Pustaka Sahawn

3.2 Peringatan Gion dan Mimpi Sang Paku

Kamar utama itu terasa seperti sebuah kotak kayu yang kedap udara. Cahaya dari lampu minyak kecil di sudut ruangan menciptakan bayangan yang meliuk-liuk di dinding, membuat ukiran pada pilar-pilar ranjang jati kuno itu tampak seolah-olah bernapas. Bau kayu tua, debu, dan aroma cendana yang semakin tajam memenuhi indra penciuman, menindih dada siapa pun yang berada di dalamnya.

Satria melangkah masuk dengan perasaan waswas yang tak bisa ia jelaskan. Di depannya, Bram sudah berdiri di sisi ranjang, membelakanginya. Punggung Bram yang lebar dan otot bahunya yang kokoh terlihat sangat dominan di bawah cahaya remang. Tanpa berkata apa-apa, Bram melepas kaus kutangnya, memperlihatkan raga maskulin yang bersimbah peluh. Kulitnya yang sawo matang tampak mengkilap, memantulkan cahaya jingga dari lampu minyak.

"Tidur, Sat. Jangan bengong terus di pintu," suara Bram terdengar dalam, bergetar di udara yang berat.

Satria menelan ludah. Ia perlahan mendekati ranjang, gerakannya terasa kaku. Ranjang jati ini memang sangat besar, cukup untuk tiga orang dewasa, namun entah mengapa malam ini terasa sangat sempit. Satria merebahkan tubuhnya di sisi kiri, sejauh mungkin dari posisi Bram. Ia tetap mengenakan kaus oblong dan celana panjangnya, meski hawa panas di kamar itu mulai terasa tidak manusiawi.

Bram naik ke atas ranjang di sisi lain. Kasur tua itu berderit berat, menopang bobot tubuh sang ketua KKN yang masif. Bram berbaring telentang, menatap langit-langit yang gelap. Napasnya terdengar berat dan ritmis, seolah setiap hembusan udaranya membawa muatan energi yang siap meledak.

"Lu nggak lepas baju? Bisa mati kepanasan lu entar," ucap Bram tanpa menoleh.

"Nggak apa-apa, gue... gue lagi agak meriang," dalih Satria pendek. Suaranya sedikit gemetar.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun bukan keheningan yang menenangkan. Ada tarikan magnetis yang sangat kuat di antara kedua pria itu. Bram bisa merasakan eksistensi Satria di sampingnya layaknya sebuah hamparan tanah yang sedang menunggu untuk digarap. Setiap gerakan kecil yang dilakukan Satria membuat kasur bergetar, dan getaran itu merambat langsung ke saraf Bram, memicu kejantannya untuk kembali menegang beringas di balik celana kargonya.

Waktu berlalu dengan lambat. Kelelahan fisik setelah bekerja di sungai akhirnya mulai mengambil alih kesadaran Satria. Meski pikirannya terus memperingatkannya untuk tetap waspada, raga Satria mulai menyerah pada kantuk. Napasnya perlahan menjadi lebih teratur, dan matanya terpejam.

Namun, di alam bawah sadarnya, tubuh Satria bereaksi terhadap hawa dingin yang mulai menyelinap di antara hawa gerah—hawa mistis desa yang menuntut penyatuan. Secara instingtif, tubuh ‘Sang Hamparan’ mulai mencari sumber panas terdekat untuk menyeimbangkan energi di dalam dirinya.

Tanpa sadar, dalam tidurnya yang gelisah, Satria mulai berguling ke tengah ranjang. Ia bergerak perlahan, mendekat ke arah Bram.

Bram, yang sedari tadi sebenarnya tidak bisa memejamkan mata karena menahan denyutan di selangkangannya, tersentak pelan saat merasakan pergerakan itu. Ia tetap mematung, menahan napas saat tubuh Satria semakin merapat.

Hingga akhirnya, Satria berhenti bergerak tepat di sisi tubuh Bram. Dada dan perut Satria yang terbungkus kaus tipis menempel ketat di lengan dan rusuk Bram yang telanjang. Paha Satria yang kokoh bergesekan langsung dengan paha Bram.

Sialan.

Bram memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengatup hingga giginya gemertak. Sentuhan itu seperti menyulut sumbu di atas tong mesiu. Panas yang sedari tadi ia tahan kini meledak hebat, membanjiri seluruh urat nadinya. Kejantanan Bram berdenyut sangat keras, terasa luar biasa penuh hingga cairan praseksual mulai merembes keluar, membasahi celana dalamnya.

Ia bisa merasakan embusan napas Satria yang hangat di bahunya. Bau tubuh Satria—campuran sabun, keringat, dan aroma jantan yang khas—terasa sangat memabukkan bagi Bram. Tangannya yang besar mengepal kuat di sisi tubuhnya, berjuang melawan dorongan untuk langsung membalikkan badan, menindih Satria, dan menghujamkan seluruh energinya ke dalam raga pemuda di sampingnya itu.

Bram menoleh sedikit, menatap wajah Satria yang tampak tenang dalam tidurnya. Cahaya lampu minyak memperjelas garis rahang Satria dan lehernya yang bersih. Bram merasakan insting ‘Paku’ di dalam dirinya berteriak menuntut dominasi. Ia ingin mengklaim raga ini, memastikan bahwa Hamparan ini hanya miliknya dan tidak akan pernah lepas.

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan gemetar, seolah dikendalikan oleh kekuatan di luar nalar, Bram mulai menggerakkan tangan kanannya. Jemarinya yang besar menyentuh pinggang Satria, merasakannya di balik kain kaus, lalu perlahan turun. Ia membiarkan telapak tangannya beristirahat di pangkal paha Satria, merasakan kekerasan otot dan panas yang memancar dari sana.

Napas Bram menjadi semakin kasar. Ia menyadari bahwa malam ini, pertahanannya sebagai seorang ketua yang logis telah hancur total oleh panggilan purba tanah Lemah Paranti yang menuntut kurban kenikmatan. Di tengah kegelapan kamar yang pengap, ia hanya bisa menunggu, membiarkan gairahnya mendidih hingga batas akhir sebelum mimpi buruk yang sebenarnya dimulai.