Bab 1: Alarm Kontol!
Bas masih terlelap sangat pulas, tipe tidur yang membuat seseorang tidak sadar jika dunia di sekitarnya sedang kiamat sekalipun. Dalam tidurnya, pemilik gym itu hanya merasakan suhu kamar yang sejuk karena AC yang menyala maksimal, menyelimuti tubuh atletisnya yang hanya berbalut sehelai boxer tipis. Napasnya teratur, dadanya yang bidang naik turun dengan tenang, benar-benar tidak menyadari bahwa pintu kamarnya telah terbuka sedikit dan seorang pemuda telah menyelinap masuk dengan langkah kaki yang sangat ringan.
Rio berdiri di samping tempat tidur, memandangi ayah tirinya dengan tatapan lapar. Sebagai mahasiswa baru teknik, Rio memang terlihat kalem dan tidak banyak bicara di kampus, namun di dalam rumah, terutama saat berhadapan dengan Bas, sisi dominannya muncul sepenuhnya. Matanya menelusuri lekuk otot lengan Bas yang tetap terlihat kokoh meski sedang rileks, lalu turun ke arah pinggang yang ramping namun kuat.
Bagi Rio, tubuh Bas adalah sebuah mahakarya. Dan pagi ini, Rio tidak ingin sekadar mengagumi.
Tanpa suara, Rio naik ke atas kasur. Dia bergerak perlahan, memastikan berat badannya tidak mengejutkan Bas terlalu cepat. Dengan gerakan yang sangat efisien, Rio meraih pinggang boxer Bas dan menariknya ke bawah, membiarkan kain itu melorot melewati paha dan jatuh ke lantai. Kini, bokong putih bersih Bas terpampang nyata, kontras dengan sprei berwarna abu-abu gelap.
Rio tidak membuang waktu. Dia segera melucuti celananya sendiri, membiarkan kejantanannya yang tebal, panjang, dan sudah mengeras sempurna karena gairah yang memuncak sejak bangun tidur, berdiri tegak menantang pagi. Dia mengambil posisi di belakang Bas, merapatkan dadanya yang bidang ke punggung pria yang lebih tua itu.
Bas hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, masih terbuai mimpi, tidak sadar bahwa ujung kontol Rio sudah mulai menggesek-gesekkan kepalanya yang panas tepat di lubang pantatnya yang hitam dan mengatup rapat.
"Mmmh..." Bas mengerang kecil, merasa ada sesuatu yang asing namun terasa nikmat di area sensitifnya.
Rio tersenyum kecil. Dia tidak ingin memberi peringatan. Dia ingin memberikan 'alarm' yang tidak akan pernah dilupakan Bas. Dengan satu gerakan kuat dan mantap, Rio menghujamkan seluruh panjang kontolnya masuk ke dalam lubang pantat Bas.
Jleb!
"AAARRGHHH!"
Bas tersentak hebat. Matanya terbuka lebar-lebar, seluruh saraf di tubuhnya seolah tersengat listrik. Dia mencoba bangkit, namun beban tubuh Rio yang menindihnya membuat dia tertahan di kasur. Rasa penuh yang luar biasa mendadak menyerang bagian bawah tubuhnya, memaksa oksigen keluar dari paru-parunya dalam satu teriakan tertahan.
"Rio! Ya Tuhan... kamu..." Bas terengah-engah, jantungnya berdegup kencang.
"Pagi, Pah," bisik Rio tepat di telinga Bas, suaranya berat dan penuh kemenangan.
Bas masih terengah-engah, tubuh atletisnya gemetar hebat di atas sprei abu-abu yang kini tampak kusut. Sensasi penuh yang menghujam masuk ke dalam dirinya terasa begitu nyata, begitu menyesakkan sekaligus nikmat. Dia bisa merasakan urat-urat kontol Rio yang tebal itu menekan dinding internalnya, mengisi setiap ruang kosong di lubang pantatnya sampai benar-benar rapat.
"Kamu... kamu gila, Rio! Kenapa tiba-tiba... hnggh!" Bas mencoba memprotes, namun kata-katanya terputus menjadi erangan saat Rio mulai menggerakkan pinggulnya.
Rio tidak memberi jeda. Dia mencengkeram pinggang Bas dengan kuat, kuku-kukunya sedikit menekan kulit putih bersih ayahnya, memastikan posisi Bas tidak bergeser satu milimeter pun. Rio menarik dirinya keluar hampir sepenuhnya, menyisakan hanya ujung kepalanya yang masih mengunci, sebelum kemudian menghujamkan kembali seluruh panjang kejantanannya dengan satu hentakan keras.
Plak!
Bunyi kulit bokong Bas yang beradu dengan pangkal paha Rio menggema di kamar yang sunyi itu. Bas memekik, kepalanya terlempar ke belakang, sementara punggungnya melengkung membentuk busur.
"Aakh! Pelan-pelan, Rio... ahh!"
"Ini alarm spesial, Pah. Alarm itu memang harusnya keras, kan?" Rio terkekeh, suaranya terdengar sangat puas. Dia mulai memompa dengan ritme yang cepat dan konsisten. Setiap hujaman terasa sangat dalam, seolah-olah Rio ingin menandai setiap sudut di dalam tubuh Bas.
Bas merasa seluruh kesadarannya tersedot ke titik temu antara tubuh mereka. Rasa panas menjalar dari pangkal pahanya hingga ke tulang belakang. Dia mencoba mendorong tubuhnya ke depan untuk mengurangi kedalaman penetrasi, namun Rio justru menarik bokong Bas lebih rapat, memaksa kontolnya masuk lebih jauh lagi hingga menyentuh batas terdalam.
"Nghhh... ssshh... ahhh!" Bas hanya bisa mengerang pasrah. Tangan pria itu kini mencengkeram sprei, menarik kain abu-abu itu sampai berkerut hebat. Keringat mulai membasahi tengkuknya, membuat rambut pendeknya menempel di kulit.
Rio sangat menikmati pemandangan ini: pria dewasa yang gagah, pemilik gym yang disegani banyak orang, kini berada di bawah kendalinya, mengerang kesakitan namun sekaligus merasakan kenikmatan yang luar biasa. Rio mempercepat gerakannya, menciptakan suara plak-plak-plak yang ritmis dan basah.
"Gimana, Pah? Masih mau lanjut tidur?" bisik Rio sambil menggigit kecil daun telinga Bas.
"Nggak... ahh... nggak mungkin bisa tidur kalau... hnggh... diginiin!" Bas mendesah panjang. Kontol pendeknya kini sudah mengeras sempurna, bergesekan dengan sprei setiap kali Rio menghantam bokongnya.
Rio semakin agresif. Dia tidak lagi sekadar mengentot, tapi seolah sedang menghancurkan pertahanan Bas. Setiap hentakan membawa beban tubuh Rio yang atletis, membuat tempat tidur itu berderit keras. Bas merasa dunianya berputar; rasa penuh yang menyesakkan itu berubah menjadi gelombang kenikmatan yang menghantam tanpa henti.
"Rio... ahh... cukup... sudah… cukup..." Bas memohon, namun suaranya tidak terdengar seperti perintah, melainkan seperti undangan.
Rio tidak peduli dengan permintaan itu. Baginya, suara Bas yang pecah dan terengah-engah adalah musik paling indah yang pernah ia dengar. Ia justru semakin mempererat cengkeramannya pada pinggang Bas, mengunci posisi ayah tirinya agar tidak bisa melarikan diri satu senti pun. Rio bisa merasakan betapa kencangnya otot bokong Bas menjepit kontolnya, sebuah reaksi alami tubuh yang justru membuat Rio semakin terangsang.
"Cukup gimana sih, Pah? Lihat deh, punya Papa malah udah keras banget," goda Rio sambil menyusupkan tangannya ke bawah, menyentuh kontol pendek Bas yang sudah menegang keras dan berdenyut, bergesekan kasar dengan sprei abu-abu.
Bas mengerang keras. Dia merasa sangat tidak berdaya. Sebagai pemilik gym, dia terbiasa mengendalikan segalanya—beban berat, manajemen karyawan, hingga pola makan. Tapi di atas tempat tidur ini, di bawah tekanan tubuh Rio yang lebih muda dan lebih agresif, semua kendali itu lenyap. Dia hanya seorang pria yang sedang dikuliti gairahnya oleh anak tirinya sendiri.
"Nghhh... Rio, please... ahh!"
Rio tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan satu hantaman yang sangat dalam. Jleb! Kontol Rio yang panjang dan berurat menghujam tepat ke titik paling sensitif di dalam lubang pantat Bas. Bas tersentak, matanya terbelalak, dan sebuah teriakan tertahan keluar dari tenggorokannya.
"Ahhh! S-sakit... tapi... hnggh!"
"Sakit tapi enak ya, Pah? Jujur aja," bisik Rio, kini mulai mempercepat tempo.
Setiap dorongan Rio terasa seperti palu yang menghantam saraf-saraf kenikmatan di dalam tubuh Bas. Suara plak-plak-plak dari kulit yang beradu kembali memenuhi ruangan, bersaing dengan suara derit tempat tidur yang terombang-ambing. Bas merasa seolah-olah organ dalamnya sedang diputarbalikkan, ditata ulang, namun rasa penuh yang menyesakkan itu justru memberikan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bas mencoba menggerakkan pinggulnya, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, namun Rio justru memanfaatkan itu untuk mendorong lebih dalam. Rio mengganti posisinya, kini ia menarik pinggang Bas agar terangkat lebih tinggi, membuat bokong Bas semakin menonjol dan lubangnya terbuka lebar, menyambut serangan Rio yang semakin membabi buta.
"Ahhh! Rio! Dalem... hnggh... dalem banget!" Bas berteriak, suaranya kini serak. Dia tidak bisa lagi membedakan antara rasa sakit dan kenikmatan. Semuanya bercampur menjadi satu ledakan panas yang menyengat di bagian bawah tubuhnya.
Rio merasa puncak itu sudah dekat. Dia bisa merasakan dinding-dinding internal Bas menjepit kontolnya dengan sangat kencang, seolah-olah tubuh Bas sendiri yang meminta untuk segera diisi. Rio mempercepat gerakannya, napasnya memburu, otot-otot lengannya menegang saat dia mencengkeram paha Bas dengan sangat kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Aku keluar, Pah... aku mau keluar!" Rio menggeram.
Dengan satu hentakan terakhir yang sangat kuat, Rio menghujamkan kontolnya sedalam mungkin, mengunci posisi Bas, dan menyemprotkan seluruh cairannya ke dalam sana.
"AAARRGHHH!"
Bas berteriak, sebuah lengkingan yang tidak bisa dia kontrol, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dia bisa merasakan cairan hangat dan kental menyembur masuk, memenuhi ruang kosong di dalam dirinya dengan tekanan yang begitu nyata. Rio tidak segera menarik diri; pemuda itu justru menekan tubuhnya lebih erat, mengunci posisi Bas dalam pelukan yang menyesakkan, membiarkan sisa-sisa ejakulasinya mengalir deras di dalam sana.
Hening sejenak menyelimuti kamar itu, hanya menyisakan suara napas mereka yang memburu, saling berkejaran dalam ritme yang kacau. AC yang masih menyala maksimal terasa kontras dengan panas yang membakar kulit mereka yang saling menempel.
Perlahan, Rio menarik keluar kejantanannya dengan satu tarikan panjang yang membuat Bas mendesah pelan. Begitu kontol tebal itu lepas, sebagian cairan putih kental itu meluap keluar dari lubang pantat Bas, mengalir perlahan di sela-sela bokongnya yang putih bersih, menciptakan pemandangan yang sangat vulgar di atas sprei abu-abu yang kini sudah berantakan.
Bas terkulai lemas. Dia tidak punya tenaga bahkan hanya untuk sekadar menggeser posisi tidurnya. Dadanya masih naik turun, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja menyelesaikan sesi latihan cardio dengan intensitas tinggi. Dia memejamkan mata, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercerai-berai oleh serangan mendadak anak tirinya.
"Gimana, Pah? Masih ngantuk nggak?" suara Rio terdengar sangat puas, hampir mengejek namun ada nada manja yang terselip di sana.
Bas tidak menjawab. Dia hanya bisa menghela napas panjang, merasakan sisa-sisa denyutan di lubang pantatnya yang masih terasa hangat dan terbuka. Dia merasa benar-benar lumpuh. Secara fisik, otot-ototnya terasa lemas, dan secara mental, dia baru saja menyadari bahwa pertahanannya sebagai sosok otoritas di rumah ini telah runtuh sepenuhnya.
Rio tersenyum melihat reaksi Bas. Dia tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Dengan gerakan santai, Rio merangkak maju, menciumi bahu Bas yang lebar dan berkeringat, lalu memberikan kecupan lembut di tengkuk ayahnya itu. Tangan Rio yang besar dan kuat kini mengelus pinggang Bas dengan lembut, sangat kontras dengan kekasaran yang dia berikan beberapa menit yang lalu.
"Lain kali kalau tidur jangan pulas-pulas banget, Pah. Bahaya kalau ada 'penyusup' kayak Rio," bisik Rio sambil terkekeh.
Bas akhirnya membuka matanya, menoleh ke arah Rio dengan tatapan yang campur aduk—antara kesal, malu, namun ada percikan gairah yang belum sepenuhnya padam. "Kamu... bener-bener kelewatan, Rio. Apa di kampus kamu nggak belajar cara menghormati orang tua?"
Rio tertawa kecil, suara tawanya terdengar rendah dan maskulin. Dia menarik tubuh Bas agar bersandar pada dadanya, memeluk pria dewasa itu dari belakang dengan protektif. "Di kampus aku mahasiswa teladan kok, Pah. Tapi di kamar Papa... aku cuma Rio yang pengen manja-manja."
Bas menghela napas lagi, kali ini dengan senyum tipis yang tidak bisa disembunyikan. Meskipun kejadian ini sangat tidak terduga dan agresif, ada bagian dari dirinya yang merasa lega. Selama ini, dia selalu berusaha menjaga jarak dan bersikap formal sebagai ayah tiri, namun kebutuhan biologis dan ketertarikan terpendam terhadap Rio ternyata jauh lebih kuat daripada norma yang dia ciptakan sendiri.
"Sstt... sudah, jangan banyak ngeluh," ujar Rio sambil mengelus dada bidang Bas. "Sekarang Papa istirahat lagi. Rio temenin sampai jam sarapan."
Bas merasa tubuhnya semakin tenggelam ke dalam kasur. Rasa kantuk yang sempat hilang kini kembali menyerang, namun kali ini dibarengi dengan rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Dia membiarkan Rio memeluknya, merasakan detak jantung pemuda itu yang masih cepat, menandakan bahwa Rio pun merasakan hal yang sama.
Kamar yang dingin itu kini terasa sangat hangat. Bas menutup matanya, mencoba mengabaikan fakta bahwa dia baru saja "dikerjai" oleh anak tirinya sendiri. Namun, jauh di lubuk hatinya, Bas tahu bahwa ini bukan yang terakhir kali. Rio telah menandainya, mengklaim wilayah yang selama ini tertutup rapat, dan Bas tidak merasa keberatan untuk menyerahkan kendali itu sepenuhnya.

Hot banget
BalasHapus