Pustaka Sahawn

Bab 2: Lari Pagi Ala Sparta

Jika kalian berpikir bangun tidur dengan leher salah bantal adalah penderitaan terbesar di pagi hari, kalian jelas belum pernah dibangunkan oleh suara terompet cangkang kerang raksasa yang ditiup tepat di telinga kalian.

Aku membuka mata dengan paksa. Hal pertama yang kurasakan adalah dingin. Suhu pesisir Laut Aegea di pagi buta ternyata tidak seindah lukisan liburan musim panas. Angin menusuk celah-celah tenda kulit, membuatku meringkuk secara insting. Namun, pergerakan sekecil apa pun langsung memicu alarm tanda bahaya dari tulang rusuk kananku. Rasa nyeri akibat tabrakan sepeda motor matik kemarin sore kembali menyapaku dengan penuh semangat.

Lalu, bau itu datang lagi. Bau keringat kering, debu, dan apak kulit hewan. Realitas menghantamku lebih keras daripada helm bapak-bapak yang menabrakku. Aku tidak sedang berada di kamarku. Aku tidak akan mandi dengan sabun cair beraroma mint, dan aku tidak akan sarapan nasi goreng buatan ibuku.

Aku masih terjebak di tahun kesembilan Perang Troya.

"Bangun, Firas. Kau mau dihukum cambuk oleh Komandan Menelaus?"

Sebuah suara berat membuyarkan ratapan batinku. Aku menoleh perlahan, berusaha menjaga kepalaku agar tidak berputar. Lykos sudah berdiri di tengah tenda. Dia terlihat sangat menyebalkan pagi ini. Menyebalkan dalam artian dia tampak begitu segar, bugar, dan siap membunuh orang. Rambut cokelat gelapnya diikat asal-asalan di belakang kepala. Dia hanya mengenakan tunik sebatas paha yang memperlihatkan otot kakinya yang kokoh, sementara tangannya sibuk mengencangkan tali sandal kulit yang melilit hingga ke betis.

"Jam berapa ini?" gumamku dengan suara serak. Tenggorokanku terasa seperti habis dipakai menelan amplas.

Lykos mengerutkan kening mendengar pertanyaanku. Dia menatap celah tenda yang masih gelap gulita. "Matahari belum terbit. Dewa Apollo belum menyiapkan keretanya. Ini waktu yang tepat untuk berlari."

Aku mengerang panjang dan menjatuhkan kepalaku kembali ke atas gulungan bulu domba yang bau apek ini. "Tinggalkan aku. Bilang saja pada komandanmu kalau aku terkena wabah pes. Atau bilang saja aku sudah mati dan sedang mengurus visa di dunia bawah."

Tentu saja, rengekanku tidak mempan. Lykos melangkah mendekat, lalu dengan gerakan santai namun bertenaga, dia menarik selimut buluku sampai aku terekspos udara dingin. Aku memekik tertahan dan buru-buru menutupi dadaku. Tunik linen kasar yang kukenakan ini nyaris tidak memberikan kehangatan sama sekali. Terlebih lagi, aku baru sadar bahwa aku tidak memakai celana dalam. Orang Yunani kuno sepertinya belum mengenal konsep pakaian dalam, dan fakta itu membuatku merasa sangat tidak aman secara psikologis maupun fisik.

"Bangun," perintah Lykos, kali ini dengan nada yang tidak menerima penolakan. Tangan kanannya yang kapalan mencengkeram lengan atasku, lalu menarikku berdiri seolah aku ini hanya sebuah bantal guling yang ringan. "Aku tahu kepalamu masih sakit. Tapi jika kau tidak muncul di lapangan latihan pagi ini, para perwira akan menganggapmu mencoba desersi. Hukuman untuk desersi adalah digantung terbalik di atas api unggun."

Mataku membelalak. Aku menatap wajah Lykos untuk mencari tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda. Tidak ada. Wajahnya kelewat serius. Lesung pipi kecil yang kemarin kulihat sama sekali tidak muncul. Ini adalah mode prajurit penuh, dan itu membuatku langsung berdiri tegak meskipun tulang rusukku menjerit protes.

"Baik, aku bangun," ujarku cepat. "Di mana kamar mandinya? Aku butuh sikat gigi."

Lagi-lagi, Lykos menatapku seolah aku baru saja berbicara dalam bahasa alien. "Sikat apa? Kalau kau mau membasuh muka, ada ember kayu di sudut sana. Gunakan airnya sedikit saja. Persediaan air tawar kita diurus oleh bagian logistik dan dijaga ketat."

Aku menelan ludah, menatap ember kayu yang airnya terlihat keruh. Tidak ada sikat gigi. Tidak ada pasta gigi berfluoride. Aku hanya mengambil segenggam air dingin itu dan mengusapkannya ke wajah, berharap sensasi beku ini bisa membangunkan saraf-sarafku. Rasanya asin, entah karena airnya memang payau atau karena ember itu belum pernah dicuci sejak zaman penciptaan dunia.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah terseret keluar dari tenda oleh Lykos.

Pemandangan di luar membuat nafasku tertahan. Ribuan tenda berjejer rapi dalam barisan yang membentang hingga ke ujung cakrawala pesisir. Obor-obor menyala di berbagai titik, menerangi lautan manusia yang sedang bergerak seperti koloni semut raksasa. Suara dentingan perunggu, langkah kaki berderap, dan teriakan para perwira yang memberikan aba-aba menciptakan harmoni yang mengerikan. Ini bukan sekadar perkemahan, ini adalah mesin pembunuh yang hidup dan bernapas.

Kami berjalan cepat menyusuri lorong antar tenda. Pasir dingin menyusup masuk melalui celah sandal kulitku yang kebesaran. Lykos terus memegang lenganku, setengah menuntun dan setengah menyeretku. Postur tubuhnya sangat waspada, matanya mengawasi setiap prajurit yang berpapasan dengan kami. Beberapa dari mereka menatapku dengan tatapan menilai, seolah mengukur berapa lama aku bisa bertahan hidup sebelum menjadi makanan burung gagak.

"Dengar, Firas," Lykos berbisik saat kami mendekati area terbuka yang sangat luas. "Hari ini jadwal latihan angkatan muda. Kau beruntung tidak langsung dilempar ke garis depan. Jangan melakukan gerakan aneh, jangan banyak bicara, dan jika ada instruktur yang meneriakimu, kau hanya perlu mengangguk dan melakukan apa yang dia suruh. Kau mengerti?"

"Aku bahkan tidak tahu cara memegang pedang yang benar," balasku panik. "Terakhir kali aku memegang sesuatu yang panjang dan berat adalah saat aku membantu ibuku mengangkat tiang jemuran yang patah."

Lykos memutar bola matanya. Dia mungkin tidak paham analogi tiang jemuran, tapi dia menangkap kepanikanku. "Maka belajarlah dengan cepat. Atau kau akan mati."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengancam, melainkan dengan nada datar yang penuh dengan fakta. Itulah yang membuatku merinding. Di dunia ini, kematian bukan sekadar statistik di buku teks. Kematian adalah tetangga sebelah tenda yang bisa berkunjung kapan saja.

Kami tiba di lapangan latihan. Area itu hanyalah bentangan pasir yang dipadatkan, dikelilingi oleh rak-rak kayu berisi ratusan senjata tumpul dari kayu dan perunggu kualitas rendah. Ratusan pemuda seusia kami sudah berbaris rapi. Mereka semua bertelanjang dada, memamerkan perut rata dan lengan berotot yang membuatku tiba-tiba merasa seperti agar-agar lembek.

"Masuk barisan," desis Lykos sambil mendorongku ke barisan belakang. Dia mengambil tempat tepat di sebelah kiriku.

Seorang pria raksasa dengan bekas luka memanjang dari dahi hingga ke pipi kirinya melangkah ke depan barisan. Dia mengenakan zirah dada perunggu yang mengkilap dan jubah merah pudar. Tatapannya setajam elang yang sedang mencari tikus untuk sarapan.

"Namanya Eudoros," bisik Lykos tanpa menggerakkan bibirnya. "Salah satu komandan batalion di bawah pimpinan Achilles. Dia tidak kenal ampun."

Eudoros mulai berteriak, suaranya menggelegar mengalahkan suara deburan ombak di belakang kami. Dia memberikan pidato panjang tentang kejayaan, tentang bagaimana kami adalah ujung tombak pasukan Myrmidons, dan tentang bagaimana para dewa mengawasi setiap langkah kami. Aku nyaris tidak menyimak. Fokusku terpecah antara rasa sakit di kepalaku dan udara pagi yang semakin menusuk tulang.

"Lari sepuluh putaran mengelilingi perimeter kamp!" raung Eudoros pada akhirnya. "Siapa pun yang tertinggal di belakang, tidak akan mendapat jatah sarapan roti dan zaitun hari ini!"

Belum sempat aku memproses instruksi itu, seluruh barisan sudah bergerak maju. Aku terbawa arus. Awalnya, ritme larinya tidak terlalu cepat. Ini hanya jogging ringan, batinku mencoba menghibur diri. Namun, setelah melewati putaran kedua, kecepatan barisan mulai meningkat tajam.

Paru-paruku mulai terbakar. Pasir pesisir yang tidak stabil membuat setiap langkahku terasa dua kali lipat lebih berat daripada berlari di atas aspal. Sandal kulit yang kukenakan menggesek tumitku, menciptakan luka lecet yang perih. Udara dingin yang kuhirup terasa seperti pecahan kaca yang menyayat tenggorokanku.

Di putaran kelima, aku sudah berada di posisi paling belakang. Keringat membanjiri wajahku, menetes ke mataku dan membuatnya perih. Aku tersengal-sengal, nyaris tidak bisa mengatur napas.

"Ayo, Firas," Lykos mendadak sudah berada di sampingku. Dia bahkan tidak terlihat lelah. Nafasnya teratur, dan keringat di tubuhnya justru membuatnya terlihat seperti model majalah olahraga Yunani kuno. Sungguh tidak adil. "Tinggal lima putaran lagi. Jangan menyerah."

"Aku... tidak... bisa," erangku terputus-putus. "Tinggalkan... aku. Biarkan... aku... mati kelaparan."

"Kau tidak akan mati kelaparan di bawah pengawasanku," balas Lykos tegas.

Tiba-tiba, dia berpindah ke sisi kananku. Sebelum aku bisa memprotes, dia menyelipkan satu tangannya di bawah ketiakku, memberikan tumpuan yang sangat kuat. Dia pada dasarnya menyeretku berlari. Tubuhku setengah melayang, kakiku hanya perlu bergerak ala kadarnya untuk menyesuaikan ritme. Kekuatan fisik pemuda ini benar-benar tidak masuk akal. Dia menyeret remaja seberat enam puluh kilogram sambil berlari di atas pasir tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun.

Dengan bantuan Lykos yang luar biasa memalukan namun sangat kuapresiasi itu, aku berhasil menyelesaikan putaran kesepuluh tanpa pingsan. Saat kami berhenti, aku langsung jatuh berlutut di atas pasir, memuntahkan air payau yang tadi kupakai mencuci muka dan berkumur. Otot betisku berkedut hebat.

Aku mengira siksaan sudah selesai. Aku salah besar. Lari pagi hanyalah menu pembuka.

"Ambil senjata kalian!" teriak instruktur lain, seorang perwira muda yang membawa tongkat kayu panjang. "Latihan pertahanan berpasangan. Ambil satu perisai dan satu tombak tumpul. Cepat!"

Lykos menarikku berdiri, mengabaikan fakta bahwa aku terlihat seperti zombie yang baru bangkit dari kubur. Dia berlari ke rak senjata dan kembali membawa dua buah perisai kayu berlapis perunggu tipis dan dua batang tombak kayu yang ujungnya tumpul namun tetap terlihat menyakitkan jika ditusukkan ke mata.

Dia menyodorkan satu perisai kepadaku. Benda itu berbentuk bundar besar, dengan tali kulit di bagian dalam untuk pegangan lengan. Saat aku menerimanya, lengan kiriku langsung merosot ke bawah. Berat benda ini setidaknya delapan kilogram.

"Pegang yang kuat," instruksi Lykos, mengabaikan ringisanku. "Ini perisai hoplon. Benda ini adalah nyawamu. Jika perisaimu jatuh, kau mati. Posisikan di depan dadamu, tutup setengah wajahmu, dan biarkan tombakmu menyelinap dari sisi kanan perisai."

Aku mencoba mempraktikkan ucapannya. Sangat canggung. Perisai itu terlalu berat, membuat postur tubuhku miring ke kiri. Tombak di tangan kananku terasa goyah. Jika saat ini ada cermin, aku yakin aku terlihat seperti anak kecil yang memakai tutup panci ibunya untuk bermain perang-perangan.

"Sekarang, serang aku," kata Lykos, mengambil posisi bertahan yang sempurna. Perisainya melindungi tubuhnya dari leher hingga lutut, sementara tombaknya terarah mantap ke dadaku.

Aku menatapnya ragu. "Kau yakin? Aku tidak ingin menyakitimu."

Lykos mendengus geli. Senyum kecil yang manis itu akhirnya muncul lagi. "Kau mengkhawatirkan keselamatanku? Itu sangat manis, Firas. Tapi percayalah, angin laut ini punya peluang lebih besar untuk melukaiku daripada tusukanmu. Ayo, serang."

Aku merasa sedikit tersinggung. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menerjang maju dan menusukkan tombak kayuku ke arah perutnya.

Gerakan Lykos sangat mulus dan efisien. Dia tidak menghindar atau mundur. Dia hanya memiringkan perisainya sedikit, membiarkan ujung tombakku meluncur meleset di atas permukaan perunggunya, lalu dengan satu jentikan pergelangan tangannya, dasar tombaknya menghantam punggung kakiku.

Aku mengaduh keras dan jatuh terduduk, menjatuhkan perisaiku ke pasir.

"Lututmu terlalu kaku," Lykos memberi evaluasi tanpa ampun, meskipun sorot matanya terlihat simpatik. "Kau menggunakan seluruh kekuatanmu pada dorongan pertama. Jika kau meleset, kau kehilangan keseimbangan. Berdiri lagi. Gunakan pinggulmu, bukan bahumu."

Selama satu jam berikutnya, aku menjadi bulan-bulanan instruksi Lykos. Tubuhku dipenuhi memar baru. Lengan kiriku kebas karena menahan beban perisai, dan telapak tangan kananku lecet karena menggenggam gagang tombak terlalu erat. Namun, aku harus mengakui bahwa Lykos adalah guru yang sabar. Dia tidak pernah membentakku, dia hanya mengoreksi postur tubuhku, menahan sikutku agar tidak turun, dan mengajariku cara bernapas saat sedang diserang. Di tengah keringat dan debu, aku mendapati diriku sering kali kehilangan fokus hanya karena memperhatikan bagaimana otot lengannya bergerak saat dia menangkis seranganku, atau bagaimana matanya menyipit serius setiap kali dia mencari titik lemahku.

Ada sesuatu yang sangat intim dalam latihan fisik ini. Kedekatan tubuh kami, ritme napas yang saling bersahutan, dan tatapan mata yang terkunci satu sama lain. Untuk sejenak, aku lupa bahwa kami berada di tengah kamp militer yang mematikan.

Hingga realitas kembali menampar wajahku.

Instruktur perwira muda tadi meniup peluit dari cangkang kerang, menandakan pergantian pasangan latihan. Aturannya, barisan depan harus bergeser satu langkah ke kanan. Itu berarti Lykos bergeser, dan aku mendapatkan lawan tanding yang baru.

Lawan baruku adalah seorang pemuda bongsor dengan leher setebal batang pohon kelapa. Kulitnya gelap terbakar matahari, dan wajahnya dihiasi seringai yang sangat tidak bersahabat. Dia menatapku dari atas ke bawah, menilai postur tubuhku yang berantakan dan perisaiku yang turun sebatas perut.

"Jadi kau orang aneh yang kemarin pingsan karena tersandung batu," ejek pemuda itu. Suaranya serak dan berat. "Kudengar kau bicara meracau dalam bahasa yang tidak masuk akal. Asalmu dari mana, orang lemah?"

Aku meneguk ludah. Insting bertahan hidupku menyala. "Aku dari... jauh," jawabku hati-hati, mencoba mengangkat perisaiku sedikit lebih tinggi.

Pemuda bongsor itu tertawa meremehkan. "Orang lemah tidak punya tempat di Myrmidons. Jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, kau hanya akan menjadi beban dalam formasi."

Tanpa memberikan aba-aba, dia menerjang maju. Gerakannya jauh lebih brutal dan liar dibandingkan Lykos. Dia mengayunkan tombak kayunya dengan kekuatan penuh, mengincar kepalaku.

Aku panik. Bukannya mengangkat perisai untuk menangkis, aku malah menutup mata dan mengangkat kedua lenganku secara refleks. Sebuah kesalahan fatal yang sering kulakukan saat bola melayang ke arah wajahku dalam pelajaran olahraga.

Hantaman itu datang dengan kekuatan yang mengerikan. Tombaknya menghantam sisi kanan perisaiku dengan keras, memelintir pergelangan tanganku dan membuat perisai itu terlepas dari genggamanku. Benda berat itu jatuh menimpa kakiku, tapi aku bahkan tidak sempat berteriak kesakitan.

Pemuda itu tidak berhenti. Melihat pertahananku terbuka lebar, dia menarik tombaknya dan bersiap melakukan tusukan kedua langsung ke arah perutku. Tombak itu mungkin tumpul, tapi dengan tenaga sebesar itu, kayu tebal tersebut bisa dengan mudah mematahkan tulang rusukku dan merusak organ dalamku.

Mataku terpaku pada ujung kayu yang meluncur lurus ke arahku. Waktu seolah melambat. Udara di sekitarku terasa membeku. Inilah akhirnya. Pengetahuan mitologiku yang luas tidak bisa menyelamatkanku dari terjangan sebatang kayu di tangan prajurit arogan.

Namun, sebelum tombak itu menyentuh kulitku, sebuah bayangan melesat memotong jarak di antara kami.

Terdengar suara benturan kayu yang sangat keras, disusul oleh suara retakan yang membuat telinga berdenging.

Aku tersentak mundur, jatuh terduduk di atas pasir. Saat aku membuka mata, aku melihat punggung lebar yang sangat kukenal berdiri tepat di depanku.

Lykos.

Dia telah membuang perisainya sendiri. Dengan kedua tangannya, dia memegang tombaknya secara horizontal, menahan tusukan pemuda bongsor itu hanya beberapa sentimeter dari perutku. Kekuatan benturan tadi membuat poros tombak pemuda bongsor itu retak parah.

Suasana lapangan latihan seketika sunyi. Semua pasang mata menoleh ke arah kami. Menginterupsi pertarungan orang lain adalah pelanggaran serius dalam latihan militer.

"Apa yang kau lakukan, Lykos?" geram pemuda bongsor itu, wajahnya memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Singkirkan senjatamu! Ini giliranku memberinya pelajaran."

Lykos tidak bergeser satu sentimeter pun. Postur tubuhnya tegak, otot-otot punggungnya menegang sempurna. Saat dia berbicara, suaranya sangat tenang, tapi ada ancaman sedingin es di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya.

"Pelajaran selesai, Galen," kata Lykos tajam. "Latihan ini untuk menguji pertahanan, bukan untuk membunuh kawan sendiri."

Galen, pemuda bongsor itu, meludah ke pasir. "Kawan? Orang lemah seperti dia tidak pantas disebut Myrmidons. Aku hanya menyingkirkan sampah sebelum pertempuran sungguhan dimulai."

Galen menarik tombaknya yang retak, lalu dengan raungan marah, dia mengayunkannya ke arah kepala Lykos.

Jantungku nyaris melompat dari kerongkongan. "Lykos, awas!"

Namun Lykos bahkan tidak repot-repot menggunakan perisai. Dia merunduk dengan kelincahan seekor macan tutul, membiarkan tombak Galen menyapu udara kosong di atas kepalanya. Dalam gerakan yang sama, Lykos memutar tubuhnya, menggunakan momentum itu untuk menghantamkan pangkal tombaknya tepat ke belakang lutut Galen.

Terdengar suara letupan pelan. Galen berteriak kesakitan dan jatuh berlutut. Sebelum Galen bisa bereaksi, Lykos sudah bangkit, memutar tombaknya dengan kecepatan yang membuat mata juling, dan menghentikan ujung tumpul tombaknya tepat di jakun Galen.

Hanya butuh tiga detik. Tiga detik bagi Lykos untuk melumpuhkan pria yang ukurannya satu setengah kali lebih besar darinya.

Lykos menatap Galen dari atas ke bawah. Sorot mata madunya yang biasanya hangat kini menggelap, memancarkan aura dominasi yang membuatku menahan napas. "Jika kau sangat ingin membunuh, simpan tenagamu untuk orang-orang Troya. Menyentuhnya lagi, dan aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan sampai perang ini selesai."

Galen menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak menatap ujung kayu di lehernya. Dia perlahan mengangguk, melepaskan cengkeramannya pada senjatanya sendiri.

Lykos menarik tombaknya, memutar tumitnya, dan berjongkok di sebelahku. Aura mematikannya menguap begitu saja. Dia kembali menjadi pemuda canggung yang merawatku kemarin.

"Kau bisa berdiri?" tanyanya lembut, mengulurkan tangannya padaku.

Aku menatap tangan kapalan itu. Lalu aku menatap wajahnya, menatap rahangnya yang mengeras dan dadanya yang naik turun dengan teratur. Ada sensasi aneh yang bergejolak di perutku. Bukan rasa mual karena lari pagi, dan bukan rasa takut karena hampir mati ditusuk. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat pipiku terasa hangat.

Aku menyambut uluran tangannya. Tarikannya kuat, membantuku berdiri tegak meskipun kakiku masih gemetar. "Terima kasih," bisikku, suaraku nyaris hilang ditelan embusan angin laut.

Lykos memungut perisaiku yang jatuh dan menyerahkannya kembali ke tanganku. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, bibirnya berada tepat di sebelah telingaku. Napas hangatnya menggelitik leherku, membuat bulu kudukku berdiri.

"Kau berutang penjelasan padaku tentang mengapa kau tidak bisa bertarung sama sekali, Firas," bisiknya dengan nada yang meremangkan bulu roma, campuran antara rasa ingin tahu dan kepedulian yang mendalam. "Tapi untuk saat ini, belajarlah memegang perisaimu. Aku tidak bisa menangkis semua serangan untukmu. Nyawamu ada di tanganmu sendiri."

Aku mencengkeram tali kulit perisai itu kuat-kuat. Rasa sakit di tulang rusukku kini teredam oleh ledakan adrenalin dan kesadaran baru yang menghantamku.

Ini bukan buku sejarah yang bisa kututup saat aku bosan. Ini bukan mitologi yang bisa kuperdebatkan di kolom komentar internet. Ini adalah dunia nyata yang brutal, berdarah, dan kejam. Nyawaku sungguh cuma seharga sisa kuaci di sini. Jika aku ingin bertahan hidup, jika aku ingin terus melihat senyum canggung pemuda di hadapanku ini, aku harus berhenti mengasihani diri sendiri.

Aku membusungkan dadaku, mengangkat perisai berat itu sebatas hidung, dan menatap tatapan mata Lykos dengan tekad baru.

Dewa-dewi Olympus mungkin sedang menertawakanku dari atas sana, tapi aku akan memastikan mereka menonton pertunjukan yang bagus. Aku, Firas si anak SMA biasa, akan belajar bertahan hidup di Troya. Mulai hari ini.