Izin ke Toilet | Preview
"Yon, pinjem penghapus dong," suara Rafi memecah konsentrasi gue.
Gue nggak jawab cepet, cuma menggeser penghapus karet yang udah agak item itu ke arahnya. Kita lagi di jam pelajaran Sejarah, dan jujur, suara Pak Guru di depan sana udah kayak lagu pengantar tidur. Gue nggak fokus ke materi tentang Perang Diponegoro, tapi lebih fokus ke gimana cara duduk yang enak supaya 'aset' gue nggak terlalu neken celana abu-abu yang makin hari makin terasa sempit ini.
Rafi itu tipe cowok yang kalau dilihat-lihat, nggak ada salahnya jadi model iklan skincare. Kulitnya putih bersih, badannya ramping, dan kalau dia ketawa, ada kesan polos yang bikin orang pengen jagain. Kita udah sebangku dari kelas sepuluh, jadi udah nggak ada lagi rasa canggung. Tapi belakangan, ada sesuatu yang aneh. Setiap kali kita nggak sengaja bersentuhan—entah itu pas lagi oper buku atau sekadar bercandaan—ada sengatan listrik yang bikin gue deg-degan.
Dan gue tahu, Rafi juga ngerasain hal yang sama. Dia sering banget curi-curi pandang ke arah gue, tapi kalau gue balik natap, dia bakal langsung buang muka sambil pura-pura sibuk sama pulpennya.
"Eh, Yon, ini maksudnya apa ya? Gue nggak ngerti bagian ini," bisik Rafi sambil mendekat.
Badannya hampir nempel ke bahu gue. Wangi sabun mandi atau parfum bayi—gue nggak tahu pasti—tapi baunya bikin konsentrasi gue buyar total. Pas Rafi mau nunjuk kalimat di buku paket, tangannya nggak sengaja nyenggol paha gue. Lebih tepatnya, telapak tangannya mendarat tepat di atas 'benjolan' yang sejak tadi berusaha gue sembunyiin di balik celana abu-abu.
Gue tersentak, tapi anehnya gue nggak refleks menjauh. Rafi juga diam. Matanya yang bulat itu melirik ke bawah, tepat ke arah tangannya yang masih menempel. Gue bisa ngerasain jantung gue kayak mau lompat keluar dari dada. Ada jeda beberapa detik yang terasa kayak satu jam, di mana dunia cuma berisi kami berdua dan sesuatu yang keras di antara kami.
Rafi nggak langsung narik tangannya. Dia justru mengerutkan kening, rasa penasaran mengalahkan rasa malunya. Dia memberikan tekanan kecil—hanya sedikit—tapi itu cukup buat gue mendesah pelan.
"Buset... Yon, ini apaan?" bisiknya, suaranya serak.

Komentar Pembaca