Bab 4: VIP Pass Nonton Achilles Ngambek
Kalau ada yang bertanya apa hiburan paling menarik di perkemahan militer Yunani kuno saat tidak ada jadwal saling tusuk dengan pasukan Troya, jawabanku cuma satu. Menonton orang dewasa bertengkar. Serius, kalian pikir drama remaja di lorong sekolah itu berlebihan? Kalian belum pernah melihat jenderal jenderal berotot baja yang sedang memperebutkan harga diri. Harga diri di sini biasanya diterjemahkan menjadi pampasan perang, emas, atau tawanan.
Sudah hampir dua minggu aku terjebak di neraka berpasir ini. Luka memar di tulang rusukku mulai berubah warna dari ungu mengerikan menjadi kuning kehijauan yang tidak kalah jeleknya. Aku mulai terbiasa dengan jadwal bangun pagi yang brutal, makanan yang rasanya seperti kardus basah, dan tentu saja, rutinitas mandi komunal yang kini terasa sedikit, hanya sedikit, kurang memalukan karena Lykos selalu memastikan tidak ada yang berani menggangguku.
Sore ini matahari tidak terlalu menyengat. Angin laut berhembus cukup sejuk membawa aroma ikan bakar dari arah dapur umum. Aku dan Lykos sedang duduk bersembunyi di balik tumpukan karung gandum dan tong anggur di dekat tenda komando. Tempat ini strategis. Kami terlindung dari pandangan perwira patroli, tapi memiliki sudut pandang yang sangat sempurna ke arah alun alun utama perkemahan.
Lykos menyodorkan mangkuk kayu kecil berisi buah zaitun hijau. Tangannya menyentuh punggung tanganku sekilas saat aku mengambil satu buah zaitun. Ada sensasi hangat yang menjalar cepat ke lenganku. Aku buru buru memalingkan wajah, berpura pura sangat tertarik pada debu yang beterbangan di alun alun. Aku mengunyah zaitun itu dalam diam. Rasanya pahit dan terlalu asin, tapi aku tidak peduli.
"Kau yakin kita boleh berada di sini?" bisik Lykos. Dia melirik ke sekeliling dengan waspada. Tangan kanannya bertumpu pada lututnya yang ditekuk, siap melompat kapan saja. "Kalau Komandan Eudoros melihat kita bersantai saat yang lain sedang mengasah pedang, dia akan menyuruh kita menguras isi kapal dengan sendok."
"Tenang saja," balasku dengan suara pelan. Aku menunjuk ke kerumunan besar yang mulai terbentuk di depan tenda komando. Tenda itu jauh lebih besar dan lebih mewah dari tenda kami. Tiang tiangnya dicat merah dan emas. "Bahkan Eudoros sedang sibuk menonton. Lihat itu. Pertunjukan utamanya baru saja dimulai."
Lykos mengikuti arah telunjukku. Keningnya berkerut dalam. Di tengah alun alun, dua pria sedang berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang dari dua meter. Suasana di sekitar mereka begitu tegang sampai sampai aku yakin sehelai bulu burung pun akan meledak jika jatuh di antara mereka.
Pria pertama adalah Raja Agamemnon. Kalian tahu tipe bos yang selalu merasa dirinya paling benar, suka merendahkan bawahan, dan memakai perhiasan emas terlalu banyak untuk menutupi rasa tidak amannya? Nah, kalikan itu seratus kali lipat, dan kalian akan mendapatkan Agamemnon. Jubah merahnya menjuntai menyapu tanah berdebu. Janggutnya dikepang rapi, dan wajahnya memerah karena amarah.
Pria kedua adalah alasan mengapa pasukan Myrmidons begitu ditakuti. Achilles.
Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya dari jarak sedekat ini. Aku harus mengakui, deskripsi di buku sejarah tidak melebih lebihkan penampilannya. Achilles berdiri dengan postur yang memancarkan bahaya absolut. Rambut keemasannya bergerak pelan ditiup angin. Dia tidak memakai helm, seolah menantang siapa pun untuk mencoba melukai kepalanya. Zirah perunggunya berkilat menyilaukan, dan pedangnya masih berada di dalam sarung. Namun aura membunuhnya sangat terasa.
"Ini buruk," gumam Lykos. Tubuhnya menegang. "Sang Pelides terlihat seperti ingin memenggal kepala Raja Mycenae."
"Memang," sahutku pelan, tidak bisa menyembunyikan nada antusias dalam suaraku. "Ini adalah awal dari segalanya. Konflik epik."
Lykos menatapku dengan bingung. "Awal dari apa? Mengapa kau terlihat seperti orang yang sedang menantikan balapan kereta kuda?"
Aku mengatupkan bibir rapat rapat. Aku tidak mungkin menjelaskan kepadanya bahwa aku sedang menyaksikan babak pertama dari epik kuno secara langsung. Ini adalah momen saat Agamemnon menuntut Briseis, tawanan perang sekaligus piala kesayangan Achilles, untuk diserahkan kepadanya karena Agamemnon terpaksa mengembalikan tawanannya sendiri demi menghentikan wabah penyakit. Ini adalah momen saat Achilles ngambek secara legendaris dan menolak ikut campur lagi dalam Perang Troya.
"Hanya firasat," jawabku mengelak, membuang biji zaitun ke pasir. "Dengarkan saja mereka."
Suara Agamemnon menggelegar ke seluruh penjuru perkemahan. Dia menunjuk dada Achilles dengan kasar.
"Jangan berani berani menentangku, Pelides!" teriak Agamemnon. Urat urat di lehernya menonjol seperti cacing pita. "Aku adalah pemimpin tertinggi pasukan ini. Jika dewa Apollo memaksaku mengembalikan Chryseis, maka aku akan mengambil Briseis dari tendamu sebagai gantinya. Aku akan mengambilnya dengan tanganku sendiri untuk menunjukkan kepadamu dan kepada semua orang di sini betapa jauh lebih berkuasanya diriku daripadamu!"
Sorakan tertahan terdengar dari para prajurit yang menonton. Menantang Achilles di depan pasukannya sendiri adalah tindakan bunuh diri yang paling konyol.
Tangan Achilles bergerak secepat kilat menuju gagang pedangnya. Sebagian pedang perunggunya sudah ditarik keluar dari sarung. Bunyi logam bergesekan itu terdengar sangat nyaring dan mematikan. Lykos menahan napas di sebelahku. Aku sendiri merasa jantungku berhenti berdetak. Sejarah mengatakan Achilles tidak membunuh Agamemnon di sini, tetapi melihat amarah di mata prajurit setengah dewa itu, aku mulai ragu apakah buku sejarah yang kubaca benar benar akurat.
Namun, sebelum pedang itu sepenuhnya keluar, sebuah tangan pucat namun kuat menahan pergelangan tangan Achilles.
Seorang pria muda melangkah maju dari belakang punggung Achilles. Dia memiliki rambut gelap yang diikat rapi dan wajah yang memancarkan ketenangan luar biasa. Berbeda dengan Achilles yang terlihat seperti badai api, pria ini terlihat seperti air telaga yang tenang. Patroclus.
"Jangan, Achilles," suara Patroclus tidak keras, namun sangat jernih dan tegas. "Darahnya tidak pantas mengotori pedangmu hari ini. Jangan biarkan amarahmu menghancurkan kehormatanmu di depan para dewa."
Achilles menatap Agamemnon dengan kebencian yang mendalam, lalu menoleh menatap Patroclus. Pemandangan itu sangat luar biasa. Amarah badai di dalam diri Achilles perlahan lahan mereda hanya karena satu sentuhan dan satu kalimat dari Patroclus. Ada ikatan tak terlihat yang sangat kuat di antara mereka berdua. Sesuatu yang melampaui sekadar persahabatan atau persaudaraan militer. Patroclus adalah sauh bagi kewarasan Achilles.
Achilles mendengus kasar. Dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dengan hentakan kuat.
"Ambil gadis itu," desis Achilles kepada Agamemnon. Suaranya sangat dingin, jauh lebih mengerikan daripada teriakan marahnya. "Ambil semua yang kau inginkan. Tetapi dengarkan sumpahku ini, putra Atreus. Mulai hari ini, aku dan pasukanku tidak akan mengangkat pedang untukmu. Saat pasukan Troya membantai orang orangmu, saat wajah mereka mencium debu dan darah, kau akan mengingat hari ini. Kau akan menyesal karena telah menghina prajurit terbaik dari bangsa Achaea."
Tanpa menunggu balasan, Achilles memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju tendanya. Patroclus menatap Agamemnon dengan pandangan dingin sejenak, lalu berjalan menyusul Achilles. Ratusan prajurit Myrmidons, termasuk Eudoros, serempak membalikkan badan dan mengikuti komandan mereka, meninggalkan Agamemnon yang berdiri dengan raut wajah penuh kemenangan yang terlihat sangat dipaksakan.
Aku menghembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan. Pertunjukan selesai. Drama politik, ego maskulin, dan ancaman kehancuran baru saja tersaji di depan mataku.
"Kau lihat itu?" bisik Lykos. Suaranya terdengar bergetar. Dia menatap ke arah tenda Achilles yang kini dijaga ketat. "Sang Pelides benar benar menarik mundur pasukan kita. Kita tidak akan ikut bertempur."
"Ini kabar baik untukmu," ujarku santai, mengambil satu lagi buah zaitun dari mangkuk di pangkuan Lykos. "Itu artinya kau tidak perlu repot repot mempertaruhkan nyawamu di garis depan untuk sementara waktu. Kau bisa fokus mengajariku cara agar tidak menusuk kakiku sendiri saat memakai pedang."
Lykos menoleh menatapku. Alisnya berkerut tidak setuju. "Ini bukan tentang keselamatan pribadiku, Firas. Ini tentang kehormatan. Jika Myrmidons tidak bertarung, orang orang Achaea akan dibantai."
Aku memutar bola mataku. Konsep kehormatan kuno ini benar benar membuatku frustrasi. "Kehormatan tidak akan membuatmu tetap bernapas jika tombak musuh menembus lehermu, Lykos. Percayalah padaku. Memiliki komandan yang sedang ngambek adalah sebuah berkah terselubung. Lagipula, kau tidak lihat bagaimana Patroclus menenangkannya tadi? Kadang kadang, mundur sejenak adalah tindakan yang paling berani."
Lykos terdiam. Dia memproses kata kataku dengan serius. Matanya yang berwarna cokelat madu menatap ke arah tenda Achilles, lalu kembali menatapku. Ada perubahan dalam sorot matanya. Bukan lagi tatapan polos seorang prajurit muda, melainkan tatapan seseorang yang sedang mencoba menguraikan sebuah teka teki yang rumit.
"Kau selalu memiliki cara pandang yang aneh terhadap dunia ini," gumam Lykos pelan. Dia menggeser duduknya, merapatkan jarak di antara kami. Udara sore ini mulai mendingin, tetapi panas tubuhnya kembali menguar, membungkusku dalam kehangatan yang sangat familier. "Saat semua orang memikirkan kejayaan, kau hanya memikirkan cara agar tetap hidup."
"Karena aku tidak punya ambisi untuk menjadi nama di buku sejarah," jawabku pelan. Aku menatap matanya secara langsung. Jarak kami terlalu dekat. Aku bisa melihat setiap helai bulu matanya dan merasakan nafasnya di permukaan pipiku. "Aku hanya ingin orang orang yang kupedulikan tetap bernapas besok pagi. Itu saja."
Ada keheningan panjang yang membentang di antara kami. Suara hiruk pikuk perkemahan seolah memudar menjadi suara latar yang tidak penting. Jantungku berdebar sangat keras, menghantam tulang rusukku dengan ritme yang nyaris menyakitkan. Aku tidak tahu apakah aku baru saja mengakui perasaanku secara tersirat atau hanya mengatakan hal bodoh.
Tatapan Lykos turun dari mataku menuju ke bibirku. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup membuat nafasku tertahan. Dia kemudian menundukkan wajahnya, jari jarinya yang kapalan menyentuh pergelangan tanganku yang masih memegang buah zaitun. Sentuhannya perlahan berubah menjadi genggaman lembut.
"Orang orang yang kau pedulikan," Lykos mengulangi kata kataku dengan suara yang sangat rendah, lebih mirip sebuah bisikan untuk dirinya sendiri. Dia mengangkat kepalanya lagi, menatapku dengan kejujuran yang telanjang. "Apakah aku termasuk di dalamnya?"
Pertanyaan itu melucuti semua pertahananku. Aku bukan Achilles yang memiliki perisai sakti, dan aku bukan Agamemnon yang memiliki ribuan pasukan. Aku hanya remaja nyasar yang kebetulan bergantung pada pemuda pemalu namun mematikan ini.
Aku membuka mulut untuk menjawab, namun sebuah suara teriakan keras dari arah alun alun memecah konsentrasiku.
"Perhatian untuk seluruh batalion! Bawa perisai dan tombak kalian! Raja Agamemnon memerintahkan inspeksi barisan sekarang juga!"
Sihir di antara kami seketika pecah berkeping keping. Lykos tersentak mundur, melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganku seolah olah tanganku baru saja terbakar. Wajahnya memerah padam. Dia buru buru berdiri, menepuk nepuk debu dari tuniknya dengan gerakan kaku dan salah tingkah.
"Kita... kita harus segera mengambil senjata kita," kata Lykos cepat, menghindari kontak mata denganku. Nada suaranya kembali menjadi prajurit yang disiplin. "Ayo kembali ke tenda sebelum instruktur menyadari kita menghilang."
Aku menghela napas pasrah, menelan kembali semua kata kata yang sudah bersiap keluar dari tenggorokanku. Aku melempar buah zaitun terakhirku ke tanah dan berdiri menyusulnya.
Drama Achilles mungkin baru saja selesai. Tetapi drama bertahan hidupku di kamp ini jelas akan menjadi semakin panjang dan menyiksa. Terutama karena aku harus terus berada di dekat seseorang yang sanggup membuatku melupakan betapa kacaunya tempat ini hanya dengan satu genggaman tangan.