan, Bram menyingkap selimut tipisnya dan bangkit duduk di tepi ranjang. Ia menunduk, menatap tonjolan yang sangat jelas di balik celananya. Ini gila. Ia bukan remaja puber yang bangun dengan kondisi seperti ini hanya karena mimpi yang samar. Ia mencoba menarik napas panjang, menetralkan pikirannya, lalu beranjak berdiri dengan langkah yang sedikit kaku menuju pintu belakang posko. Ia butuh air dingin.
Lantai kayu berderit pelan seiring langkah kaki Bram yang besar. Begitu ia membuka pintu belakang yang mengarah ke area sumur, suara cipratan air terdengar jelas.
Di dekat sumur bata merah yang berlumut itu, Satria sedang menimba air. Pemuda itu hanya mengenakan celana pendek selutut berwarna gelap, bertelanjang dada. Ember hitam yang penuh air ditariknya ke atas dengan gerakan ritmis dan efisien. Setiap kali Satria menarik tali katrol, otot-otot di punggung, bahu, dan lengannya bergerak menegang, tercetak jelas di bawah kulitnya yang bersih dan proporsional.
Cipratan air sumur sesekali mengenai dada dan perut Satria yang rata, membuat kulitnya mengkilap memantulkan cahaya matahari pagi. Rambutnya yang sedikit gondrong tampak basah, menempel di dahi dan tengkuknya. Saat Satria mengangkat ember dan menuangkan isinya ke dalam gentong tanah liat besar, otot dadanya yang bidang berkontraksi dengan sempurna.
Langkah Bram terhenti di ambang pintu. Matanya terpaku pada pemandangan di depannya. Hawa dingin dari air sumur yang membasahi tubuh Satria seakan berbenturan dengan hawa panas yang sedang mendidih di dalam dada Bram.
Ada sebuah insting liar yang tiba-tiba menguasai kepala sang ketua. Sebuah dorongan posesif yang tidak masuk akal. Ia ingin melangkah maju, mencengkram pinggul Satria yang liat itu dari belakang, dan merengkuh tubuh yang basah itu ke dalam dominasinya. Tangannya tanpa sadar mengepal erat, membayangkan betapa pasnya bahu kokoh Satria di bawah cengkeramannya. Kejantanan Bram yang tadinya mulai sedikit mereda, kini kembali mengeras dan berdenyut lebih kuat hanya dengan melihat tetesan air mengalir menuruni leher dan dada Satria.
Satria yang merasa sedang diperhatikan, menoleh ke arah pintu. Nafasnya sedikit terengah sehabis menimba belasan ember. Ia menyeka keringat dan air di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum santai ke arah Bram.
"Udah bangun, Bos?" sapa Satria dengan suara baritonnya yang tenang. Tidak ada kecanggungan di matanya, murni sapaan wajar antar teman pria. "Gue isi gentong dulu sekalian buat cewek-cewek mandi nanti. Sumurnya lumayan dalam, tapi airnya seger banget."
Bram menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan perubahan suaranya. "Y-ya. Baguslah. Gue... gue juga mau cuci muka."
Sebelum Bram sempat melangkah mendekat, pintu belakang berderit keras. Raka muncul dari dalam rumah dengan wajah yang luar biasa kusut. Matanya setengah terpejam, dan ia terus menggaruk-garuk pipi serta lehernya dengan beringas.
"Buset dah, ini desa nyamuknya seukuran tawon apa gimana, sih?!" gerutu Raka sambil menunjuk pipi kanannya yang bentol memerah dan membengkak lumayan besar. "Gue semalaman berasa donor darah gratis. Untung muka gue yang tampan ini nggak sampai cacat."
Kehadiran Raka yang komikal seketika memecah ketegangan yang sedari tadi mencekik leher Bram. Bram membuang nafas kasar, diam-diam bersyukur karena ia nyaris kehilangan kendali atas akal sehatnya sendiri.
Satria tertawa lepas melihat wajah Raka. "Makanya, kalau tidur tuh pakai losion anti nyamuk. Lu malah ngorok sambil mangap, ya wajar jadi prasmanan nyamuk desa."
"Sialan lu, Sat. Lu mah enak udah biasa main di alam liar, kulit gue nih sensitif, gak biasa kayak gini," balas Raka bersungut-sungut sambil mengambil gayung, menciduk air dari ember yang baru diturunkan Satria, lalu membasuh wajahnya asal-asalan.
"Heh, bujangan! Jangan pada main air aja di belakang, buruan ke depan!" Terdengar teriakan Dina dari arah ruang tengah.
Ketiga pria itu berjalan masuk ke dalam posko. Di ruang tengah, tikar sudah digelar. Dina dan Maya sedang menata piring-piring berisi mi instan rebus campur sarden, hidangan anak-anak KKN yang baru sadar kalau logistik harus dihemat. Di tengah-tengah piring tersebut, terdapat teko dari tanah liat dan lima cangkir seng yang mengepulkan asap.
"Ini apaan?" tanya Raka, langsung duduk bersila dan mengendus cangkir seng di depannya.
"Sisa kopi dari warga semalam. Yang dibawa sama dua gadis yang lu godain tapi malah nyuekin lu itu," jawab Maya santai sambil membagikan sendok. "Baunya agak unik, kayak ada rempahnya."
Bram duduk di sebelah Satria. Posisi mereka cukup berdekatan hingga bahu lengan mereka bersentuhan sesekali saat mengambil makanan. Udara pagi yang mulai menghangat di dalam ruangan membuat keringat kembali mengucur di pelipis Bram.
Bram meraih cangkir sengnya. Aroma kopi itu memang tidak biasa. Ada wangi kopi hitam pekat yang tajam, namun bercampur dengan aroma tanah basah dan samar-samar, wangi kayu cendana yang entah bagaimana terasa familiar bagi penciuman Bram—mengingatkannya pada aroma di perbatasan desa semalam.
Tanpa banyak berpikir, Bram menenggak kopi tersebut. Rasanya luar biasa pahit, kental, dan meninggalkan jejak kasar di tenggorokan seperti ada endapan akar-akaran.
Di sebelahnya, Satria juga meminum kopi bagiannya hingga tandas. "Gila, strong banget kopinya. Bisa melek tiga hari ini mah," komentar Satria sambil mengusap sisa kopi di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Namun, beberapa detik setelah cairan hitam itu melewati kerongkongan mereka, efeknya langsung terasa.
Bram seketika menghentikan suapan mi instannya. Matanya sedikit melebar. Ia merasakan sebuah ledakan hangat yang bermula dari ulu hati, menjalar dengan cepat ke seluruh aliran darahnya, dan bermuara lurus ke perut bawahnya. Hawa panas itu membakar, tapi anehnya tidak menyakitkan. Stamina yang tadinya sudah terasa meluap, kini seolah dilipatgandakan. Urat-urat di lengan dan leher Bram menonjol, dan ototnya menegang siap untuk menghancurkan batu karang sekalipun.
Satria di sebelahnya juga terdiam. Pemuda yang biasanya tenang itu mulai terlihat gelisah. Ia meremas lututnya sendiri. Wajah Satria tampak sedikit lebih merona dari biasanya. Ia merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis, membuat kulitnya terasa sangat sensitif. Sentuhan kain celana di paha dan gesekan kaus yang baru saja ia kenakan di bagian dadanya terasa menggelitik aneh. Ada denyutan halus di perut bawahnya, seolah sesuatu di balik kulitnya sedang mencoba mewujudkan diri.
"Kalian kenapa diem aja? Nggak enak ya kopinya?" tanya Dina heran melihat Bram dan Satria yang tiba-tiba membeku.
"Nggak," jawab Bram parau, suaranya terdengar lebih berat dan serak. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit terlalu keras ke lantai. Matanya melirik tajam ke arah Satria, yang ternyata juga sedang menatapnya dengan napas yang sedikit tertahan.
"Kopinya... mantap," lanjut Bram, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari dada Satria yang bergerak naik turun. "Abis ini, siapin alat ukur sama sepatu bot. Kita langsung jalan ke saluran Ciherang. Gue butuh kerja fisik sekarang juga."
Bram bangkit berdiri dengan cepat, setengah berlari menuju kamar untuk mengambil peralatannya, berusaha menyembunyikan tonjolan di balik celananya yang kini semakin keras menantang dan memompa darah dengan beringas. Ia harus segera menyalurkan energi ini ke tanah, sebelum ia benar-benar menerkam temannya sendiri di posko ini.