Part 3: The Green Room
Malam itu, Jakarta kayak lagi dikukus. Hujan sore tadi nggak bikin adem, malah bikin aspal ngeluarin uap panas yang lembab dan bikin gerah. Ken berjalan menyusuri gang sempit di belakang pasar dengan langkah yang ragu. Sepatu oxford-nya yang mahal berkali-kali harus menginjak genangan air keruh dan tanah becek. Bau sampah pasar yang menyengat bercampur aroma gorengan pinggir jalan menusuk hidungnya.
Sangat jauh dari kenyamanan apartemennya yang ber-AC.
Ken berhenti di depan deretan kontrakan petak. Cat hijaunya sudah kusam, banyak yang mengelupas kena jamur. Di ujung gang, dia melihat pintu paling ujung. Ada motor naked tua yang diparkir miring di depannya. Itu motor yang sering Ken lihat dipakai Bara di parkiran basement.
Tangan Ken gemetar saat mengetuk pintu kayu itu. Tok.. tok.. tok..
Pintu terbuka dengan suara derit yang kasar. Bara berdiri di sana. Dia cuma pakai celana kolor hitam pendek dan kaos dalam singlet putih yang sudah agak melar di bagian leher dan kekuningan. Pakaian itu memperlihatkan segalanya: lengan yang besar dan berurat, serta tulang selangka yang tegas. Kulitnya yang gelap berkilat karena keringat di bawah lampu bohlam kuning yang redup.
"Masuk," kata Bara singkat. Suaranya lebih berat dari biasanya, serak karena rokok, atau sesuatu yang coba dia tekan.
Ken melangkah masuk. Kamar itu sempit, mungkin cuma 3x3 meter. Nggak ada kursi, cuma ada satu kasur lantai tipis di pojokan dengan sprei warna gelap yang sudah kusam. Sebuah kipas angin besi berputar dengan suara nging yang berisik, berusaha melawan udara pengap yang dipenuhi bau rokok dan aroma maskulin Bara yang sangat pekat.
"Ini... nasinya, Pak," Ken menyodorkan plastik putih dengan kaku.
Bara nggak mengambil plastik itu. Dia malah menutup pintu di belakang Ken dan menguncinya. Klik. Bunyi kunci itu kedengaran kayak vonis buat Ken.
"Taruh di lantai," perintah Bara. Matanya nggak lepas dari mata Ken.
Ken patuh. Dia berjongkok buat naruh nasi itu, tapi saat dia mau berdiri lagi, Bara sudah ada tepat di depannya. Jarak mereka habis. Ken bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Bara yang besar.
Bara meraih dagu Ken dengan tangannya yang kasar. Jari jempolnya yang kapalan mengusap bibir bawah Ken dengan tekanan yang nggak main-main. "Wangi banget kamu, Mas. Parfum mahal ya?"
"I-iya, Pak..." Ken hampir nggak bisa ngeluarin suara.
Bara mendekatkan wajahnya ke leher Ken, menghirup aroma parfum citrus itu dalam-dalam, lalu mendengus kasar. "Wangi kamu bikin mual di tempat kayak gini. Bau orang kaya. Bau orang yang nggak pernah susah."
Tiba-tiba, tangan Bara yang satu lagi mencengkram pinggang Ken dan menariknya sampai dada mereka bertabrakan. Ken terkesiap. Dia bisa ngerasain otot dada Bara yang keras kayak papan di balik singlet tipisnya.
"Tahu nggak, Mas? Di kantor, saya harus hormat sama orang-orang kayak kamu. Harus bukain pintu, harus jaga gerbang biar kalian aman di dalem ruangan ber-AC," bisik Bara tepat di telinga Ken. Napasnya bau tembakau, tapi entah kenapa itu justru bikin Ken makin lemas. "Tapi di sini... di kamar ini... kamu bukan siapa-siapa. Kamu cuma cowok yang dari kemarin ngintipin selangkangan saya, kan?"
Ken memejamkan mata, kepalanya terkulai di bahu Bara. "Maaf, Pak..."
"Jangan minta maaf. Kamu ke sini karena kamu pengen ini, kan?" Bara tiba-tiba merenggut kemeja Ken, menariknya keluar dari sabuk celananya dengan kasar. Satu kancing atas kemeja Ken terlepas, jatuh ke lantai semen yang dingin.
Bara mendorong Ken sampai jatuh ke atas kasur lantai yang tipis. Bara merangkak naik, mengurung tubuh Ken dengan kedua tangannya yang besar. Di bawah lampu kuning yang remang, Bara terlihat sangat mengintimidasi. Otot-otot lengannya menegang, urat-uratnya menonjol saat dia menumpu berat badannya.
"Kulit kamu putih banget, Mas. Mulus," tangan Bara yang kasar mulai merayap masuk ke dalam kemeja Ken, mengusap perut dan dada Ken dengan gerakan yang nggak ada lembut-lembutnya sama sekali. Gesekan kulit kasar Bara di kulit sensitif Ken bikin Ken mendesah keras.
Bara menyeringai. Dia menikmati bagaimana Ken gemetar di bawahnya. "Saya ini kasar, Mas. Saya nggak tahu cara main yang cantik kayak di film-film. Kamu yakin mau lanjut?"
Ken nggak menjawab dengan kata-kata. Dia malah melingkarkan tangannya di leher Bara, menarik pria itu lebih dekat. Dia butuh rasa sakit dan dominasi ini buat matiin rasa penasarannya yang udah di ujung tanduk.
Bara nggak nunggu lama. Dia langsung merobek sisa kancing kemeja Ken.
—
Ken terengah-engah di atas kasur lantai yang keras itu. Punggungnya bisa merasakan tekstur lantai semen yang dingin di balik kasur tipis, sementara di atasnya, tubuh Bara terasa seperti bongkahan logam panas yang siap melelehkannya.
Bara tidak memberikan kesempatan untuk Ken menyesuaikan diri. Tangan besarnya yang kapalan merenggut kedua pergelangan tangan Ken, lalu menguncinya di atas kepala dengan hanya satu tangan. Cengkeramannya begitu kuat sampai Ken meringis.
"Sakit, Mas?" tanya Bara, suaranya rendah dan serak, sama sekali tidak terdengar menyesal. Dia malah makin menekan pergelangan tangan Ken ke lantai. "Baru diginiin aja sudah mau nangis. Katanya pengen main sama saya?"
Bara menunduk, mencium leher Ken dengan kasar—bukan ciuman, tapi lebih seperti gigitan kecil yang meninggalkan bekas merah keunguan di kulit Ken yang putih bersih. Ken mendongak, lehernya menegang, dan desahan pasrah keluar dari mulutnya saat lidah Bara yang hangat dan kasar menjilat bekas gigitannya sendiri.
"Pak... Pak Bara..." Ken memanggil, suaranya serak.
"Jangan panggil 'Pak' di sini. Nama saya Bara," bisik Bara tepat di depan bibir Ken.
Bara melepaskan satu tangannya untuk menarik paksa celana kain mahal Ken. Dia tidak peduli kalau kain halus itu bergesekan kasar dengan kulit Ken yang sensitif. Begitu Ken hanya tersisa dengan pakaian dalamnya, Bara berhenti sejenak. Dia menatap tubuh Ken di bawah cahaya lampu kuning yang redup. Kontrasnya gila: Ken yang sangat bersih, mulus, dan wangi, di bawah Bara yang gelap, berkeringat, dan penuh urat.
Tangan kasar Bara mulai bergerilya di tubuh Ken. Dia meremas dada Ken, mengusap perutnya yang rata dengan tekanan yang sengaja dibuat berat. Setiap kali tangan kapalan itu bersentuhan dengan kulit Ken, Ken merasa seperti disengat listrik. Sensasi kasar dari telapak tangan seorang pekerja fisik benar-benar menghancurkan pertahanan Ken.
"Badan kamu lembek ya, Mas," ejek Bara sambil menyeringai nakal. Dia kemudian melepaskan singlet putihnya, memperlihatkan dada bidangnya yang berbulu tipis dan otot perut yang keras. Dia menekan tubuh telanjangnya ke dada Ken, membiarkan keringatnya yang asin menempel pada kulit Ken yang dingin karena AC kantor tadi.
Bara kemudian meraih kejantanannya sendiri—yang sudah menonjol sejak di toilet tadi siang—dan membiarkan Ken merasakan betapa sialnya dia malam itu. Bara tidak menggunakan kata-kata manis. Dia langsung mengambil kendali penuh atas tubuh Ken.
Bara memaksa Ken untuk melayani nafsu liarnya yang sudah tertahan sejak melihat Ken lewat di gerbang pagi tadi. Saat Ken berusaha mengikuti tempo Bara, Bara justru makin agresif. Dia menjambak rambut Ken dengan lembut tapi tegas, memaksa Ken untuk terus menatap mata elangnya saat mereka sedang dalam puncak gairah.
"Liat saya, Ken," perintah Bara, untuk pertama kalinya memanggil nama Ken tanpa embel-embel 'Mas'. "Liat siapa yang sekarang di atas kamu. Masih mau sombong sama parfum wangi kamu ini?"
“N-nggak, Ma-s.. Ahhh..”
Ken menggelengkan kepala, matanya sayu dan berair karena stimulasi yang berlebihan. Dia benar-benar dihancurkan oleh kekuatan fisik Bara. Setiap gerakan Bara terasa sangat kuat, mantap, dan mendominasi. Tidak ada keraguan, tidak ada keromantisan. Hanya ada penyaluran nafsu dari seorang pria straight yang baru menyadari betapa nikmatnya memiliki kekuasaan mutlak atas seorang laki-laki yang biasanya dia hormati di depan umum.
Puncaknya, Bara benar-benar membuat Ken tidak bisa bernapas. Dia memeluk Ken dengan pelukan menghancurkan yang sangat erat saat dia mencapai pelepasannya. Aroma keringat, bau tembakau, dan sensasi kulit kasar yang saling bergesekan menciptakan memori yang akan terus menghantui Ken setiap kali dia melihat Bara berdiri di pos jaga esok hari.
Bara kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Ken, napasnya memburu. Dia tidak langsung bangun. Dia merogoh saku celananya yang tergeletak di lantai, mengambil sebatang rokok kretek, dan menyalakannya. Di tengah kepulan asap rokok yang berat, Bara menoleh ke arah Ken yang masih terkapar lemas dan telanjang dengan kemeja robek di sampingnya.
Bara menghembuskan asapnya ke udara, lalu menyeringai tipis melihat bekas merah di paha dan leher Ken. "Besok jangan telat masuk kantor. Saya yang jaga gerbang pagi," katanya, kembali ke mode satpamnya yang cuek, seolah barusan tidak terjadi apa-apa yang luar biasa di antara mereka.
Ken hanya bisa terdiam, merasakan perih yang nikmat di seluruh tubuhnya. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.