Pustaka Sahawn

Bab 1: Aspal Panas dan Tenda Kulit

Dengar, kalau kalian mengira tahu rasanya tertimpa kesialan tingkat dewa, coba bandingkan dengan pengalamanku.

Namaku Firas, tujuh belas tahun, dan satu-satunya hal yang kupahami di dunia ini dengan baik hanyalah mitologi Yunani. Ujian matematika? Nilai merah. Ujian praktik olahraga? Aku nyaris pingsan setelah disuruh lari keliling lapangan dua putaran oleh guru penjas. Tapi kalau kalian menyuruhku menyebutkan silsilah keluarga Zeus dari istri pertama sampai selingkuhan kesekian yang diubah menjadi hewan, aku bisa menjabarkannya tanpa perlu menarik nafas.

Teman-temanku menyebutku ensiklopedia berjalan yang tidak berguna. Aku sendiri lebih suka menganggap diriku sebagai pelestari sejarah kuno yang tidak diakui dunia.

Sore itu semuanya terasa sangat biasa. Sangat biasa sampai rasanya menyebalkan. Panas terik menyengat aspal kota, membuat udara di atasku seolah bergelombang. Aku sedang berjalan kaki sepulang sekolah, menyusuri trotoar yang asimetris sambil menendang kerikil liar. Telingaku tersumbat earphone, memutar podcast sejarah favoritku yang sedang membahas detail formasi tempur pasukan Myrmidons pada era Perang Troya. Pasukan paling mematikan yang dipimpin oleh Achilles.

Aku baru saja sampai di bagian pembawa acara menjelaskan betapa mengkilapnya zirah perunggu mereka, ketika suara deru mesin yang sangat bising menembus masuk ke gendang telingaku.

Aku menoleh ke kiri. Sebuah sepeda motor matic melaju dengan kecepatan ugal-ugalan, menyimpang dari jalan raya dan melompat naik ke trotoar tepat ke arahku. Pengendaranya adalah seorang pria paruh baya yang entah sedang mabuk atau sedang buru-buru mencari toilet. Yang jelas, matanya melotot panik saat melihatku.

Aku ingin melompat menghindar. Otakku sudah memberikan perintah untuk segera melenting ke samping seperti ninja. Sayangnya, tubuhku yang jarang diajak berolahraga ini punya ping yang sangat tinggi. Reaksiku lambat. Terlalu lambat.

Satu-satunya hal yang sempat kulakukan hanyalah berteriak tertahan sebelum stang motor itu menghantam tulang rusukku dengan telak.

Duniaku berputar seratus delapan puluh derajat. Ada sensasi melayang yang aneh selama sepersekian detik, diikuti oleh benturan keras di kepala, dan rasa panas aspal yang menggesek kulit lenganku. Setelah itu, semuanya berubah menjadi gelap gulita. Seperti layar TV analog yang mendadak dicabut kabelnya.

***

Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Mungkin semenit, mungkin berjam-jam, atau mungkin aku sudah mati dan sedang mengantre di meja administrasi Hades.

Sensasi pertama yang menyapaku bukan rasa sakit, melainkan bau. Bau yang sangat pekat dan asing. Kalau aku ditabrak motor, seharusnya aku berakhir di ruang gawat darurat yang wangi karbol, obat antiseptik, dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Tapi aroma yang masuk ke hidungku saat ini sama sekali tidak sesuai dengan bayanganku. Ini perpaduan antara bau keringat, debu kering, logam yang dipanaskan, dan aroma laut yang sangat asin. Sangat laut. Tidak ada rumah sakit di tengah laut, kan?

Lalu datanglah rasa sakitnya.

Kepalaku berdenyut luar biasa keras, seolah ada kurcaci yang sedang bermain drum di dalam tengkorakku. Tulang rusuk kananku nyeri saat kugunakan untuk menarik napas. Aku mengerang pelan, mencoba menggerakkan jari-jariku. Syukurlah, semuanya masih menempel pada tempatnya. Alas tempatku berbaring terasa aneh. Bukan kasur busa yang empuk, melainkan sesuatu yang kasar dan berbulu. Seperti karpet tua, tapi baunya lebih mirip hewan ternak.

"Syukurlah, kau masih bernafas."

Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar sangat dekat dengan telingaku. Suaranya berat, maskulin, tapi ada nada panik yang sangat jelas di sana.

Anehnya lagi, suara itu tidak menggunakan bahasa Indonesia. Suara itu berbicara dalam susunan kata yang rasanya bergema di bagian terdalam otakku. Sebuah bahasa yang secara logika belum pernah kupelajari, tapi entah bagaimana fungsi penerjemah otomatis di kepalaku menyala begitu saja. Aku memahaminya.

Aku memaksa kelopak mataku terbuka. Cahaya keemasan langsung menusuk pupil mataku, memaksaku mengerjap beberapa kali sampai pandanganku mulai fokus.

Hal pertama yang kulihat adalah atap tenda berwarna kecokelatan. Atap itu terbuat dari lembaran kulit hewan tebal yang dijahit kasar. Debu-debu halus menari di udara, tertiup oleh angin yang masuk melalui celah tenda.

Lalu, sebuah wajah menghalangi pandanganku.

Jantungku rasanya berhenti berdetak selama satu detik penuh. Pemuda yang menunduk menatapku ini jelas bukan dokter, bukan perawat, dan pastinya bukan bapak-bapak pengendara motor matik yang menabrakku.

Dia terlihat seumuranku, mungkin sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Rambutnya ikal berantakan, berwarna cokelat gelap dengan ujung-ujung yang terlihat agak pirang karena terlalu sering terpapar sinar matahari. Kulitnya berwarna tembaga yang sehat, seolah dia menghabiskan seluruh hidupnya di luar ruangan. Tapi yang paling membuatku salah fokus adalah matanya. Matanya berwarna cokelat madu yang terang, menatapku dengan sorot cemas yang sangat intens.

Dan oh, apakah aku sudah menyebutkan apa yang dia kenakan?

Pemuda ini memakai semacam tunik linen kasar tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang. Di atas bahunya, terdapat pelindung kulit berlapis perunggu yang terlihat berat dan... sangat asli. Goresan-goresan di permukaan logam itu menunjukkan bahwa pelindung itu bukan properti plastik murahan dari toko mainan.

"Jangan bergerak terlalu cepat," katanya lagi. Tangan kanannya yang kapalan dan terasa kasar menyentuh pundakku, menekanku pelan agar aku tetap berbaring. "Kau muntah-muntah setelah kepalamu terbentur batu karang. Tabib kamp bilang kau mungkin kehilangan ingatan sementara."

Aku menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Otakku berusaha memproses informasi ini dengan sisa-sisa kewarasan yang kupunya. Batu karang? Tabib kamp? Apa kita bahkan masih memakai kata itu?

Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang terasa sekering padang pasir. "Siapa..." suaraku terdengar serak dan menyedihkan. Aku berdeham dan mencoba lagi dengan bahasa Indonesia, tapi anehnya, yang keluar dari mulutku adalah bahasa yang sama dengan yang dia gunakan. Bahasa Yunani kuno. "Siapa kau? Di mana aku?"

Pemuda itu menghela napas panjang. Ada raut kelegaan bercampur kasihan di wajahnya. Dia bergeser sedikit, duduk di atas sebuah peti kayu di samping alas tidurku.

"Namaku Lykos," jawabnya sabar. "Kita ada di pesisir Troya. Di tenda barak pasukan Myrmidons, tentu saja. Kau bagian dari angkatan prajurit muda yang baru saja berlabuh tiga hari lalu dari Phthia."

Otakku seketika mengalami malfungsi sistem.

Troya? Myrmidons? PHTHIA?

Tiga kata itu adalah makanan sehari-hariku di Wikipedia. Itu bukan tempat yang bisa kau capai dengan naik kereta komuter atau ojek online. Itu adalah tempat dan waktu yang jaraknya sekitar tiga ribu tahun dari aspal Jakarta tempatku terakhir kali berpijak.

Aku pasti sedang bermimpi. Ya, ini pasti mimpi. Kepalaku pasti membentur trotoar terlalu keras dan sekarang alam bawah sadarku sedang memproyeksikan obsesiku terhadap sejarah Yunani menjadi halusinasi tingkat olympus. Aku meyakinkan diriku sendiri. Ini semua cuma ilusi optik dan neurologis.

Dengan sisa tenagaku, aku memaksakan diri untuk bangun dan duduk. Lykos segera mengulurkan tangan untuk menahan punggungku, tapi aku menepisnya. Reaksiku sedikit terlalu cepat, membuat kepalaku kembali berdenyut menyakitkan.

"Oke, stop," ujarku sambil mengangkat tangan, menyuruhnya diam. "Ini tidak lucu. Kalian dari komunitas cosplay mana? Siapa yang merancang ini semua? Apakah ini semacam acara prank YouTube?"

Lykos mengerutkan kening. Alis tebalnya hampir menyatu di tengah. "Kos... pelay? Perang yiota? Apa yang kau bicarakan? Kepalamu benar-benar bermasalah ya."

"Jangan pura-pura bodoh." Aku mendengus, meski nafasku tersengal karena menahan sakit di rusuk. Pandanganku menyapu sekeliling tenda. Tempat ini terlalu sempit untuk menyembunyikan kamera. Hanya ada beberapa peti kayu, tumpukan kulit hewan, dan sebuah meja kecil dengan kendi tanah liat. Lalu, mataku tertuju pada sebuah benda panjang yang tergeletak di atas meja.

Sebuah pedang.

Bukan pedang mainan dari plastik, bukan pedang kayu yang dicat perak. Itu adalah pedang perunggu sungguhan dengan gagang yang dililit kulit kasar. Pinggirannya terlihat sangat tajam, siap untuk mengoyak daging manusia kapan saja.

Aku menunjuk pedang itu dengan jari gemetar. "Kalian niat sekali sampai memesan replika senjata tajam. Biar kutebak, di luar sana ada orang berpakaian seperti Achilles yang sedang marah-marah sambil makan anggur?"

Raut wajah Lykos langsung berubah tegang. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, suaranya turun menjadi bisikan panik. "Pelankan suaramu! Kalau ada perwira yang mendengar kau menyebut nama Sang Pelides dengan nada tidak hormat seperti itu, kau akan dihukum cambuk sebelum matahari terbenam. Kau mau kita berdua mati konyol hanya karena kau gegar otak?"

Reaksi ketakutannya terlihat sangat nyata. Terlalu nyata untuk ukuran seorang aktor amatir.

Aku menatap mata Lykos lekat-lekat. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya ada kekhawatiran yang tulus dan sedikit kepanikan. Perlahan, ilusi bahwa aku sedang berada di sebuah konten sosial media mulai runtuh. Bau debu, rasa sakit di sekujur tubuhku, hembusan angin laut yang asin, dan suhu udara yang panas menyengat ini... studio macam apa yang bisa mereplikasi semua ini dengan sempurna?

Tanganku bergerak meraba pakaian yang kukenakan. Seragam sekolah putih abu-abuku sudah menghilang. Sebagai gantinya, aku memakai tunik linen kasar yang sama dengan Lykos. Kainnya menggaruk kulitku dengan cara yang sangat tidak nyaman. Ponselku tidak ada. Dompetku tidak ada. Earphoneku lenyap.

Aku mulai merasa mual. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di dahiku.

"Kau tidak bercanda, kan?" tanyaku dengan suara nyaris berbisik. "Ini sungguhan?"

Lykos menatapku dengan tatapan aneh, seolah aku baru saja menanyakan apakah air itu basah. "Tentu saja ini sungguhan. Kau jatuh tergelincir saat kita sedang berlatih formasi perisai di dekat karang. Kepalamu membentur batu dan kau pingsan selama setengah hari. Aku nyaris mengira kau akan dijemput oleh Thanatos."

Aku tidak mempedulikan ocehannya. Aku butuh bukti nyata. Aku butuh udara segar.

Aku membuang selimut bulu yang menutupi kakiku. Dengan mengabaikan rasa sakit yang menusuk di pinggang dan kepalaku, aku memaksakan diri untuk berdiri. Kakiku goyah, terasa seperti jeli, tapi aku memaksakan diri melangkah menuju celah pintu tenda yang terbuka.

"Hei, tunggu! Kau belum boleh berjalan!" Lykos berseru panik, buru-buru berdiri untuk mengejarku.

Aku tidak peduli. Aku menyingkap tirai kulit itu dengan kasar dan melangkah keluar.

Cahaya matahari sore langsung membutakan mataku selama beberapa detik. Begitu pupil mataku menyesuaikan diri, pemandangan yang terhampar di depanku membuat nafasku tercekat di tenggorokan.

Aku tidak berada di Jakarta. Aku bahkan tidak berada di abad kedua puluh satu.

Sejauh mata memandang, terhampar ribuan tenda kulit yang didirikan di sepanjang garis pantai berpasir putih. Laut Aegea membentang luas di sisi kiriku, airnya berwarna biru gelap yang indah, dihiasi oleh ratusan kapal perang hitam bermoncong tajam yang bersandar di bibir pantai. Kapal-kapal itu berjejer seperti barisan monster laut yang sedang tertidur.

Asap api unggun membumbung dari berbagai sudut perkemahan. Udara dipenuhi oleh suara ribuan pria yang sedang berteriak, tertawa, dan memaki dalam bahasa Yunani kuno. Suara dentingan palu godam yang menempa perunggu terdengar bersahut-sahutan dari arah pandai besi. Kereta-kereta kuda melintas di jalanan tanah yang berdebu, dikendalikan oleh prajurit-prajurit berotot yang mengenakan zirah lengkap.

Dan di kejauhan, tepat di depan garis perkemahan ini, menjulang sebuah dinding batu raksasa yang tidak mungkin bisa dihancurkan oleh senjata manusia mana pun. Dinding kota Troya. Tembok pertahanan legendaris yang selalu kubaca di buku-buku sejarah, kini berdiri kokoh di bawah langit senja dengan angkuhnya.

Lututku langsung kehilangan tenaga. Aku jatuh terduduk di atas tanah berdebu.

Ini bukan mimpi. Ini bukan acara 'cosplay'. Ini adalah kenyataan paling gila, paling tidak masuk akal, dan paling mematikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

Aku, Firas, cowok tujuh belas tahun yang bahkan tidak bisa melakukan push-up lima kali berturut-turut tanpa menangis, benar-benar terjebak di tengah Perang Troya. Perang paling brutal dalam mitologi Yunani, di mana rata-rata usia harapan hidup prajurit biasa tidak lebih lama dari umur lalat buah.

Lykos berjongkok di sebelahku. Tangan hangatnya kembali menyentuh bahuku.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas, berusaha mengintip wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. "Pikiranmu pasti masih sangat kacau. Ayo, kubantu kau masuk kembali. Angin laut mulai dingin."

Aku menoleh menatap Lykos. Wajahnya yang tampan namun polos itu terlihat sangat kontras dengan pemandangan brutal di sekitar kami. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, tempat ini akan menjadi lautan darah. Dia tidak tahu bahwa ribuan orang di sekitar kami ini sedang menunggu giliran untuk dibantai.

Dan yang paling parah, dia tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak bisa menggunakan pedang perunggu di atas meja itu untuk menyelamatkan diriku sendiri, apalagi menyelamatkannya.

Aku mengambil napas panjang, mencoba menekan rasa panik yang merambat naik dari perutku.

"Lykos," panggilku dengan suara bergetar.

"Ya?"

"Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk belajar cara menusuk orang tanpa membuat diriku sendiri terbunuh?"

Lykos mengerjap. Senyum canggung yang aneh tiba-tiba muncul di wajahnya, membuat lesung pipi kecil terlihat di sebelah kanan bibirnya. "Yah... mengingat kau baru saja kalah melawan batu karang, kurasa kita punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan besok pagi."