2.2 Proker dan Kopi Pahit
Matahari makin tinggi, memanggang lembah Lemah Paranti tanpa ampun. Jalan setapak menuju sungai Ciherang dipenuhi semak belukar kering yang bergesekan kasar setiap kali rombongan mahasiswa KKN itu melintas. Anehnya, efek dari kopi pahit tadi pagi sama sekali belum memudar, justru makin terasa menggedor-gedor pembuluh darah.
Bram berjalan paling depan, membawa gulungan meteran dan linggis. Langkahnya panjang dan mantap. Otot-otot di betis dan pahanya yang terbungkus celana kargo terlihat menegang kuat di setiap pijakan. Energi yang meledak-ledak di dadanya menuntut pelampiasan fisik yang brutal. Ia bahkan tidak merasa lelah sedikit pun. Justru, rahangnya terus mengatup rapat karena berusaha menahan desakan panas yang sedari tadi berkumpul di perut bawahnya, membuat kejantanannya setengah mengeras dan bergesekan tidak nyaman dengan bahan celananya.
Tepat di belakangnya, Satria berjalan dalam diam. Pemuda itu sesekali menarik kerah kausnya untuk mengipasi leher. Kulitnya yang bersih kini memerah akibat suhu tubuh yang meningkat drastis. Satria merasa ada yang salah dengan dirinya. Setiap tarikan nafas terasa lebih berat, dan entah mengapa, pandangannya terus terarah pada punggung lebar Bram. Melihat bagaimana otot bahu ketua KKN itu bergerak di balik kausnya yang mulai basah oleh keringat, perut bawah Satria berdenyut pelan. Denyutan aneh yang menjalar lurus ke bawah sana, membangkitkan gairah yang sama sekali tidak pada tempatnya. Satria menelan ludah, memaki dirinya sendiri dalam hati. Ini efek kepanasan, batinnya meyakinkan diri.
Setibanya di lokasi, pemandangan yang tersaji cukup memprihatinkan. Sungai Ciherang yang seharusnya menjadi urat nadi pertanian desa, kini kering kerontang. Dasar sungai hanya menyisakan tanah retak-retak sedalam satu jengkal orang dewasa. Batu-batu kali berserakan seperti tulang belulang raksasa yang dijemur matahari.
Di tengah dasar sungai yang retak itu, seorang pria paruh baya bertopi caping sedang duduk di atas sebuah batu besar sambil mengisap rokok klobot. Ia mengenakan kemeja lusuh yang tak dikancingkan, memperlihatkan dadanya yang legam.
"Mang Dadang?" sapa Bram dengan suara baritonnya yang berat, melangkah turun ke dasar sungai.
Pria itu menoleh. Matanya yang kekuningan menyipit menilai dari balik kepulan asap rokok. Mang Dadang berdiri, menepuk-nepuk celana pangsinya, lalu mengangguk lambat. Senyum menyeringai muncul di wajahnya yang kasar.
"Ah, ini dia bala bantuan dari kota. Saya sudah dengar dari Abah Jarot," ucap Mang Dadang, suaranya parau. Ia melangkah mendekat, matanya tidak menatap wajah Bram, melainkan langsung tertuju pada dada dan lengan Bram yang kekar, lalu beralih turun ke pinggul dan postur Satria yang tegap di belakangnya. "Bagus. Raga-raga yang subur. Tenaganya pasti masih penuh, airnya pun masih luber-luber."
Raka yang baru saja turun sambil terengah-engah langsung menyahut, mengira itu adalah sapaan basa-basi biasa. "Wah, Mang Dadang bisa aja. Saya mah tenaganya buat ngapel doang, Mang. Kalau suruh macul, aduh, ampun dah."
Mang Dadang terkekeh keras, memperlihatkan deretan giginya yang kecokelatan akibat tembakau. "Bukan buat ngapel atuh, Jang Raka. Kalian lihat tanah ini?" Ia menunjuk ke dasar sungai yang menganga retak. "Tanah Lemah Paranti ini lagi sakit. Hawanya gerah, retaknya udah minta ditancap. Kalau nggak ada paku gede yang masuk pas sampai ke dasarnya, sampai mentok tuh, mana bisa air kehidupannya nyembur basahin hamparan desa."
Raka dan Dina tertawa mendengar celetukan bernada mesum khas bapak-bapak desa itu. Namun, tidak dengan Bram dan Satria.
Bram merasakan urat di lehernya berkedut. Kalimat Mang Dadang terlalu spesifik. Ada dorongan posesif yang mendadak muncul di kepalanya. Ketika tatapan Mang Dadang berlama-lama mengamati paha dan pinggul Satria, dada Bram membusung defensif. Tanpa sadar, ia menggeser posisi berdirinya, sedikit menutupi tubuh Satria dari pandangan mandor desa tersebut.
Satria sendiri terdiam kaku. Saat mendengar kata paku, mentok, dan hamparan, hawa panas di perut bawahnya kembali bergejolak ganas. Sialan, kejantanannya berkedut kuat di balik celana jeansnya. Tubuhnya secara instingtif merespons kata-kata vulgar itu sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantahkan, membuat lututnya terasa sedikit goyah meski ia berusaha keras berdiri tegak.
"Fokus ke proker aja, Mang. Batu pondasi yang mana yang harus digeser untuk buka jalur irigasi atas?" potong Bram tegas, nada suaranya terdengar lebih kasar dari yang ia niatkan.
Mang Dadang tersenyum penuh arti. Ia menunjuk sekumpulan batu kali berukuran raksasa di dekat tebing tanah sungai. "Di sana, Jang Bram. Batu-batu itu nutupin mata air matinya. Harus digeser manual. Alat berat nggak bisa masuk ke mari."
Bram tidak membuang waktu. Keringat dan suhu tubuhnya yang mendidih butuh pelampiasan. Ia berjalan mendekati tumpukan batu tersebut. Karena merasa kausnya sangat mengganggu dan lengket, Bram menarik ujung bajunya, lalu melepasnya dalam satu gerakan cepat.
Dada bidangnya, otot perutnya yang keras berjejal, dan lengannya yang berurat tebal terekspos langsung ke udara terbuka. Kulit sawo matangnya berkilat oleh keringat. Ia menancapkan linggis ke bawah salah satu batu berukuran setengah meter, memperlihatkan punggungnya yang lebar dan maskulin.
Tanpa rombongan mahasiswa itu sadari, di atas tebing sungai, belasan wanita desa—mulai dari ibu-ibu yang membawa bakul hingga gadis-gadis muda—tiba-tiba sudah berkerumun. Mereka berpura-pura mencari kayu bakar atau memetik daun singkong, padahal mata mereka tak lepas menatap liar ke arah dasar sungai.
"Sat, bantuin gue dorong dari sisi sana," perintah Bram sambil menoleh. Tatapannya lurus menusuk mata Satria.
Satria mengangguk. Hawa panas dari kopi sialan itu membuatnya juga tak tahan lagi. Ia melepas kemeja luarnya, menyisakan kaus tanpa lengan abu-abu yang memperlihatkan otot trisep dan pundaknya yang terbentuk sempurna. Ia mengambil posisi di seberang Bram, meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan batu yang kasar.
"Wah, cewek-cewek desa pada ngeliatin tuh," bisik Raka antusias saat melihat kerumunan di atas tebing. Insting tebar pesonanya langsung menyala. Ia menggulung lengan kemejanya tinggi-tinggi, meludah ke telapak tangannya, dan melangkah menuju sebuah batu yang ukurannya cukup besar. "Minggir lu berdua. Biar gue tunjukin pesona otot anak kota!"
Raka membungkuk, memeluk batu itu, lalu menarik napas panjang. "Hiaaaaat!"
Satu detik. Dua detik. Batu itu tidak bergeser satu milimeter pun. Wajah Raka berubah seungu terong. Terdengar bunyi krek yang samar dari punggung bawahnya.
"Aduh, aduh, aduh! Encok gue! Sialan, urat gue ketarik!" jerit Raka sambil melepaskan batu itu dan memegangi pinggangnya, meringis kesakitan.
Maya dan Dina memutar bola mata mereka bersamaan. "Kebanyakan gaya lu, Rak. Udah sana duduk aja di bawah pohon, ntar kita olesin balsem," omel Dina sambil menarik kerah Raka agar menyingkir dari area kerja. Beberapa gadis manis di atas tebing terdengar menertawakan tingkah konyol pemuda itu.
Namun, tawa warga desa langsung mereda dan berubah menjadi keheningan yang penuh antisipasi ketika Bram dan Satria mulai bekerja.
"Satu... dua... dorong!" aba-aba Bram serak.
Bram mengerahkan tenaganya. Urat-urat di dahi dan lehernya menonjol keras. Batu raksasa itu bergeser dengan suara gesekan yang memekakkan telinga melawan tanah retak. Satria menahan dari sisi lain, otot lengan dan dadanya menegang sempurna. Napas keduanya memburu, saling beradu di udara yang pengap.
Setiap kali Bram bergerak, otot punggungnya berkontraksi brutal. Keringat menetes dari ujung hidung dan rahangnya yang tegas. Satria tak bisa menghentikan matanya untuk tidak mengagumi dominasi fisik temannya itu. Keringat dingin mulai bercampur dengan peluh panas di pelipis Satria. Perut bawahnya yang menjadi titik pusat hawa magis desa itu berdenyut semakin kencang, membuat kulit di sekitar area selangkangannya terasa luar biasa sensitif. Ia harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan tertahan karena kejantanannya berkedut ngilu, menuntut gesekan.
"Masih kuat, Sat?" tanya Bram dengan napas berat. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh bongkahan batu. Mata Bram menatap lurus ke arah dada Satria yang naik turun, lalu turun ke perutnya. Tatapan Bram bukan tatapan sesama rekan kerja. Itu adalah tatapan lapar seekor predator yang sedang menakar kekuatan mangsanya sebelum diterkam.
"Kuat," jawab Satria pendek, suaranya sedikit gemetar namun tetap berusaha terdengar jantan. Ia mencengkeram tepi batu lebih kuat untuk mengalihkan sensasi lemas yang tiba-tiba menyerang lututnya akibat ditatap seperti itu. "Sekali lagi, Bos."
Di atas tebing, Mang Dadang menyeringai lebar. Ia membuang sisa klobotnya ke tanah dan menginjaknya perlahan. Matanya terus mengawasi gesekan energi yang mulai memercik di antara kedua pemuda itu.
Mereka berdua melangkah lebih ke tengah, menuju batu terbesar yang menjadi sumbat utama jalur irigasi. Tanah di bagian ini lebih gembur, sisa-sisa lumpur kering yang rapuh. Bram mengambil posisi di bawah, kakinya memijak kuat pada dasar yang retak, sementara Satria harus naik sedikit ke gundukan tanah di sebelah batu tersebut untuk mendorong dari atas.
"Tahan dari atas, Sat. Pas gue angkat linggisnya, lu dorong ke arah tebing," instruksi Bram, suaranya makin berat dan mendominasi.
Satria mengangguk. Ia memposisikan dirinya, kedua tangannya menekan keras permukaan batu. Hawa panas Lemah Paranti seolah mengumpul di satu titik, menyelimuti mereka berdua dalam gelembung energi purba yang tak terlihat. Kesunyian sungai kering itu kini hanya diisi oleh suara napas mereka yang memburu kasar, menunggu aba-aba untuk sebuah dorongan besar.