Pustaka Sahawn

Part 5: The Warehouse Peak

Suara ketukan di pintu gudang itu terdengar seperti dentum martir di telinga Ken. Tok! Tok! Tok!

"Bar? Lu di dalem?" Suara Yanto di balik pintu terdengar makin curiga. Suara statis dari HT-nya sesekali memecah keheningan koridor yang gelap.

Ken memejamkan mata erat, tangannya mencengkeram lengan kekar Bara sampai kuku-kukunya memutih. Dia sudah membayangkan karirnya hancur, skandal di kantor, dan wajah kecewa orang tuanya. Tapi Bara? Pria itu tetap setenang batu karang.

Bara malah memberikan seringai tipis yang sangat nakal ke arah Ken. Dia menarik napas dalam, lalu berteriak dengan suara serak khas orang baru bangun tidur—akting yang sangat sempurna.

"Oi, Bang! Bentar! Lagi benerin lampu pojok nih, korslet tadi!"

Bara tetap menempelkan tubuhnya ke tubuh Ken, sengaja menekan Ken ke rak besi sampai rak itu berderit pelan. Tangan besarnya masih mengunci pinggang Ken.

"Oalah, pantesan gelap. Buruan keluar, temenin gue ngopi di depan, ngantuk nih!" teriak Yanto lagi. Langkah kakinya terdengar menjauh, tapi suara HT-nya masih lamat-lamat terdengar.

Bara menunggu sampai suasana benar-benar sepi. Dia menunduk, menatap wajah Ken yang pucat pasi di bawah cahaya remang. "Takut, Mas Ken?" bisiknya tepat di bibir Ken.

Ken hanya bisa mengangguk pelan, nafasnya mulai teratur lagi meski jantungnya masih berpacu. "Hampir ketahuan, Pak..."

"Hampir bukan berarti ketahuan," sahut Bara. "Justru itu yang bikin Mas ke sini lagi, kan? Rasa takutnya... adrenalinnya..."

Tanpa aba-aba, Bara menarik Ken ke tumpukan kardus arsip yang ditata cukup tinggi di pojok gudang, area yang benar-benar tidak tercover oleh celah jendela manapun. Dia membalikkan tubuh Ken dengan kasar, memaksa Ken bertumpu pada tumpukan kardus itu.

"Sekarang, nggak ada yang ganggu," kata Bara. Suaranya berubah jadi lebih gelap, lebih menuntut.

Bara tidak memberikan ruang untuk negosiasi. Dia merenggut sabuk kulit Ken, membukanya dengan satu sentakan yang menciptakan bunyi klik logam yang tajam di keheningan gudang. Dia tidak butuh persiapan manis. Baginya, Ken adalah tempat dia melepaskan semua penatnya sebagai pekerja kelas bawah, dan Ken sangat menikmati peran itu.

Tangan kasar Bara meraba paha dalam Ken, jari-jarinya yang kuat dan kapalan memberikan sensasi terbakar di kulit Ken yang halus. "Inget apa yang saya bilang di kontrakan? Di sini, kamu cuma mainan saya."

Bara mulai mendominasi Ken dengan cara yang sangat mentah. Setiap terjangan tenaga fisik Bara membuat tumpukan kardus di depan Ken bergoyang dan mengeluarkan suara berderit. Ken hanya bisa mencengkeram pinggiran kardus, kuku-kukunya merobek kertas karton karena menahan sensasi yang terlalu kuat.

"B-bara... pelan..." rintih Ken, suaranya terputus-putas.

"Kenapa? Takut suaranya kedengeran sampai luar?" Bara malah makin agresif. Dia menjambak rambut belakang Ken, menarik kepala Ken ke belakang agar dia bisa melihat wajah Ken yang sudah berantakan. "Napas, Ken. Jangan ditahan. Biar Yanto denger kalau dia lewat lagi."

Ken benar-benar dibuat megap-megap kehabisan napas. Oksigen di gudang itu terasa habis, digantikan oleh aroma tubuh mereka yang menyatu—parfum citrus Ken yang sudah tercemar oleh bau keringat maskulin Bara dan debu gudang. Ken merasa dunianya hanya sebatas tumpukan kardus ini dan tubuh kekar di belakangnya yang tak kenal lelah.

Puncaknya, setelah mengisi Ken dengan cairan panas dan melimpah sampai keduanya gemetar hebat, Bara memberikan satu tanda lagi—cupang yang sangat dalam dan gelap di paha dalam Ken, tepat di samping bekas yang semalam. "Biar kamu inget tiap kali mau kencing di kantor," bisik Bara puas setelah semuanya tuntas.

Bara melepaskan Ken, membiarkan staf kantoran itu merosot lemas di lantai semen yang dingin. Bara merapikan kembali seragamnya, memasang sabuk besarnya, dan membenarkan letak kancingnya seolah tidak terjadi badai barusan. Dia mengambil topinya, menatap Ken sekali lagi dengan tatapan elang yang penuh kemenangan.

"Saya keluar duluan. Lima menit lagi kamu keluar, lewat tangga darurat belakang. Jangan sampai kelihatan CCTV lobby," perintah Bara kaku, kembali ke mode satpamnya.

Bara membuka pintu gudang, melangkah keluar, dan menghilang di kegelapan koridor.



Pagi harinya, jam delapan tepat.

Ken turun dari taksi di depan gerbang kantor. Langkahnya masih agak berat, ada rasa pegal yang tertinggal di pinggangnya, dan setiap kali dia berjalan, dia merasakan perih di paha dalamnya—tanda permanen dari Bara Mahendra.

Bara berdiri di sana, di samping portal. Dia sudah rapi dengan seragam yang disetrika kaku, kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan tangan di belakang punggung. Wajahnya sedingin biasanya, seolah dia tidak pernah menyentuh Ken di atas tumpukan kardus semalam.

"Pagi, Pak," sapa Ken pelan saat melewati portal.

Bara hanya memberikan anggukan minimalis. "Pagi, Mas."

Tapi tepat saat Ken berada di titik buta CCTV, Bara sengaja melangkah maju untuk mengatur posisi motor yang mau masuk. Tangannya yang besar secara ‘tidak sengaja’ menyenggol pinggul Ken dengan tekanan yang sangat kuat, sebuah remasan singkat yang membuat tubuh Ken menegang seketika.

Bara tidak menoleh, dia terus memberikan instruksi pada pengendara motor.

Ken berjalan masuk ke lobby dengan jantung yang kembali berdebar. Dia tahu, tidak akan ada kata cinta di antara mereka. Tidak ada status "pacaran" atau kencan romantis. Bara tetaplah satpam straight yang kaku, dan dia tetaplah staf finance yang rapi.

Tapi di antara mereka, ada sebuah perjanjian bisu yang lebih kuat dari status apapun. Sebuah kebutuhan akan dominasi dan penaklukan yang hanya bisa dipuaskan di balik pintu-pintu yang terkunci. Selama Bara masih menjaga gerbang itu, Ken tahu dia akan selalu punya alasan untuk pulang terlambat.

Karena di tangan kasar sang Gatekeeper, Ken menemukan "rumah" yang paling liar.


TAMAT.