Pustaka Sahawn

Part 1: The Iron Gate

Matahari Jakarta bulan Oktober itu nggak punya belas kasihan. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, tapi aspal di depan gedung Office Tower Sudirman sudah mengeluarkan uap tipis yang bikin pandangan agak berbayang. Di tengah kepungan gedung pencakar langit yang berkilau kaca, ada satu titik yang terasa jauh lebih panas dan jauh lebih keras: gerbang masuk area logistik dan parkir staf.

Di sana, berdiri seorang pria yang seolah-olah dipahat dari batu kali.

Bara Mahendra.

Dia berdiri dengan kaki terbuka lebar, posisi sempurna seorang penjaga yang nggak akan goyah meski ditabrak truk sekalipun. Seragam biru tuanya—yang ukurannya sebenarnya sudah paling besar di koperasi—masih terlihat kekecilan di bagian bahu. Otot trapezius-nya menonjol, menarik kerah seragamnya sampai mencekik lehernya yang kecoklatan. Lengan pendeknya berakhir tepat di tengah bisep yang berurat, menonjolkan kulit sawo matang yang berkilat karena peluh.

Bara nggak pakai kacamata hitam. Dia membiarkan mata elangnya yang tajam menantang silau matahari, menyipit setiap kali ada mobil box atau motor karyawan yang mendekat. Dia bukan tipe satpam lobby yang dilatih untuk tersenyum ramah dan membukakan pintu sambil membungkuk "Selamat pagi, Pak". Bara adalah filter pertama. Dia yang menentukan siapa yang boleh masuk ke ‘wilayahnya’ dan siapa yang harus angkat kaki.

Tatapannya dingin, bibirnya hampir selalu terkatup rapat, menciptakan garis rahang yang sangat tegas—begitu tajam sampai-sampai siapapun yang lewat bakal merasa segan, atau justru diam-diam menelan ludah.

Dari kejauhan, Kenzo ‘Ken’ Wijaya keluar dari stasiun MRT dengan langkah yang dipaksakan untuk terlihat santai. Kemeja slim-fit warna biru langitnya tampak sempurna, menyatu dengan kulitnya yang putih bersih. Wangi parfum Jo Malone varian Wood Sage & Sea Salt yang segar menguar dari lehernya, kontras dengan bau knalpot dan debu jalanan.

Tapi, begitu matanya menangkap sosok jangkung di depan gerbang itu, langkah Ken goyah.

Ini sudah jadi ritual pagi yang menyiksa sekaligus dinanti. Setiap hari, Ken sengaja tidak naik ojek online sampai depan lobby. Dia memilih turun di stasiun dan jalan kaki lewat gerbang belakang, lewat ‘wilayah’ Bara.

Ken menelan ludah. Dadanya mulai bergemuruh. Dia bisa merasakan hawa maskulin yang terpancar dari Bara bahkan dari jarak sepuluh meter. Bara sedang memegang tongkat lalu lintas, mengarahkan sebuah mobil box dengan gerakan tangan yang efisien dan kasar. Urat-urat di punggung tangan Bara yang besar dan kecoklatan itu tampak berdenyut setiap kali dia mengepalkan tangan.

'Gila... kenapa dia harus se-intimidatif itu?' batin Ken.

Saat Ken sampai di depan portal, dia harus lewat tepat di samping Bara. Ruang di antara portal dan pos jaga itu sempit. Ken bisa mencium aroma itu lagi—aroma yang mulai menghantui mimpinya. Itu bukan aroma parfum mahal. Itu adalah aroma pria yang bekerja di bawah matahari: bau keringat yang asin, bau rokok kretek yang menempel di serat baju, dan bau sabun batangan yang sangat maskulin.

"Pagi, Pak Bara," sapa Ken pelan. Suaranya terdengar terlalu halus, hampir seperti bisikan yang tertelan bising klakson.

Bara menoleh. Perlahan.

Mata elang itu jatuh tepat di mata Ken. Hanya sekilas, tapi Ken merasa seperti ditelanjangi di tengah jalan. Bara tidak tersenyum. Dia hanya memberikan anggukan kaku yang sangat irit tenaga. Tatapannya kemudian turun, menyisir kemeja rapi Ken, turun ke pinggangnya yang ramping, lalu berhenti sejenak di sepatu oxford Ken yang mengkilap.

"Pagi," jawab Bara. Suaranya rendah, serak, dan punya vibrasi bass yang bisa dirasakan Ken sampai ke tulang belakangnya.

Ken mempercepat langkahnya, masuk ke dalam gedung dengan wajah yang terasa terbakar. Dia merasa sangat kerdil di hadapan pria lulusan STM itu. Dia, seorang akuntan dengan gelar sarjana, merasa harga dirinya luruh hanya karena satu sapaan dari seorang satpam yang bahkan mungkin nggak tahu nama lengkapnya.

Jam makan siang adalah siksaan kedua.

Biasanya Ken makan di kafetaria lantai 12 yang sejuk dan mewah. Tapi hari ini, dia melakukan sesuatu yang nekat. Dia turun ke area luar, berjalan menuju warung Nasi Padang di gang samping gedung. Dia memesan satu bungkus—lauk rendang, paru goreng, dan sambal hijau ekstra.

Dengan plastik berminyak di tangan, dia berjalan kembali ke arah pos jaga gerbang depan.

Matahari makin garang. Di dalam pos yang ukurannya nggak lebih dari 2x2 meter itu, Bara sedang duduk di kursi kayu. Dia melepaskan topinya, memperlihatkan rambut hitam pendek yang agak basah karena keringat. Dua kancing teratas seragamnya terbuka, memperlihatkan sedikit bagian dadanya yang bidang dan kulitnya yang menggelap.

"Pak Bara," panggil Ken, berdiri di luar jendela pos yang terbuka.

Bara mendongak. Dia sedang mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang sudah tidak putih lagi. Dia tampak sedikit terkejut, tapi ekspresinya segera kembali datar dan dingin.

"Ya? Ada apa, Mas?"

"Ini... tadi saya beli Nasi Padang, terus kebetulan ada teman yang nggak jadi ikut makan. Daripada mubazir, buat Bapak aja," Ken berbohong. Tangannya yang memegang plastik gemetar sedikit.

Bara melihat plastik itu, lalu menatap Ken lama. Sunyi. Hanya suara kipas angin kecil di dalam pos yang berputar berisik tapi malas. Ken merasa seperti sedang diinterogasi.

"Temen nggak jadi makan, atau sengaja beli buat saya?" tanya Bara tiba-tiba. Suaranya datar, tapi matanya mengunci mata Ken.

Ken membeku. "Eh... itu, beneran sisa kok, Pak."

Bara berdiri. Tinggi badannya yang hampir 190 cm dengan sepatu boot membuat pos itu terasa makin sempit. Dia mendekat ke jendela, membuat Ken harus mendongak. Jarak mereka hanya terhalang kusen jendela kayu.

Tangan Bara yang besar, kasar, dan penuh urat terulur untuk mengambil plastik itu. Saat jari mereka bersentuhan, Ken merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat jantungnya. Kulit Bara terasa panas, keras, dan kapalan di bagian telapak. Sangat kontras dengan tangan Ken yang halus.

"Makasih," kata Bara pendek. Dia menatap bungkusan itu, lalu kembali menatap Ken. Kali ini, tatapannya tidak sedingin tadi. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih tajam, seperti predator yang baru saja menemukan umpan menarik. "Lauknya apa?"

"Rendang sama paru, Pak. Sama sambel ijonya saya minta banyakin."

Bara menyeringai tipis. Sangat tipis. "Suka yang pedas-pedas ya, Mas Ken?"

Ken hanya bisa mengangguk bodoh. Dia merasa oksigen di sekitarnya mendadak habis. Aroma tubuh Bara yang maskulin dan panas memenuhi rongga hidungnya.

"Ya sudah. Balik sana ke kantor. Nanti dicariin bosnya," kata Bara, seolah-olah dia yang memegang kendali atas jadwal Ken.

Ken berbalik dan berjalan menjauh dengan kaki yang terasa lemas. Di belakangnya, dia tahu Bara masih memperhatikannya. Dia bisa merasakan mata elang itu tertuju pada punggungnya, turun ke arah pantatnya yang terbungkus celana kain ketat, sebelum akhirnya Bara kembali duduk untuk membuka bungkusan nasi itu.


Sore harinya, hujan turun deras mengguyur Jakarta. Ken tertahan di lobby, menunggu ojeknya yang tak kunjung datang. Dia melihat ke arah luar, ke arah gerbang depan yang mulai gelap.

Di bawah lampu jalan yang remang, dia melihat siluet Bara. Pria itu memakai jas hujan plastik transparan yang terlihat sangat ketat di badannya yang besar. Dia sedang sibuk mengatur lalu lintas mobil yang keluar, basah kuyup, tapi tetap terlihat sangat tangguh.

Ken memperhatikan bagaimana air hujan mengalir di wajah tegas Bara, membasahi dadanya yang terlihat dari balik jas hujan yang terbuka sedikit. Bara tampak tidak peduli dengan badai. Dia berdiri di sana seperti penguasa jalanan.

Tiba-tiba, Bara menoleh ke arah lobby. Dia melihat Ken.

Bara tidak melambaikan tangan. Dia hanya menatap Ken selama beberapa detik di tengah guyuran hujan. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat dan sengaja, Bara mengusap wajahnya yang basah dengan tangan kasarnya, lalu lidahnya keluar sedikit menjilat tetesan air di bibirnya—matanya tidak pernah lepas dari Ken.

Dada Ken naik turun. Dia merasa celananya mendadak terasa sangat sempit dan menyesakkan. Dia tahu, mulai hari ini, Nasi Padang itu bukan lagi sekadar pemberian. Itu adalah undangan. Dan Bara baru saja mengonfirmasi bahwa dia sudah menerima ‘persembahan’ itu.

Yawlah kenapa gue obsessed banget sama karakter satpam?! Wkwkwk selingan gaes, biar gak bosen :v