Pustaka Sahawn

Bab 3: Culture Shock di Pemandian

Jika ada satu hal yang luput dibahas secara mendetail oleh guru sejarah mana pun di sekolah menengah, itu adalah standar kebersihan personal para prajurit zaman perunggu.

Setelah insiden nyaris mati tertusuk tombak kayu oleh pria berleher beton bernama Galen, tubuhku secara resmi menyatakan mogok kerja. Otot lenganku bergetar setiap kali aku menarik napas, kakiku terasa seperti terbuat dari jeli basi, dan tulang rusukku yang kemarin dihantam sepeda motor kini berdenyut dengan ritme yang sangat menyiksa. Aku tertatih tatih mengikuti langkah Lykos meninggalkan lapangan berdebu itu, merasa seperti seonggok daging cincang yang baru saja selamat dari mesin penggiling.

Matahari sudah naik cukup tinggi, memanggang pesisir Troya dengan panas yang tidak masuk akal. Keringat membanjiri sekujur tubuhku, bercampur dengan pasir dan debu, menciptakan lapisan lumpur tipis di atas kulitku. Rasanya sangat gatal dan lengket. Aku butuh mandi. Aku butuh air hangat, sabun antiseptik, sampo aroma peppermint, dan handuk bersih yang sangat tebal.

Sayangnya, aku berada di perkemahan militer Myrmidons.

Lykos berjalan di depanku, postur tubuhnya tetap tegap dan langkahnya ringan seolah dia baru saja selesai melakukan peregangan pagi yang santai, bukan baru saja melumpuhkan prajurit raksasa dalam tiga detik. Dia berbelok ke arah tenda kami, masuk sebentar, lalu keluar lagi membawa dua buah kendi tanah liat berukuran sedang, sebuah benda logam aneh yang melengkung seperti celurit tumpul, dan dua helai kain linen bersih.

"Ayo," ajak Lykos santai, melemparkan satu helai kain dan benda logam melengkung itu kepadaku. Tanganku yang gemetar nyaris gagal menangkapnya. "Kita harus membersihkan diri sebelum jatah makan siang dibagikan. Patroclus akan mengamuk jika melihat ada prajurit yang masuk ke antrean makanan dengan bau seperti kambing mati."

Aku menatap benda logam di tanganku dengan kening berkerut. Benda ini sama sekali tidak terlihat seperti peralatan mandi. Bentuknya melengkung, pipih di satu sisi, dan terbuat dari perunggu. "Apa ini? Alat untuk mengupas kentang?"

Lykos menatapku dengan ekspresi setengah geli dan setengah kasihan, ekspresi yang mulai sering kulihat sejak aku bangun di tendanya. "Itu 'strigil', Firas. Kau menggunakannya untuk mengerok minyak dan debu dari kulitmu. Jangan bilang kau tidak pernah memakai 'strigil' di tempat asalmu."

Aku menghela napas panjang, menekan keinginan untuk berteriak bahwa di tempat asalku kami menggunakan benda ajaib bernama sabun dan loofah. "Di tempat asalku, kami punya metode pembersihan yang sedikit lebih modern. Tapi baiklah, anggap saja aku lupa cara pakainya karena kepalaku terbentur batu. Di mana kamar mandinya? Apa kita punya bilik tertutup atau setidaknya semacam tirai penutup?"

Pertanyaanku membuat langkah Lykos terhenti. Dia menoleh ke belakang, menatapku lekat lekat, lalu tawanya meledak. Itu bukan tawa meremehkan yang menyebalkan, melainkan tawa lepas yang sangat renyah dan jujur. Lesung pipinya muncul dengan sangat jelas, membuat wajahnya yang biasanya garang saat bertarung kini terlihat sangat kekanakan dan, sialnya, sangat tampan.

"Bilik tertutup?" Lykos mengulang kata kataku di sela tawanya. "Demi para dewa, Firas. Kau benar benar bertingkah seolah kau berasal dari keluarga bangsawan yang manja. Kita ini prajurit. Kita mandi di sungai kecil yang bermuara ke laut, bersama sama."

Kata 'bersama sama' itu memicu alarm tanda bahaya di kepalaku dengan kekuatan maksimal.

Aku menelan ludah, memaksakan senyum kaku. "Maksudmu bersama sama itu, kita mandi beramai ramai? Satu peleton?"

"Satu batalion, lebih tepatnya," koreksi Lykos santai, kembali melangkah menuju area utara perkemahan. "Kadang kadang, jika kita beruntung, Komandan Achilles juga ikut berendam di sana. Itu biasanya membuat para prajurit muda berebut mencari posisi paling dekat untuk melihat bekas luka pertempurannya."

Duniaku rasanya mau runtuh saat itu juga.

Aku tidak punya masalah dengan melihat bekas luka Achilles. Masalah utamaku adalah melihat bagian tubuh lainnya yang tidak tertutup pakaian. Lebih parah lagi, aku harus membiarkan bagian tubuhku sendiri dilihat oleh ratusan pria berotot yang tidak kenal konsep privasi. Di duniaku, hal semacam ini adalah mimpi buruk tingkat tinggi. Mengganti baju olahraga di ruang ganti sekolah saja sudah membuatku canggung luar biasa, apalagi harus telanjang bulat di sungai terbuka bersama ribuan tentara kuno.

Semakin kami mendekati area utara, suara gemuruh air yang mengalir berpadu dengan suara tawa, teriakan, dan percakapan ratusan pria yang menggema di udara. Jantungku berdetak semakin cepat, memompa darah ke wajahku hingga aku yakin pipiku sudah semerah tomat busuk.

Kami melewati deretan pepohonan pinus pesisir, dan pemandangan di baliknya membuat langkahku terhenti total.

Sebuah aliran sungai yang cukup lebar terbendung secara alami oleh bebatuan besar, membentuk sebuah kolam dangkal raksasa sebelum airnya mengalir jatuh ke laut. Di kolam itulah, ratusan, atau mungkin ribuan prajurit Myrmidons sedang berendam, mencuci pakaian, dan saling mengerok punggung satu sama lain. Semuanya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Mataku langsung membelalak panik. Aku buru buru menatap langit, mengamati formasi awan yang mendadak terlihat sangat menarik, apa saja asalkan pandanganku tidak jatuh pada anatomi tubuh manusia di sekitarku.

"Aku rasa aku tidak jadi mandi," gumamku cepat, memutar tumit bersiap kabur kembali ke tenda. "Aku masih punya urusan penting. Mengecek kondisi tempat tidur kita. Ya, aku harus memastikan tidak ada serangga di sana."

Lykos menangkap kerah tunikku dari belakang, menahanku di tempat dengan mudah. Tenaganya benar benar tidak masuk akal. Aku merasa seperti anak kucing yang diangkat di bagian tengkuk.

"Kau tidak akan pergi ke mana mana," kata Lykos tegas, menarikku kembali menghadap sungai. "Kau bau keringat asam, Firas. Lepaskan tunikmu dan masuk ke air sebelum aku yang melepasnya paksa."

"Kau tidak mengerti!" bisikku mendesis, masih menolak menatap lurus ke depan. "Di tempat asalku, ada semacam pantangan spiritual. Ya, benar. Aku tidak boleh memperlihatkan kulitku kepada orang asing, atau aku akan dikutuk oleh dewa dewa pelindungku menjadi... menjadi seekor katak!"

Aku tahu itu adalah alasan paling bodoh yang pernah keluar dari mulutku, tapi otakku sedang mengalami sirkuit pendek. Sayangnya, Lykos tidak tertipu sedikit pun.

"Katak tidak akan bertahan hidup di air asin," balas Lykos santai.

Tanpa mempedulikan kepanikanku, Lykos meletakkan kendi tanah liatnya di atas sebuah batu datar yang kosong. Lalu, dengan satu gerakan mulus yang sangat kasual, dia menarik ujung tuniknya dari bawah, mengangkatnya melewati kepala, dan melemparkannya ke atas batu.

Aku memekik pelan dalam hati dan langsung menutup mataku rapat rapat. Napasku tertahan. Berada di satu tenda dengan Lykos saja sudah membuat jantungku bermasalah, dan sekarang dia berdiri hanya beberapa sentimeter dariku tanpa sehelai pakaian pun. Otakku berteriak menyuruhku lari, tapi kakiku menolak bekerja sama.

"Berhenti bertingkah seperti gadis perawan yang baru dipingit," tegur Lykos, suaranya terdengar geli. "Buka matamu, Firas. Tidak ada yang peduli dengan bentuk tubuhmu. Semua orang di sini memiliki hal yang sama."

Secara perlahan, sangat perlahan, aku membuka sebelah mataku.

Lykos berdiri menghadap air, memunggungiku. Aku bermaksud memalingkan wajah lagi, tetapi mataku malah mengkhianatiku. Postur tubuh Lykos dari belakang terlihat seperti pahatan patung marmer di museum sejarah. Bahunya lebar, dengan otot punggung yang terbentuk sempurna akibat latihan militer bertahun tahun. Kulit tembaganya terlihat kontras dengan bekas bekas luka kecil yang menyebar di sekitar bahu dan pinggangnya. Dia sama sekali tidak terlihat canggung atau malu. Telanjang adalah hal yang alami baginya.

Tiba tiba Lykos menoleh ke arahku dari balik bahunya. Sialan, aku tertangkap basah sedang menatapnya.

"Butuh bantuan melepas kain itu?" tanyanya sambil menaikkan satu alis, menantangku. Aku menelan ludah.

Wajahku langsung terbakar hebat. Rasa gengsi akhirnya mengambil alih rasa maluku. "Aku bisa melakukannya sendiri!" gerutuku cepat.

Dengan tangan gemetar, aku menarik tunik kasarku melewati kepala. Angin laut langsung menyapu kulit telanjangku, membuatku menggigil hebat. Secara refleks, aku menyilangkan kedua tanganku di depan perut, mencoba menutupi diriku sebisa mungkin. Aku merasa sangat rentan, sangat kecil, dan sangat pucat dibandingkan dengan para prajurit Yunani di sekitarku.

Lykos tersenyum kecil melihat tingkahku. Dia tidak berkomentar lebih jauh, melainkan langsung berjalan masuk ke dalam air yang dangkal, memberikan isyarat dengan kepalanya agar aku mengikuti.

Aku melangkah maju dengan sangat hati hati, mataku terkunci rapat pada punggung Lykos, menolak menoleh ke kiri atau ke kanan di mana pria pria lain sedang tertawa dan mengobrol keras. Begitu jari kakiku menyentuh air, aku nyaris melompat mundur.

Airnya sangat dingin. Beku. Seolah olah sungainya mengalir langsung dari puncak gunung es.

"Masuklah lebih dalam," instruksi Lykos, yang sudah berendam sampai sebatas pinggang. "Air ini mengalir dari mata air Gunung Ida. Rasanya memang menusuk tulang pada awalnya, tapi ini sangat bagus untuk meredakan otot otot yang bengkak."

Aku mengertakkan gigi, memaksakan diri masuk lebih dalam. Sensasi dingin itu merayap naik dari betis, paha, hingga ke pinggangku. Begitu air menyentuh memar besar di tulang rusuk kananku, aku mendesis kesakitan secara refleks.

Lykos langsung menoleh. Ekspresi santainya seketika berubah menjadi tegang. Sorot matanya menajam, menangkap gerakan tubuhku yang sedikit meringkuk ke kanan.

Sebelum aku bisa menghindar, Lykos melangkah membelah air, memangkas jarak di antara kami dalam hitungan detik. Dia berdiri tepat di depanku, jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas tubuhnya yang anehnya tidak terpengaruh oleh air es ini.

"Berputar," perintahnya singkat. Nada suaranya bukan lagi nada teman yang sedang bercanda, melainkan nada seorang prajurit yang sedang memeriksa kerusakan pada senjatanya.

Aku menelan ludah, merasa terlalu terintimidasi untuk membantah. Aku memutar tubuhku dengan canggung.

Terdengar suara isapan napas tajam dari mulut Lykos tepat di belakangku. Ujung jari jemarinya yang kapalan menyentuh sisi kanan pinggangku, merayap perlahan ke arah tulang rusukku. Sentuhannya sangat ringan, hampir seperti helaian bulu, namun efeknya terhadap sistem sarafku sangat masif. Sengatan listrik kecil terasa menjalar dari titik sentuhannya, membuat bulu kudukku meremang bukan karena dingin.

"Demi para dewa," bisik Lykos, suaranya terdengar tertahan. "Memar apa ini, Firas? Seluruh sisi kanan tubuhmu berwarna ungu kehitaman."

Aku menunduk, mengintip memar raksasa hasil perbuatanku mencium setang sepeda motor matik kemarin. Warnanya memang terlihat mengerikan di bawah cahaya matahari, seperti galaksi bima sakti versi menyedihkan yang dilukis secara brutal di kulitku.

"Oh, ini," jawabku berusaha terdengar santai, memegang lenganku sendiri. "Ini luka lama. Maksudku, luka dari kemarin. Sebelum aku... yah, sebelum aku tiba di sini."

Lykos melangkah memutar hingga kembali berhadapan denganku. Wajahnya terlihat pucat pasi, dipenuhi rasa bersalah yang sangat pekat. Matanya yang berwarna madu menatap mataku dengan kepedihan yang membuat dadaku sesak.

"Kau mengikuti latihan fisik pagi ini, menahan beban perisai seberat delapan kilogram, dan membiarkan Galen menghantammu dengan ujung tombaknya, sementara rusukmu dalam kondisi hancur seperti ini?" Lykos nyaris berteriak padaku, tidak peduli beberapa prajurit di sekitar kami menoleh penasaran.

"Aku tidak hancur!" bantahku cepat. "Lihat, aku masih bisa berdiri. Tulangnya tidak ada yang patah, hanya memar otot yang parah."

"Kau idiot," desis Lykos tajam, tapi ada getaran khawatir di suaranya. Dia mengusap wajahnya dengan satu tangan yang basah, tampak sangat frustrasi. "Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika tusukan Galen tadi mengenai titik ini, rusukmu pasti sudah menembus paru parumu. Aku nyaris membiarkanmu mati pada hari pertamamu berlatih."

Melihat Lykos menyalahkan dirinya sendiri membuat rasa maluku menguap. Aku menyadari betapa tingginya tingkat loyalitas pemuda ini. Dia baru mengenalku kemarin, tapi dia memikul tanggung jawab atas nyawaku seolah olah aku adalah adik kandungnya, atau lebih dari itu.

"Hei," kataku pelan, memaksakan diri menatap matanya. "Tusukan itu tidak mengenaiku karena kau menghentikannya. Kau melindungiku. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang bodoh karena memaksakan diri ikut berlatih."

Lykos terdiam. Dia menatapku dalam dalam, seolah mencari celah kebohongan di mataku. Perlahan, rahangnya yang mengeras mulai rileks. Dia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau benar benar orang asing yang aneh, Firas," gumamnya, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis. "Tunggu di sini."

Lykos berjalan kembali ke tepi sungai, mengambil kendi tanah liat yang tadi dia bawa, lalu kembali ke arahku. Dia membuka penutup kendi tersebut, dan seketika aroma wangi zaitun murni yang kuat menguar ke udara.

"Minyak zaitun?" tanyaku heran. "Kau mau memasakku?"

"Ini untuk membersihkan kotoran dari kulitmu, sekaligus memperlancar aliran darah di otot yang memar," jelas Lykos sabar, seolah dia sedang berbicara dengan anak balita. Dia menuangkan sedikit cairan kental berwarna keemasan itu ke telapak tangannya. "Orang di tempat asalmu pasti sangat kotor jika tidak menggunakan ini."

Aku hanya mencibir pelan, menolak berdebat soal keunggulan sabun beraroma buah-buahan di rumahku.

"Berbaliklah," kata Lykos lagi. Suaranya kali ini lebih lembut.

Aku menurut, memunggunginya. Udara di sekitarku dipenuhi suara riuh para pria yang membicarakan perang, melempar lelucon kotor, dan suara benturan air. Namun, saat tangan Lykos yang sudah dilumuri minyak zaitun menyentuh punggungku, seluruh kebisingan itu seolah mereda, digantikan oleh suara detak jantungku sendiri yang memekakkan telinga.

Telapak tangan Lykos terasa hangat, kontras dengan air sungai yang dingin. Dia memijat pundakku dengan gerakan melingkar yang pelan namun sangat bertenaga. Tekanannya pas, membuat otot ototku yang tegang sejak pagi perlahan lahan mencair. Dia mengoleskan minyak itu ke seluruh punggungku, meratakannya hingga ke pangkal leher dan belikat. Sentuhannya sangat berhati hati, sangat berbeda dengan cara dia memegang senjata.

"Beri tahu aku jika tekanannya terlalu keras," bisik Lykos tepat di belakang bahuku. Napasnya mengenai kulit leherku yang basah, mengirimkan gelombang kejut kecil ke sepanjang tulang belakangku.

"Tidak, ini... ini pas," balasku terbata bata. Aku menggigit bibir bawahku kuat kuat, berusaha mencegah diriku mengeluarkan suara erangan yang memalukan.

Ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungku. Aku berdiri tanpa busana di tengah sungai dangkal, dipijat perlahan oleh pemuda tampan yang menyelamatkan nyawaku, sementara ratusan tentara lain sibuk dengan urusan mereka masing masing. Rasanya sangat surealis. Semacam gelembung intim yang terbentuk di tengah tengah kekacauan perang.

Lalu, tangan Lykos turun ke sisi kanan pinggangku, mendekati area yang memar memar. Gerakannya menjadi jauh lebih lambat dan sangat hati hati. Jemarinya mengusap tepian memar ungu itu dengan kelembutan yang membuat dadaku terasa diremas. Dia mengoleskan minyak zaitun ekstra di sana, mengusapnya berulang kali tanpa memberikan tekanan yang menyakitkan.

"Di mana rumahmu yang sebenarnya, Firas?" tanya Lykos tiba tiba. Suaranya sangat rendah, hanya ditujukan untukku. "Kau sama sekali tidak terlihat seperti orang dari Phthia. Bahasamu terasa kaku, caramu berjalan, caramu memandang dunia... semuanya terasa sangat jauh."

Aku menundukkan kepala menatap riak air, membiarkan jemari Lykos terus menari di pinggangku. Pertanyaannya menembus pertahananku. Selama dua puluh empat jam terakhir, aku menolak memikirkan rumah. Aku menolak memikirkan kamarku yang berantakan, podcast sejarah di ponselku yang mungkin masih menyala di trotoar jalan, dan ibuku yang mungkin saat ini sedang menangis panik mencariku di rumah sakit. Jika aku memikirkan semua itu, aku pasti akan hancur dan menjadi gila.

"Jauh sekali," jawabku akhirnya, suaraku sedikit bergetar. "Begitu jauh sampai kau bahkan tidak akan menemukan tempat itu di peta dunia mana pun yang kau kenal."

Tangan Lykos berhenti bergerak sejenak. Dia tidak mendesakku dengan pertanyaan lebih lanjut. Dia hanya menekan pangkal leherku dengan lembut, sebuah gestur kecil yang anehnya memberikan rasa aman yang luar biasa besar.

"Tidak apa apa," kata Lykos menenangkan. "Di medan perang ini, banyak orang yang kehilangan arah pulang. Tapi selama kau bernafas, kau bisa menciptakan rumah baru. Lagipula, kau berada di bawah pengawasanku sekarang. Aku tidak akan membiarkan Galen atau prajurit Troya mana pun mengirimmu ke dunia bawah sebelum kau benar benar belajar memegang pedang."

Kalimat itu diucapkan dengan nada sangat sederhana, tanpa pretensi romantis murahan. Namun, kejujuran di dalamnya sukses membuat perutku melilit seperti ada ribuan kupu kupu yang mendadak bangkit dari hibernasi.

Setelah selesai dengan minyak zaitun, Lykos menggunakan alat perunggu melengkung yang disebut 'strigil' tadi untuk mengerok minyak beserta kotoran dari punggungku. Sensasinya agak aneh, sedikit kasar namun sangat efektif. Air sungai yang tadi terasa membekukan kini perlahan terasa menyegarkan.

Kami menghabiskan setengah jam berikutnya untuk membersihkan diri secara bergantian. Setelah rasa maluku terkikis habis oleh kepedulian Lykos, aku mulai bisa membalas bantuannya. Aku mengoleskan minyak zaitun ke punggungnya yang bidang, menelan ludah dengan susah payah saat harus menyentuh lekukan ototnya yang kokoh. Aku berusaha fokus pada tugas itu agar tidak terlihat seperti remaja puber yang sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Ketika kami akhirnya naik ke darat dan memakai kembali tunik linen kami, rasanya seluruh bebanku terangkat. Tubuhku memang masih sakit di sana sini, tapi kulitku bersih, aroma keringatku digantikan oleh wangi zaitun, dan pikiranku terasa sedikit lebih jernih.

Kami berjalan beriringan menyusuri jalan setapak kembali ke barak tenda Myrmidons. Angin laut mengeringkan rambut cokelat Lykos yang basah, membuatnya terlihat sedikit berantakan namun sangat pas dengan kontur wajahnya.

Aku berjalan sedikit di belakangnya, menatap punggung lebar pemuda itu.

Di sinilah letak masalah besarku yang sesungguhnya. Berada di tengah Perang Troya tanpa keahlian militer memang menakutkan. Ancaman pedang, tombak, kelaparan, dan penyakit adalah hal nyata yang bisa merenggut nyawaku kapan saja.

Namun, ada ancaman yang jauh lebih mematikan yang sedang mengintai diriku saat ini. Ancaman yang tidak bisa ditangkis oleh perisai perunggu atau dihindari dengan gerakan menghindar yang cepat.

Aku baru mengenal Lykos kurang dari dua hari, tapi tembok pertahananku sudah berlubang di mana mana. Kepeduliannya, sifat pelindungnya, dan cara dia menyentuhku tadi... semuanya adalah resep bencana yang sempurna. Jika aku membiarkan perasaan aneh yang bergejolak di dadaku ini tumbuh, aku hanya akan menyiapkan diriku sendiri untuk sebuah kehancuran yang mutlak.

Karena aku sangat tahu bagaimana sejarah Perang Troya berakhir. Aku tahu siapa yang hidup dan siapa yang mati. Dan yang terburuk, sejarah tidak pernah sekalipun menyebutkan bahwa seorang pemuda bernama Lykos akan mendapatkan akhir yang bahagia.

Aku menghela napas panjang, mempercepat langkahku untuk menyejajari Lykos, mencoba tersenyum seolah pikiranku tidak sedang memproyeksikan tragedi kehancuran hatiku sendiri di masa depan. Untuk saat ini, aku akan fokus pada satu hal saja. Belajar memegang pedang besok pagi, agar aku bisa melindungi pemuda ini dari takdir sialan yang sudah tertulis di halaman Wikipedia.