Part 4: The Hidden Danger
Pagi itu, AC di kantor lantai 5 rasanya nggak sanggup mendinginkan suhu tubuh Ken. Dia duduk di depan komputer, tapi tangannya yang memegang mouse sesekali bergetar. Ken memakai kemeja kerah tinggi dan mengancingkannya sampai paling atas, sesuatu yang nggak biasa dia lakukan. Dia harus menutupi bekas gigitan dan cupang berwarna ungu gelap di pangkal lehernya—oleh-oleh dari cengkeraman Bara semalam.
Setiap kali Ken bergerak, dia merasakan perih di paha dalam dan pegal di pinggangnya. Itu adalah pengingat fisik yang konstan tentang betapa kasarnya Bara memperlakukannya di atas kasur lantai semalam.
"Ken, lu sakit? Kok tumben rapet banget kemejanya? Gerah lho hari ini," tanya Siska, rekan kerjanya, sambil lewat membawa kopi.
Ken tersentak, hampir menjatuhkan tumpukan dokumen. "Eh... nggak kok, Sis. Lagi agak nggak enak badan aja, kedinginan."
Siska mengernyitkan dahi tapi kemudian berlalu. Ken menghela napas panjang. Dia merasa seperti penjahat yang membawa barang selundupan di dalam tubuhnya sendiri.
Jam makan siang. Ken terpaksa harus turun karena ada dokumen yang harus dikirim via kurir di lobby. Mau nggak mau, dia harus melewati gerbang depan lagi.
Bara ada di sana. Hari ini dia memakai kacamata hitam, berdiri tegak di samping portal. Begitu dia melihat Ken berjalan keluar dari pintu kaca lobby, Bara sengaja melangkah ke tengah jalan, seolah-olah sedang memeriksa kendaraan yang mau masuk, padahal dia cuma mau menghalangi jalur jalan kaki Ken.
Ken berhenti tepat di depan dada bidang Bara. Bau seragam yang baru dicuci—tapi tetap membawa sisa aroma maskulin Bara—langsung menyerang penciuman Ken.
"Siang, Pak," sapa Ken formal, matanya menatap aspal, takut kalau matanya bakal bicara terlalu banyak.
Bara tidak langsung menjawab. Dia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap kerah kemeja Ken yang tertutup rapat. Seringai tipis yang sangat nakal muncul di wajahnya.
"Rapih banget kancingnya, Mas. Takut masuk angin atau takut kelihatan?" bisik Bara. Suaranya rendah sekali, hanya bisa didengar oleh Ken di tengah bising knalpot motor.
"Pak, tolong... ini di kantor," bisik Ken panik, matanya melirik ke arah CCTV di atas gerbang.
"CCTV nggak denger suara, Mas Ken," sahut Bara santai. Dia kemudian sengaja mendekat, tangan kanannya yang besar pura-pura membetulkan posisi tali tanda pengenal yang menggantung di leher Ken.
Saat tangannya bergerak di depan dada Ken, ujung jari telunjuk Bara yang kasar sengaja menekan tepat di atas tulang selangka Ken—tepat di mana bekas gigitan paling dalam berada. Ken tersentak, desahan tertahan keluar dari bibirnya.
"Sakit?" tanya Bara, matanya berkilat di balik kacamata hitam. "Makanya, kalau nggak kuat dikasarin, jangan nantang di kontrakan."
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah klakson di belakang mereka. Yanto, satpam senior, keluar dari pos. "Woi, Bar! Ngapain lu di situ? Itu Pak Direktur mau masuk!"
Bara langsung kembali ke posisi tegap seolah tidak terjadi apa-apa. "Siap, Bang! Lagi bantuin Mas Ken benerin ID Card-nya nyangkut!" teriak Bara lantang.
Bara melirik Ken terakhir kali sebelum membuka portal. "Hati-hati, Mas. Jangan sampai kancingnya lepas lagi."
Sore harinya, situasi makin berbahaya. Ken harus lembur karena penutupan buku akhir bulan. Kantor mulai sepi satu per satu. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ken baru saja selesai dan berjalan menuju lift.
Saat pintu lift terbuka di lantai dasar yang sudah gelap, dia melihat sosok jangkung sedang berdiri di koridor menuju gudang belakang. Itu Bara. Dia sedang shift malam.
Bara tidak pakai topi. Rambutnya berantakan, dan dia sedang menghisap rokok (yang sebenarnya dilarang di dalam koridor). Begitu melihat Ken keluar lift, Bara mematikan rokoknya dengan menginjaknya di lantai semen, lalu menunjuk ke arah gudang arsip yang pintunya sedikit terbuka.
"Ikut saya sebentar. Ada dokumen 'logistik' yang katanya belum lengkap," kata Bara keras, buat jaga-jaga kalau ada petugas kebersihan yang dengar.
Ken tahu itu kode. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Dia mengikuti punggung lebar Bara masuk ke dalam gudang yang dipenuhi rak-rak besi dan tumpukan kardus. Begitu Ken masuk, Bara langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Kondisi gudang itu gelap, hanya ada sedikit cahaya dari celah ventilasi.
Bara langsung menyudutkan Ken ke rak besi. Bunyi klontang besi yang bergetar membuat adrenalin Ken meledak.
"Pak... nanti ada patroli..."
"Saya yang patroli malam ini, Ken. Nggak ada yang bakal berani masuk sini," Bara langsung meraup bibir Ken. Ciuman mereka kali ini lebih lapar, lebih mendesak karena ada sensasi takut ketahuan.
Tangan Bara yang besar langsung merobek paksa dua kancing teratas kemeja Ken yang tadi pagi dia ejek. Dia ingin melihat ‘karyanya’ semalam. Di bawah cahaya remang, bekas-bekas merah itu terlihat kontras di kulit putih Ken.
"Bagus. Masih merah," bisik Bara puas.
Baru saja Bara mau bertindak lebih jauh, terdengar suara langkah kaki dan suara HT yang berbunyi di luar pintu gudang.
"Bar? Bara? Posisi di mana? Itu pintu gudang kok kunci dari dalem?" Itu suara Yanto yang lagi keliling.
Ken membeku. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya tertahan. Jarak mereka sangat dekat, Ken bisa merasakan jantung Bara yang berdetak kuat di dadanya. Bara tetap tenang. Dia malah memberikan isyarat supaya Ken diam dengan menaruh telunjuk di bibir, sementara tangannya yang satu lagi masih meremas pinggang Ken.
Tensi di dalam gudang itu bukan lagi cuma nafsu, tapi benar-benar danger yang nyata.