Pustaka Sahawn

3.1 Peringatan Gion dan Mimpi Sang Paku

Aroma menyengat khas balsem otot seketika mendominasi ruang tengah posko, mengalahkan bau kayu lapuk dan debu yang sedari kemarin mengendap di udara. Di atas karpet plastik yang digelar seadanya, Raka terbaring tengkurap hanya dengan mengenakan celana pendek. Pemuda itu terus mengerang panjang, wajahnya terbenam di antara kedua lengannya.

"Aduh, pelan dikit dong, Din! Kulit gue rasanya kayak mau melepuh ini. Lu pake balsem apa sambel terasi sih?!" protes Raka dengan suara teredam.

Dina yang duduk bersimpuh di sampingnya sama sekali tidak mengendurkan tenaga. Tangannya justru menekan punggung bawah Raka lebih keras, membuat mahasiswa Komunikasi itu menjerit tertahan.

"Bawel lu ah. Udah syukur gue mau ngurutin. Lagian siapa suruh gaya-gayaan mau ngangkat batu segede mesin cuci sendirian? Lu kira lu kuli pelabuhan? Otot lu tuh cuma setebal sedotan pop es, Rak, sadar diri makanya," omel Dina panjang lebar sambil membalurkan lebih banyak balsem ke pinggang Raka.

Tingkah komikal Raka dan omelan Dina sedikit memecah kesunyian malam di posko tersebut, namun sama sekali tidak mampu mengusir hawa pengap yang terus menekan dari luar dinding kayu. Suhu udara Lemah Paranti di malam hari seakan menolak turun. Tidak ada angin yang berembus masuk melalui celah ventilasi. Semuanya terasa statis dan panas.

Di sudut ruangan yang agak remang, Satria duduk bersila sambil berpura-pura sibuk mencatat laporan di buku catatannya. Namun, siapa pun yang memperhatikannya dengan teliti akan sadar bahwa ujung pulpennya belum menggoreskan satu huruf pun sejak setengah jam yang lalu.

Penampilan Satria malam ini sangat ganjil untuk ukuran cuaca yang membuat orang normal ingin berendam di air es. Ia mengenakan celana training panjang berwarna gelap dan kaus oblong abu-abu yang ukurannya kebesaran, menutupi seluruh proporsi tubuh atletisnya. Keringat mengucur deras dari pelipis dan lehernya, membasahi kerah bajunya hingga menempel di dada, namun ia sama sekali tidak berniat melonggarkan apalagi melepas pakaiannya.

Satria tidak berani menanggalkan kausnya. Ia sedang berusaha mati-matian menutupi reaksi tubuhnya sendiri. Sejak kejadian di dasar sungai Ciherang siang tadi, saat raga Bram menindihnya dengan dominasi mutlak, tubuh Satria seperti kehilangan kalibrasi normalnya. Ada denyutan konstan di perut bawahnya yang menjalar lurus ke selangkangannya. Setiap kali ia teringat bagaimana dada bidang Bram bersentuhan langsung dengan kulitnya, kejantanannya berkedut ngilu di balik celana panjang yang ia kenakan.

Satria menarik napas pendek-pendek, mengusap tengkuknya yang basah. Ia sengaja menunduk dalam-dalam, menghindari kontak mata dengan arah dapur, tempat sang ketua KKN sedang berdiri.

Di ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur, Bram berdiri bersandar dengan tangan terlipat di depan dada. Ia hanya mengenakan kaus kutang hitam yang mengekspos lengannya yang berurat tebal dan bahunya yang lebar. Berbeda dengan Satria yang berusaha menyembunyikan diri, Bram justru memancarkan aura predator yang sedang mengawasi teritorialnya.

Mata Bram terpaku lurus ke arah Satria. Ia tidak repot-repot menyembunyikan tatapannya. Urat di lengan bawah Bram sesekali berkedut. Energi dari kopi pekat yang ia minum pagi tadi belum tuntas disalurkan, dan kejadian kontak fisik di sungai justru menjadi bensin yang menyiram bara api di dalam dadanya. Ia masih bisa merasakan dengan jelas betapa pasnya cekungan pinggul Satria di dalam cengkeraman tangannya. Dinginnya kulit Satria adalah satu-satunya hal yang secara instingtif dirasa mampu memadamkan panas yang membakar perut bawahnya saat ini.

Melihat Satria sengaja memakai baju kebesaran dan bertingkah canggung, rahang Bram mengatup rapat. Ada dorongan posesif yang luar biasa gila meronta di kepalanya. Ia ingin melangkah ke sudut ruangan itu, menarik kaus kebesaran itu dari tubuh Satria, dan memaksanya menatap matanya.

Kecanggungan yang luar biasa pekat di antara kedua pria maskulin itu akhirnya terinterupsi oleh suara langkah kaki dari arah luar. Maya masuk ke ruang tengah sambil membawa kantong kresek hitam berisi beberapa bungkus kopi dan makanan ringan. Wajah mahasiswi Seni itu terlihat sedikit pucat dan kebingungan.

"Lu dari mana, May? Sendirian?" tanya Dina, menghentikan pijatannya di punggung Raka sejenak.

"Dari warung depan, niatnya mau beli kopi saset buat besok pagi. Males gue kalau disuruh minum kopi hitam dari warga lagi, rasanya aneh," jawab Maya sambil meletakkan kresek itu di tengah karpet. Ia menghela napas panjang, lalu duduk bersila menghadap teman-temannya. Matanya menyapu sekeliling ruangan sebelum berhenti pada Bram dan Satria.

"Kalian ngerasa nggak sih, warga desa ini omongannya agak... ganjil?" tanya Maya dengan nada ragu.

Raka yang masih tengkurap mengangkat kepalanya sedikit. "Ganjil gimana? Mereka sopan-sopan aja perasaan, walau mang Dadang kalau ngomong emang agak nyerempet dikit."

Maya menggeleng cepat. Ia memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya. "Tadi pas gue di warung, ada tiga ibu-ibu lagi belanja. Awalnya mereka nanya-nanya biasa soal proker kita. Tapi pas gue mau bayar, salah satu dari mereka nanya gini ke gue... 'Neng, Paku utamanya udah mulai panas belum? Hawanya udah kerasa sampai ke sini soalnya'."

Ruang tengah itu seketika hening. Raka mengerutkan kening, tidak paham. "Paku utama? Paku payung maksudnya? Buat perbaikan tugu desa kita besok?"

"Gue juga awalnya mikir gitu, Rak," lanjut Maya, raut wajahnya makin tidak nyaman. "Terus gue jawab aja, 'Oh, pakunya udah disiapin sama anak teknik kok, Bu, tinggal dipasang.' Tapi ibu-ibu itu malah pada ketawa sambil nutupin mulut. Terus ada yang nyeletuk lagi... 'Bukan paku besi, Neng. Tapi Paku Bumi yang uratnya tebal itu. Kalau pakunya udah mulai kepanasan, air kehidupannya pasti udah siap nyembur ke hamparan'."

Dina menghentikan gerakannya total. "Air kehidupan? Nyembur? Gelo, itu konteksnya jorok banget anjir. Mereka ngomongin apaan sih sebenarnya?"

Berbeda dengan Dina dan Raka yang kebingungan, reaksi fisik langsung menghantam Bram dan Satria tanpa ampun.

Mendengar kata Paku, panas, dan nyembur diucapkan di tengah ruangan yang gerah ini, napas Bram seketika tertahan. Tubuhnya bereaksi brutal terhadap istilah tersebut. Kejantanannya yang tadinya diam kini langsung menegang keras di balik celana kargonya, memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Kata-kata itu seolah menekan sakelar purba di dalam kepalanya, mengkonfirmasi status dominasinya atas tanah ini.

Di sudut ruangan, Satria tanpa sadar meremas buku catatannya hingga kertasnya lecek. Jantungnya berdebar kencang. Jika Bram bereaksi sebagai penakluk, tubuh Satria bereaksi sebagai penerima. Istilah hamparan membuat perut bawahnya berdenyut luar biasa ngilu. Hawa panas mendadak menjalar ke paha dalamnya, membuat lututnya seketika terasa lemas meski ia sedang duduk.

Satria refleks menyilangkan kakinya lebih rapat, mati-matian menyembunyikan tonjolan di selangkangannya yang berkedut keras merespons kata-kata vulgar yang diucapkan Maya secara tidak sengaja.

Bram yang menyadari perubahan napas Satria langsung menegakkan tubuhnya dari ambang pintu. Tatapannya kini bukan sekadar mengawasi, tapi menuntut.

"Udah, nggak usah dipikirin omongan warga," potong Bram tiba-tiba. Suaranya terdengar luar biasa berat dan serak, membuat Raka dan Dina menoleh kaget. "Mereka cuma pakai istilah lokal buat irigasi. Jangan dibikin parno."

Bram melangkah maju mendekati area tempat Satria duduk. Bayangan tubuh Bram yang besar menutupi cahaya lampu, jatuh tepat di atas tubuh Satria yang sedang menunduk.

"Sat," panggil Bram pelan, namun intonasinya adalah sebuah perintah absolut.

Satria mendongak pelan, menelan ludah saat melihat dada Bram yang naik turun dengan napas berat tepat di depannya.

"Ke kamar sekarang," perintah Bram. Matanya menatap lurus ke dalam mata Satria, mengunci pergerakan pemuda itu. "Kita butuh istirahat. Proker besok masih banyak."

Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain, Bram memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam kamar utama yang gelap. Meninggalkan Satria yang masih duduk dengan tangan gemetar, sadar sepenuhnya bahwa malam ini, ia harus tidur satu ranjang dengan pria yang tubuh dan auranya sedang menuntut pelampiasan panas yang tak terpadamkan.