Irham #1 Top | Bagian 1 Rian | Preview

📅 Oktober 06, 2026 ✍️

Irham tidak pernah suka basa-basi yang terlalu lama. Baginya, aplikasi kencan hanyalah sebuah katalog visual untuk memilih "mainan" mana yang paling pas dengan seleranya hari itu. Dia menyukai tipe laki-laki yang ramping, dengan otot-otot tipis yang masih terlihat jelas di bawah kulit, dan yang terpenting: harus lebih pendek darinya. Ada kepuasan tersendiri saat melihat sosok yang lebih kecil bertekuk lutut di hadapannya, merasa terintimidasi sekaligus terangsang oleh kehadirannya yang mendominasi.

Hari ini, pilihannya jatuh pada seorang pemuda yang hanya memperkenalkan dirinya sebagai Rian. Foto profilnya memperlihatkan sosok yang pas—lean muscle, wajah polos, dan sorot mata yang tampak sangat penurut. Setelah beberapa kali saling kirim pesan singkat yang isinya lebih banyak kode daripada kata-kata, mereka sepakat untuk bertemu di kosan Rian.

Begitu sampai di depan pintu kamar kos yang sempit itu, Irham sudah bisa merasakan aura kegugupan dari dalam. Saat pintu terbuka, Rian berdiri di sana dengan kaos kebesaran yang membuat tubuh rampingnya semakin tenggelam. Dia mendongak melihat Irham, dan seketika itu juga, rasa minder sekaligus kagum terpancar dari wajahnya. Irham memang tahu benar bagaimana pengaruh fisiknya; tinggi, tegap, dengan bahu lebar dan tatapan mata yang tajam dan mengintimidasi.

"Masuk, bang," ucap Rian pelan, hampir berbisik.

Irham tidak menjawab. Dia hanya melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas, dan tanpa kata-kata, dia menarik tengkuk Rian. Gerakan itu cepat dan dominan, memaksa Rian untuk tersentak mundur hingga punggungnya menempel di dinding.

"Bang Irham, ya?" tanya Rian dengan suara gemetar.

Irham menyeringai tipis. Dia sangat suka saat lawan bicaranya merasa tertekan. "Panggil aku Bang Irham. Dan di sini, kamu nggak perlu banyak bicara. Cukup lakukan apa yang abang mau."

Tanpa menunggu jawaban, Irham mulai melucuti pakaian Rian dengan kasar. Tidak ada romansa di sini, yang ada hanyalah keinginan untuk menguasai. Kaos Rian ditarik paksa, disusul dengan celana yang dilepas begitu saja hingga pemuda itu berdiri polos tanpa sehelai benang pun. Irham memandang tubuh di hadapannya dengan tatapan menilai, seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa kualitas barangannya.

"Sini," perintah Irham sambil menunjuk lantai di hadapannya.

Rian menurut tanpa membantah. Dia berlutut, menundukkan kepalanya. Irham membuka celananya, membiarkan alat kelaminnya yang besar dan tegang menyembul keluar, mengintimidasi pandangan Rian.

"Sikat," perintahnya singkat.

Komentar Pembaca