Baca Novel Online Gratis

Bab 5: Pelajaran Anatomi Tengah Malam


Cuaca pesisir Laut Aegea adalah penipuan terbesar dalam sejarah peradaban kuno.

Jika pada siang hari Apollo seolah sengaja memarkir kereta mataharinya tepat di atas ubun ubun kami, maka pada malam hari, para dewa angin sepertinya sepakat untuk mengadakan pesta es dan menjadikan tenda prajurit sebagai pusat pendingin ruangan raksasa. Angin bertiup kencang dari arah laut, menyusup masuk melalui celah celah kain tenda yang dijahit seadanya, dan langsung menusuk tulang.

Aku meringkuk di atas tumpukan jerami kering yang dialasi kain kasar, menggigil hebat sampai sampai gigiku bergemeretak seperti mesin ketik rusak. Tanganku sibuk menarik narik ujung tunik linenku yang sangat tipis, berusaha menutupi paha dan lengan bawahku yang mulai kebas. Di duniaku yang dulu, kalau aku kedinginan, aku tinggal meraih remote AC, menaikkan suhunya menjadi dua puluh lima derajat, lalu membungkus diri dengan selimut tebal bermotif kotak kotak.

Di sini, di tahun kesembilan Perang Troya, teknologi pemanas ruangan paling canggih yang kami miliki hanyalah api unggun di luar sana. Dan aku jelas tidak mungkin keluar membawa kayu bakar lalu membakarnya di dalam tenda unless aku ingin kami mati keracunan karbon monoksida atau terbakar hidup hidup.

Lykos baru saja kembali dari jadwal pergantian penjaga malam. Dia menyingkap tirai kulit penutup pintu tenda, membawa serta hembusan angin laut yang membuatku mengumpat pelan dalam bahasa Indonesia. Lykos mengernyit mendengar gerutuanku, tetapi dia tidak berkomentar. Dia melepaskan pelindung dada perunggunya yang berat, meletakkannya di sudut tenda, lalu menaruh pedangnya di atas peti kayu.

Bahkan dalam cahaya remang remang dari obor di luar yang menembus celah tenda, aku bisa melihat embun beku menempel di rambut cokelat gelapnya. Namun ajaibnya, dia sama sekali tidak terlihat kedinginan. Dia bergerak dengan tenang, meregangkan otot bahunya, dan melepaskan sandal kulitnya sebelum berjalan mendekatiku.

"Apakah kau mencoba membuat musik dengan gigimu?" tanya Lykos. Nada suaranya datar, tetapi aku bisa mendengar nada geli yang menyebalkan di sana.

Aku memelototinya dari balik lututku yang kutekuk sampai ke dada. "Bisa tolong suruh dewa anginmu berhenti meniupkan es ke arahku? Aku merasa organ dalamku sedang dibekukan pelan pelan untuk dijadikan bahan pengawet."

Lykos terkekeh pelan. Lesung pipinya muncul sekejap sebelum dia berjongkok di dekat tumpukan barang logistik kami. Dia menarik sebuah benda tebal berwarna cokelat kusam dari tumpukan itu. Sehelai selimut bulu domba. Itu adalah satu satunya barang mewah yang kami miliki, jatah dari perwira logistik yang entah bagaimana berhasil didapatkan oleh Lykos kemarin sore setelah dia menang taruhan panco.

Masalahnya, selimut itu hanya ada satu. Ukurannya lumayan besar, tetapi jelas tidak didesain untuk dipakai tidur secara terpisah di sudut tenda yang berbeda.

Lykos melemparkan selimut berat itu ke atasku. Bau apek khas hewan ternak langsung menusuk hidungku, tetapi saat ini kehangatan jauh lebih penting daripada higienitas. Aku langsung menggulung diriku seperti sushi, menarik ujung bulu domba itu sampai menutupi separuh wajahku.

Aku baru saja merasa sedikit lega ketika kasur jerami di sebelahku berderit melesak.

Lykos merebahkan tubuhnya tepat di sampingku. Jarak kami tidak lebih dari sejengkal. Dia hanya memakai tunik pendeknya, berbaring telentang menatap langit langit tenda dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala. Kulit lengannya bersentuhan dengan punggungku yang terbungkus selimut. Tubuhnya memancarkan panas yang tidak masuk akal, seolah olah dia memiliki reaktor nuklir kecil yang ditanam di dalam perutnya.

"Kau tidak kedinginan?" tanyaku, suaraku masih sedikit bergetar karena sisa kedinginan tadi. Tersembunyi di balik tebalnya bulu domba, aku merasa aman secara fisik, tetapi sangat terancam secara psikologis.

"Malam di pegunungan Phthia jauh lebih membekukan daripada ini," jawab Lykos santai. "Saat aku masih kecil, instruktur kami sering menyuruh kami tidur di tanah terbuka saat badai salju. Katanya itu untuk mengeraskan darah kami agar tidak mudah beku saat terluka di medan perang."

Aku meringis ngeri. "Instruktur kalian pantas dilaporkan ke komisi perlindungan anak. Itu penyiksaan namanya."

"Itu cara kami bertahan hidup," balas Lykos tenang.

Dia menoleh ke samping, menatapku yang masih menjadi gulungan ulat bulu. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat warna matanya yang cokelat madu memantulkan sisa cahaya obor dari luar. Tatapannya tidak tajam atau waspada seperti saat siang hari di lapangan latihan. Ada kelembutan yang membuat perutku tiba tiba terasa kosong.

"Kau akan mati membeku sebelum fajar kalau terus bersikap keras kepala begitu, Firas," kata Lykos lagi.

"Aku tidak keras kepala. Aku sedang mencari kehangatan."

"Kulit domba itu hanya menahan angin, tidak memberikan panas," Lykos menjelaskan. Suaranya merendah satu oktaf, berubah menjadi bisikan parau yang sangat berhati hati. "Prajurit Myrmidons selalu berbagi panas tubuh di malam musim dingin. Buka selimutnya, bagikan setengahnya padaku, dan tidurlah lebih dekat."

Kalimat itu terdengar sangat logis, sangat taktis, dan sangat militer. Tetapi bagi otak remaja abad dua puluh satuku yang dipenuhi hormon dan kecemasan sosial, kalimat itu terdengar seperti undangan masuk ke ruang gawat darurat akibat serangan jantung.

Berbagi panas tubuh. Praktik kuno yang memang sering kubaca di artikel sejarah untuk mencegah hipotermia. Namun membaca tentang hal itu dan mempraktikkannya langsung bersama pemuda yang sejak kemarin berhasil mengacaukan ritme nafas ku adalah dua hal yang sangat berbeda.

"Aku... aku baik baik saja begini," jawabku terbata bata, berusaha menggeser pingganku sedikit menjauh.

Lykos menghela nafas panjang. Tanpa menunggu persetujuanku lebih lanjut, tangannya yang kuat terjulur menarik ujung selimut yang membungkusku. Tenaganya tidak mungkin bisa kulawan. Dalam dua detik, selimut tebal itu sudah terbuka. Lykos menyusup masuk ke bawahnya, menarik bagian tepi kain hingga menutupi bahu kami berdua.

Untuk memastikan tidak ada celah angin yang masuk, Lykos menggeser tubuhnya menyamping menghadapku. Sekarang, jarak di antara kami menguap sepenuhnya. Paha kanannya bersentuhan dengan paha kiriku. Dada kami nyaris menempel. Panas tubuhnya langsung membanjiri ruang sempit di bawah selimut ini.

Aku menahan napas sampai dadaku terasa sakit. Badanku kaku seperti sepotong kayu mati. Pikiranku mendadak kosong. Saraf-saraf di permukaan kulitku bekerja terlalu keras mencatat setiap titik kontak dengan tubuh Lykos.

"Rileks," bisik Lykos, nada suaranya mengambang tepat di atas wajahku. "Ototmu tegang sekali. Apakah berdekatan dengan kawan sendiri adalah hal yang terlarang di tanah asalmu?"

"Tidak terlarang," cicitku pelan. Mataku menatap paksa pada pola tenunan di kerah tuniknya. "Hanya... sedikit tidak biasa. Terutama jika kawanmu memancarkan panas seperti oven."

Aku bisa merasakan dada Lykos bergetar saat dia menahan tawa. "Oven? Istilah ajaib apalagi itu? Apakah itu semacam dewa perapian di desamu?"

"Ya, kurang lebih begitu," aku asal menjawab, mencoba mencari topik pembicaraan apa saja agar keheningan tidak menguasai kami. "Katakan padaku, Lykos. Apakah Patroclus dan Achilles juga melakukan... 'berbagi panas tubuh' seperti ini di tenda mereka?"

Begitu pertanyaan itu lolos dari bibirku, aku ingin memukul mulutku sendiri. Bodoh. Kenapa dari sekian banyak topik, aku malah membahas hubungan komandan kami yang statusnya adalah legenda romansa tragis paling terkenal sepanjang masa?

Lykos terdiam sejenak. Aku bisa merasakan embusan nafasnya yang tenang menyapu poniku.

"Sang Pelides dan Patroclus terikat oleh takdir," jawab Lykos pada akhirnya, suaranya dipenuhi rasa hormat yang kental. "Mereka lebih dari sekadar kawan seperjuangan. Di tempat kami, memiliki satu rekan jiwa yang bersedia menumpahkan darah dan membagi napas adalah anugerah terbesar yang bisa diberikan oleh para dewa. Orang orang bilang, Achilles tidak akan bisa bertahan dari amarahnya sendiri jika Patroclus tidak ada untuk menjadi jangkar kewarasnya."

Penjelasan itu membuat hatiku mencelos. Lykos membicarakannya dengan kepolosan yang sangat murni. Dia tidak memandang hubungan Achilles dan Patroclus sebagai sesuatu yang tabu atau harus disembunyikan. Di era ini, ikatan semacam itu diakui, dihormati, dan sering kali menjadi kekuatan utama di medan perang.

"Kau tidak takut?" tanyaku pelan, mengangkat wajahku sedikit untuk menatap matanya.

"Takut pada apa?"

"Pada perang ini," bisikku. "Takut tidak bisa pulang ke Phthia. Takut mati tertusuk pedang orang Troya dan hanya menjadi tumpukan abu di tepi pantai asing ini."

Mata Lykos menggelap sejenak. Tangannya yang berada di bawah selimut bergerak pelan, ibu jarinya tidak sengaja menyentuh sisi pinggangku. Sentuhan kecil itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat nafas ku sedikit tersendat, tetapi aku memaksakan diri untuk tetap diam.

"Ketakutan adalah hal pertama yang diajarkan untuk kami bunuh di kamp pelatihan," kata Lykos jujur. "Tapi aku bohong jika aku bilang aku tidak pernah merasa takut. Malam sebelum aku berlayar ke sini, aku melihat ibuku menangis di kuil Athena. Dia mengorbankan seekor domba dan memohon agar dewi perang melindungiku. Saat itu aku sadar, jika aku mati, aku tidak hanya kehilangan nyawaku sendiri. Aku juga membawa pergi sebagian jiwa ibuku."

Mendengar pengakuannya, rasa simpatiku mengalahkan rasa canggungku. Di balik tubuhnya yang sekeras perunggu dan kemampuannya melumpuhkan lawan dalam hitungan detik, Lykos hanyalah remaja tujuh belas tahun. Dia memiliki ibu yang menunggu di rumah. Dia memiliki mimpi yang mungkin tidak sempat terwujud. Fakta bahwa aku mengetahui akhir dari perang ini, bahwa tidak semua orang Myrmidons akan selamat, membuat dadaku sesak luar biasa.

Tanpa sadar, aku menggerakkan tangan kiriku dari bawah dadaku. Jari jariku menyentuh lengan atas Lykos. Kulitnya terasa sedikit kasar karena bekas latihan, namun ototnya sangat padat. Aku memberikan remasan kecil yang canggung di sana.

"Kau akan pulang," kataku tegas, meski aku sama sekali tidak memiliki jaminan atas ucapanku sendiri. "Kau petarung yang hebat, Lykos. Kau akan bertahan."

Lykos menundukkan pandangannya. Matanya terkunci pada tanganku yang masih bersandar di lengannya. Alih alih menjauh, dia malah memindahkan tangannya sendiri, menutupi punggung tanganku dengan telapak tangannya yang lebar. Jari jarinya yang kapalan menyusup di sela sela jariku.

Udara di dalam tenda tiba tiba terasa seratus derajat lebih panas. Oksigen menipis seketika.

"Bahasamu sungguh aneh, Firas," Lykos berbisik. Suaranya serak, jarak wajahnya kini nyaris tidak menyisakan ruang bagiku untuk berpikir jernih. "Pakaian asalmu aneh. Pemahamanmu tentang dewa dewi kami juga sangat ganjil. Terkadang aku merasa kau dijatuhkan dari langit oleh Zeus hanya untuk membuatku kebingungan setiap hari."

"Aku memang berbakat membuat orang pusing," paksaku merespons, menelan ludah dengan susah payah. Mataku tanpa sadar terpaku pada bibirnya. Ini sangat berbahaya. Protokol darurat di kepalaku menyala-nyala, tetapi sistem navigasiku sudah hancur total.

Lykos mengangkat tangan bebasnya. Buku jari telunjuknya menyusuri garis rahangku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan tangan seorang pembunuh. "Di tanah asalmu, apa yang dilakukan orang-orang ketika mereka merasakan sesuatu yang membuat dada mereka bergemuruh tapi tidak ada musuh di hadapan mereka?"

Oh, demi seluruh penghuni Olympus! Dia benar-benar menanyakan itu dengan wajah sepolos anak domba tapi dengan tatapan seekor pemangsa yang sudah menemukan targetnya.

"Mereka..." suaraku nyaris hilang ditelan embusan angin di luar. "Mereka biasanya banyak bicara omong kosong. Atau mereka lari menghindar. Atau..."

"Atau?" desak Lykos pelan.

"Atau mereka tidak melakukan apa-apa dan membiarkan momen itu berlalu," dustaku, mencoba menarik wajahku ke belakang sedikit. Tetapi tangan Lykos di rahangku menahan tengkukku dengan sangat posesif, mencegahku mundur satu sentimeter pun.

"Kalau begitu, orang orang di duniaku jauh lebih jujur dibandingkan di duniamu."

Lykos memiringkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibirku.

Jantungku berhenti berdetak. Seluruh sistem sarafku meledak seperti kembang api.

Sentuhan pertamanya ragu ragu. Hanya tekanan lembut yang kaku, seolah dia sedang mengetes apakah aku akan mendorongnya menjauh atau berteriak meminta tolong. Bibirnya terasa kering, sedikit pecah pecah karena angin laut, namun rasa hangat yang menjalar dari kontak itu mengalir deras ke setiap sel di tubuhku.

Aku membeku selama dua detik penuh. Mataku terbelalak lebar menatap kain atap tenda dalam kegelapan. Pengetahuan sejarahku, kecemasanku tentang perang, dan ingatan tentang duniaku sendiri menguap tanpa sisa. Yang ada di kepalaku saat ini hanyalah Lykos. Aroma laut dan debu yang menempel di rambutnya, dan detak jantungnya yang ternyata sama liarnya dengan detak jantungku di balik selimut bulu domba ini.

Lykos sedikit menarik diri. Wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajahku. Ada kilat keraguan di matanya yang madu. "Maaf," bisiknya nyaris tak terdengar. "Apakah aku melanggar hukum di tanah asalmu?"

Aku menatapnya. Melihat rasa bersalah di wajah pemuda yang telah melindungiku sejak hari pertama ini entah bagaimana mematahkan sisa-sisa keraguan yang kumiliki. Persetan dengan aturan lintas waktu. Persetan dengan sejarah.

"Hukum di tempatku mengatakan," aku berbisik balik, memberanikan diri mencengkeram kain tuniknya di bagian kerah, "bahwa menyerah di tengah jalan adalah tindakan pengecut."

Lykos menarik napas tajam. Mata madunya berkilat dalam kegelapan, dan keraguannya sirna seketika.

Dia kembali menciumku. Kali ini tidak ada keraguan, tidak ada kekakuan. Dia belajar dengan kecepatan yang mengerikan. Tangan yang tadi menahan tengkukku kini meluncur ke belakang kepalaku, menyusup ke sela-sela rambutku, menarikku lebih dekat sampai tidak ada lagi jarak tersisa di antara tubuh kami.

Posisiku yang agak canggung membuat hidung kami sempat bertabrakan pelan, tetapi Lykos langsung menyesuaikan diri. Dia memiringkan kepalanya ke arah yang berlawanan, memperdalam ciumannya dengan tuntutan yang membuatku nyaris mengerang. Mulutku terbuka sedikit tanpa sadar, dan dia mengambil kesempatan itu dengan sempurna.

Sensasi ini benar benar memabukkan. Lykos adalah seorang prajurit. Instingnya dilatih untuk mencari celah, menguasai medan, dan menaklukkan. Dan sialnya, dia menerapkan semua prinsip militer itu ke dalam ciuman pertama kami. Dia mendominasi ritmenya, tetapi anehnya aku tidak merasa keberatan sama sekali. Tanganku yang tadinya menggenggam kerah tuniknya kini merayap naik, melingkar di lehernya yang kokoh.

Tubuhku terasa ringan, melayang-layang dalam pusaran adrenalin dan endorfin yang bertabrakan. Dinginnya angin malam yang sedari tadi menyiksaku sudah tidak ada artinya lagi. Ruangan di bawah selimut ini terasa seperti dipanggang oleh suhu seratus derajat.

Napas kami berbaur menjadi satu, terengah dan memburu.

Ketika Lykos akhirnya melepaskan tautan bibir kami, kami berdua terengah engah mencari pasokan oksigen. Dadanya naik turun dengan cepat, menempel ketat di dadaku. Di bawah cahaya remang, wajah Lykos terlihat memerah. Bibirnya sedikit membengkak, dan senyum kecil kepuasan yang terlukis di sana sukses membuat kakiku terasa seperti squishy.

"Kau benar," bisik Lykos, suaranya terdengar sangat dalam dan serak. Ibu jarinya mengusap sudut bibirku dengan pelan. "Menyerah di tengah jalan memang tindakan pengecut."

Aku tidak bisa menjawab. Otakku masih berusaha reboot ulang setelah mengalami serangan malware romantis barusan. Aku hanya memejamkan mata, menyembunyikan wajahku yang pasti sudah semerah kepiting rebus ke lekukan lehernya.

Lykos tertawa pelan. Getaran tawanya terasa nyaman di dadaku. Dia menggeser posisi lengannya, melingkarkannya di pinggangku dengan posesif, dan menarikku masuk ke dalam pelukannya secara penuh.

"Tidurlah, Firas," gumamnya lembut, menempelkan dagunya di atas puncak kepalaku. "Besok aku akan mengajarimu cara menggunakan perisai tanpa mematahkan pergelangan tanganmu sendiri."

Aku memejamkan mata. Napas Lykos menerpa rambutku secara teratur, memberikan ritme yang menenangkan. Di luar tenda, suara ombak Laut Aegea terdengar menghantam karang, berpadu dengan langkah langkah berat patroli malam yang melintas di sekitar perkemahan.

Dunia di luar sana masih merupakan ancaman mematikan. Perang besar akan segera pecah. Orang-orang akan saling membunuh demi dewa-dewi yang sombong dan egois. Nasib buruk mengintai di setiap sudut debu Troya ini.

Namun di dalam tenda kecil ini, di bawah selimut bulu domba yang bau apek ini, aku merasa menemukan tempat persembunyian paling aman di seluruh peradaban manusia kuno. Tangan Lykos mempererat pelukannya di pinggangku, menjagaku tetap hangat. Dan untuk malam ini, aku memutuskan untuk membiarkan sejarah mengurus dirinya sendiri. Aku sudah memiliki duniaku sendiri di sini.