Pustaka Sahawn

Part 2: The Urinal Game

Pagi setelah kejadian hujan itu, suasana di kantor terasa beda bagi Ken. Setiap kali dia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi atau di kaca lift, dia teringat tatapan Bara yang menjilat tetesan air di bibir. Ken jadi nggak fokus. Angka-angka di layar monitornya kayak menari-nari, berubah jadi bayangan urat-urat di tangan besar Bara.

Bara sendiri makin berani. Dia nggak lagi cuma mengangguk kaku. Sekarang, setiap kali Ken lewat, Bara sengaja mengatur posisinya. Dia bakal berdiri sambil bertumpu pada portal, satu tangannya masuk ke saku celana yang ketat, membuat otot pahanya tercetak jelas. Matanya bakal mengikuti Ken dari ujung kaki sampai ujung kepala, tanpa berkedip, sampai Ken masuk ke pintu putar lobby dengan wajah merah padam.

"Tumben, Bar, nggak ngerokok?" tegur Yanto, rekan kerjanya, suatu siang.

Bara cuma menyeringai, matanya tetap tertuju pada sosok Ken yang baru saja turun dari mobil jemputan. "Lagi nunggu 'cemilan', Bang," jawabnya pendek dengan suara bass yang bergetar.


Jam dua siang. Kantor sedang di puncak kesibukannya, tapi lantai dasar—area dekat gudang dan parkir dalam—selalu sepi di jam-jam begini. Ken turun ke bawah, alasannya mau ke koperasi, tapi langkahnya malah membawanya ke toilet umum di dekat area loker satpam.

Ken butuh membasuh wajahnya. Dia merasa gerah yang nggak wajar.

Begitu dia masuk ke toilet yang bernuansa keramik putih dingin itu, suasana sangat sunyi. Hanya ada suara dengung kipas pembuangan udara. Ken berdiri di depan urinoir, mencoba menenangkan diri. Namun, baru saja dia membuka resleting celananya, pintu toilet terbuka dengan suara brak yang berat.

Langkah kaki itu. Ken tahu persis bunyi sepatu boot itu.

Bara masuk. Dia nggak langsung ke urinoir. Dia berjalan perlahan di belakang Ken, langkahnya sengaja dibuat terdengar berat. Ken bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu saat dia lewat di belakangnya. Bara tidak memilih urinoir yang jauh. Dia berhenti, lalu berdiri tepat di urinoir sebelah Ken. Padahal, ada deretan urinoir kosong lainnya.

Ken membeku. Nafasnya tertahan di tenggorokan.

Bara tidak langsung buang air. Dia berdiri tegak, tangannya yang besar dan kasar meraih sabuk hitamnya yang lebar. Suara gesekan kulit sabuk dan gemerincing kepalanya terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ken bisa melihat dari sudut matanya, Bara membuka resletingnya dengan satu sentakan kasar. Srek.

"Kok nggak lanjut, Mas Ken?" suara Bara memecah kesunyian. Rendah, serak, dan penuh intimidasi.

Ken tidak bisa menjawab. Dia merasa matanya punya kehendak sendiri. Dia melirik sedikit ke arah samping. Di sana, di balik tangan besar Bara yang kecoklatan, Ken melihatnya. Kejantanan Bara yang gelap, besar, dan sangat maskulin—tampak sangat kontras dengan keramik putih bersih di bawahnya.

Bara sengaja memiringkan sedikit tubuhnya. Dia tidak menutupi apa-apa. Malah, dia seolah memamerkan ‘aset’ mentahnya itu pada Ken. Dia membiarkan Ken melihat setiap detailnya selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam.

"Mau dibantuin? Kayaknya susah keluar ya?" bisik Bara lagi. Kali ini dia menoleh, menatap Ken yang sudah berkeringat dingin di pelipisnya.

Ken hampir tersedak ludahnya sendiri. "N-nggak, Pak. Udah selesai."

Ken buru-buru merapikan celananya, tangannya gemetar hebat sampai dia hampir nggak bisa menarik resletingnya ke atas. Dia segera berbalik ke arah wastafel, mencoba membasuh tangan dengan air sedingin mungkin, tapi bayangan apa yang baru saja dia lihat di urinoir sebelah tetap tertanam kuat di kepalanya.

Bara belum selesai. Dia sengaja berlama-lama. Saat dia selesai, dia tidak langsung merapikan diri. Dia berdiri di sana sambil memegang kejantanannya sebentar, lalu dengan santai memasukkannya kembali ke dalam celana tanpa terburu-buru.

Dia berjalan ke arah wastafel, berdiri tepat di samping Ken. Bara sangat tinggi, bahunya yang lebar menutupi sebagian besar cermin di depan mereka. Bau rokok murah dan bau tubuh pria yang berkeringat langsung menyergap Ken tanpa belas kasihan.

Bara mematikan kran air yang sedang digunakan Ken dengan tangannya yang besar. Dia mencengkram pinggiran wastafel, mengurung Ken di antara tubuhnya dan meja marmer.

"Mas Ken..." bisik Bara, kepalanya menunduk sampai nafas panasnya terasa di leher Ken. "Lain kali kalau mau liat, bilang. Nggak usah ngintip-ngintip kayak maling."

Tangan Bara yang kasar tiba-tiba bergerak ke bawah, masuk ke saku celana kain Ken dan sedikit meremas paha Ken di sana. Hanya sebentar, tapi tekanannya begitu kuat sampai Ken mengeluarkan desahan kecil yang tertahan.

Bara melepaskannya, lalu tersenyum tipis—senyum yang benar-benar nakal dan penuh kemenangan. Dia mengambil topi satpamnya yang diletakkan di atas wastafel, lalu berjalan keluar begitu saja seolah nggak ada kejadian apa-apa.

Ken bersandar di wastafel, kakinya lemas seperti jeli. Dia menatap bayangannya di cermin; wajahnya merah padam, rambutnya sedikit berantakan, dan yang paling parah... bagian depan celananya sudah benar-benar menonjol, sesak, dan basah.


Sore harinya, saat Ken hendak pulang, dia harus melewati pos jaga lagi. Bara sedang berdiri di sana, memegang kopi kaleng pemberian Ken tadi pagi. Begitu Ken lewat, Bara tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengangkat kopi kaleng itu sedikit, lalu dengan mata yang tajam, dia menunjuk ke arah gang kecil di samping pasar yang ada di belakang gedung dengan dagunya.

Itu adalah isyarat. Sebuah perintah tanpa kata.

Bara mengeluarkan ponsel jadulnya dari saku, lalu sedetik kemudian ponsel Ken bergetar di saku kemejanya. Sebuah pesan masuk dari nomor baru yang nggak dikenal.

"Kontrakan ijo, pintu paling ujung. Jam 8 malam. Bawa nasi lagi, saya laper."

Ken menarik napas dalam. Dia tahu dia masuk ke dalam lubang macan. Dia tahu pria seperti Bara bisa menghancurkannya dalam sekejap. Tapi melihat bagaimana otot lengan Bara menonjol saat memegang kopi itu, Ken tahu dia nggak akan punya kekuatan untuk menolak. Dia akan melompat dengan sukarela dan menikmati kehancurannya sendiri.