2.3 Proker dan Kopi Pahit
Terik matahari tepat berada di atas ubun-ubun, memanggang dasar sungai Ciherang layaknya wajan raksasa. Namun, baik Bram maupun Satria seolah kebal terhadap sengatan panas itu. Pengaruh kopi hitam pekat yang mereka tenggak pagi tadi justru mencapai puncaknya saat raga mereka dipaksa bekerja keras. Aliran darah mereka berdesir liar, merespons energi purba yang terkunci di dalam batu-batu dan tanah retak Lemah Paranti.
"Satu... dua... dorong!"
Suara parau Bram menggema memecah kesunyian tebing sungai. Ia mengentakkan linggis besi ke celah bawah batu raksasa itu, menggunakan seluruh berat tubuhnya sebagai pengungkit. Otot-otot punggungnya yang telanjang berkontraksi brutal, mengkilap oleh aliran keringat yang menderas.
Di sisi atas gundukan tanah yang rapuh, Satria menekan permukaan batu dengan kedua telapak tangannya. Rahangnya mengatup rapat, mengalirkan seluruh sisa tenaga di lengannya untuk mendorong bongkahan seberat ratusan kilogram tersebut ke arah pinggir sungai.
Bunyi gesekan batu melawan tanah kering terdengar memekakkan telinga. Sedikit demi sedikit, batu raksasa itu mulai bergeser, membuka celah lubang air yang selama ini tertutup rapat.
"Dikit lagi, Sat! Tahan posisi lu!" teriak Bram dengan napas memburu. Matanya berkilat tajam, menatap ke arah Satria dengan intensitas yang tidak wajar.
Namun, perhitungan mereka meleset. Pergeseran batu besar itu membuat struktur tanah di pijakan Satria kehilangan tumpuan. Bongkahan lumpur kering di bawah sepatu bot Satria tiba-tiba hancur dan longsor ke bawah.
"Bangsat!" umpat Satria kaget.
Keseimbangannya hilang seketika. Tubuhnya tergelincir ke depan, meluncur jatuh dari gundukan tepat ke arah dasar sungai yang dipenuhi bebatuan runcing.
Bram tidak berpikir dua kali. Instingnya bekerja jauh lebih cepat dari akal sehatnya—sebuah refleks protektif yang meledak begitu saja dari dalam nadinya. Ia melepaskan linggisnya begitu saja, membiarkan batu raksasa itu membentur tanah dengan suara dentuman keras, dan melompat menerjang ke depan untuk menangkap tubuh Satria.
Bruk!
Tabrakan keras tak terelakkan. Bram berhasil menangkap tubuh Satria tepat sebelum pemuda itu menghantam batu karang, namun momentum jatuhnya membuat punggung Bram menghantam dinding tanah di belakangnya.
Waktu seakan berhenti berputar di dasar sungai Ciherang.
Posisi mereka luar biasa rapat. Kedua lengan kekar Bram melingkar erat, mencengkeram pinggul dan punggung bawah Satria. Wajah Satria terbenam di ceruk leher dan bahu Bram yang telanjang dan bersimbah peluh. Dada mereka saling menempel ketat, mengadu detak jantung yang sama-sama memompa dengan kecepatan gila.
Satria membelalakkan matanya. Ia adalah pria dewasa yang normal, terbiasa jatuh dan terluka di lapangan. Seharusnya, ia langsung bangkit dan menepuk debu dari celananya. Namun, saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit dada Bram, sebuah sengatan listrik seolah melumpuhkan sistem sarafnya.
Ada kontras yang luar biasa gila. Satria bisa merasakan hawa panas yang membakar memancar dari tubuh Bram, seakan pria besar yang mendekapnya ini adalah tungku api yang sedang mendidih. Panas itu merambat masuk melalui pori-porinya, mencari jalan ke perut bawah Satria. Di sisi lain, Bram mengerang tertahan saat merasakan hawa sejuk yang menenangkan dari kulit Satria. Sentuhan itu meredakan sakit kepala dan amarah tak beralasan yang sedari tadi menyiksanya, memancing insting Paku di dalam dirinya untuk mengurung Hamparan ini agar tidak pergi ke mana-mana.
"Lu... nggak apa-apa?" Suara Bram terdengar sangat serak, berat, dan berbahaya. Nafasnya yang panas menyapu telinga Satria.
Cengkeraman tangan Bram di pinggul Satria bukannya mengendur, malah semakin mengerat keras. Jemari besar Bram menekan cekungan pinggul Satria dengan sikap posesif yang mutlak.
Satria menelan ludah. Kepalanya mendadak pusing oleh aroma maskulin pekat dari keringat Bram yang bercampur debu tanah. Tubuhnya bereaksi di luar kendali. Lututnya yang tertekuk di antara kaki Bram mendadak terasa lemas seperti jeli. Dan yang paling parah, perut bawahnya berdenyut ngilu, mengirimkan sinyal langsung ke selangkangannya. Kejantanan Satria berkedut keras di dalam celana jeans-nya, menegang menantang hanya karena dekapan dominan dari sesama pria. Seorang teman pria.
Gila. Kenapa lutut gue lemes banget? batin Satria bingung dan panik. Ia mencoba mendorong dada Bram untuk melepaskan diri, namun tangannya seakan tidak punya tenaga. Sialan, kenapa badan gue malah ikutan lemes dipeluk Bram? Satria terengah, nafasnya megap-megap saat otot pinggulnya tanpa sadar merapat semakin dekat ke arah perut Bram. "G-gue... gue aman, Bos. Lepasin," gumam Satria susah payah, suaranya terdengar lebih seperti rengekan tertahan daripada protes seorang pria.
Bram menunduk, menatap lurus ke dalam mata Satria yang kini terlihat sayu dan kebingungan. Ada desir kepuasan yang brutal di dada Bram saat melihat pemuda setangguh Satria kehilangan tenaga di bawah cengkeramannya. Kejantanan Bram sendiri berdenyut menyakitkan, bergesekan tipis dengan paha Satria. Rasanya ia ingin membanting Satria ke atas tanah retak ini sekarang juga, membuka kakinya, dan menunjukan siapa yang memegang kendali.
Dari kejauhan, suara cemas Dina memecah gelembung magis yang menjerat mereka berdua.
"Woy! Kalian berdua nggak apa-apa di bawah sana?!!" teriak Dina dari atas jalan setapak, sementara Raka yang masih memegangi pinggangnya berusaha melongok.
Kesadaran Bram seolah ditarik paksa kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan mata, menyadari posisi ambigu mereka, dan perlahan melepaskan cengkeramannya dari pinggul Satria. Walaupun ada keengganan yang sangat besar di ujung jemarinya.
Satria terburu-buru mundur, membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah padam hingga ke telinga. Ia terbatuk pelan, berpura-pura membersihkan debu dari kausnya, berusaha keras menutupi tonjolan keras di balik ritsleting celananya dan lututnya yang masih gemetar.
"Aman! Cuma kepeleset tanah gembur!" balas Satria ke arah teman-temannya di atas, suaranya sedikit diberatkan agar terdengar normal.
Bram bangkit berdiri, mengambil linggisnya kembali tanpa banyak bicara. Ia menatap tanah di bawah pijakan mereka. Batu raksasa itu sudah bergeser cukup jauh, dan dari lubang gelap yang tadinya tertutup, air tanah mulai merembes pelan, membasahi lumpur yang kering kerontang.
Di atas tebing, jauh dari pandangan Dina dan Raka, Mang Dadang masih berdiri mematung. Pria paruh baya itu sama sekali tidak terkejut melihat insiden jatuhnya Satria, apalagi momen panjang saat kedua mahasiswa itu saling bertatapan dengan gairah yang tertahan.
Mang Dadang menghisap klobotnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara yang pengap. Matanya yang kekuningan menyipit, memancarkan senyum kepuasan yang mengerikan. Ia memperhatikan bagaimana air mulai keluar dari tanah tepat setelah Bram dan Satria beradu raga.
"Benar tebakan Abah," gumam Mang Dadang pelan, mengusap rahangnya yang kasar. Matanya tak lepas menatap punggung tegap Bram dan gestur canggung Satria di dasar sungai. "Tanah sudah mulai mengenali tuannya. Tinggal nunggu matang, sebelum akhirnya ditancap sampai dalam."
Angin kemarau berhembus membawa debu tebal, menyapu tawa pelan dari mulut mandor desa itu, seiring dengan matahari yang mulai bergeser mematangkan hawa panas di lembah Lemah Paranti.